Sabtu, 06 Oktober 2018

Hijrah itu Mudah Lho!


Assalamualaikum sahabat hijrah  semua. Mulai saat ini saya akan lebih fokus pada konten-konten untuk membantu para sahabat hijrah yang akan hijrah, baru mulai hijrah, dan sudah berproses hijrah untuk lebih memantapkan langkah SaHi (Sahabat Hijrah) dalam memantaskan diri di hadapan Allah SWT.

Pada bahasan di awal ini saya akan memulai dulu dengan membahas bab HIJRAH dan tetek bengeknya, khususnya bab makna dan kisah yang melatarbelakangi sebutan HIJRAH ini.

Oke deh kita mulai saja ya SaHi. 


A.   Makna Hijrah


H         Hijrah secara definisi dibagi  menjadi 2, yakni:


1.  Hijrah secara harfiah yang berarti berpindah

2.  Hijrah secara istilah masih dibedakan lagi menjadi 2 definisi yakni,

a.    Hijrah makani (makani)

b.    Hijrah maknawi (nilai)


Apa itu hijrah makani? Hijrah makani itu artinya bahwa secara fisik kita berpindah tempat dari tempat yang buruk ke tempat yang lebih baik. Contohnya hijrahnya Rasulullah bersama para sahabatnya saat itu dari Makkah ke Madinah (Yastrib-red) karena Makkah saat itu dirasa sudah tidak kondusif untuk Rasulullah dan para sahabatnya menyebarkan dakwah Islam. Begitu juga sebelum kisah hijrah Rasulullah Muhammad SAW ini, ada kisah Nabi Ibrahim yang juga pernah melakukan perjalanan hijrah dari babilon menuju Palestina dan kemudian ke Mesir atas perintah dari Allah SWT.

Selanjutnya Hijrah Maknawi (nilai) ini menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah adalah berpindah dari sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan RasulNya menuju kepada yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan RasulNya.


B.    Momentum Hijrah


Momentum hijrah sebenarnya ditandai dengan kisah perjalanan hijrah Rasulullah Muhammad SAW bersama para sahabatnya dari Makkah meuju Madinah denagn jarak 450km yang ditempuh dalam waktu empat hari empat malam lewat perjalanan darat. Dari sinililah sebenarnya hijrah makani yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya ini juga bermuatan nilai (hijrah maknawi). 


Mengapa demikian? Masih ingat kisah sahabat nabi yang seorang wirausahawan sukses bernama Abdurrahman bin Auf? Siapa yang tak mengenal sosoknya? Dalam berbagai buku siroh betapa beliau digambarkan sosok kaya raya di zamannya. Tetapi, saat memutuskan untuk bergabung bersama Rasulullah dan para sahabatnya untuk berhijrah ke Madinah makan ditinggalkannya seluruh harta kekayaannya. Tak sedikitpun ia bawa. Hingga kemudian Rasulullah SAW mempersaudarakannya (men-taakhi-kan) beliau dengan kaum Anshar yang juga merupakan seorang saudagar kaya di Madinah: Sa’ad Ibnu Sarabil. 

majelis Hijrah Cinta squad


Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa,

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik” (HR. Ahmad)




Hingga kemudian seiring berjalanya waktu Allah menggantikan dengan kekayaan yang semakin berlimpah kepada Abdurrahman bin Auf tersebut.

     Tentu saja momentum kisah hijrah Rasulullah Muhammad SAW ini menjadi awal landasan kita     memahami makna hijrah yang sesungguhnya. Hingga akhirnya tahun ini pun disebut sebagai tahun baru Hijriyah untuk menandai dan mempermudah kaum muslimin mengingatntya.


C.  Allah Meninggikan Derajat Orang yang Berhijrah

      
     Setelah kita tahu makna dari hijrah dan momentum hijrah dari kisah Rasulullah SAW itu bersama para sahabatnya. Apa kemudian yang harus kita lakukan?  

    Sudahkah kita berhijrah sebenar-benar HIJRAH? Atau hanya ikut-ikutan trend saja? Atau masih ada yang pikir-pikir dulu mau berubah? SaHi yang dirahmati Allah, sebelum kita melangkah lebih jauh, yuuk kita coba tadabburi salah satu ayat berikut:


    “Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka,  adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At Taubah; 105)


     Masya Allah, siapa sih SaHiers yang nggak mupeng diberikan derajat lebih tinggi di sisi Allah ketika kita berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri kita? Hayo ngaku nih, diantara kalian para SaHiers adakah yang masih belum ‘move on’ dan pewe dengan keadaan kita sekarang? Nggak usah pake cung jari atau tangan deh, cukup menunduk sedalam-dalamnya dan dijawab dalam hati. Deal ya? 


     Kalau kita mau jujur, kiranya tak ada di antara kita yang bercita-cita ingin masuk neraka, semua pastilah berlomba-lomba ingin mendapatkan surgaNya. Untuk sebuah kapling termewah dan teristimewa bernama surga, tentu saja SaHi harus berusaha bersungguh-sungguh meraihnya. Tak ada waktu lagi untuk pikir-pikir dulu, apalagi menimbang ulang atau bahkan tak bersegera menyambut seruan ini padahal kita mengetahuinya. 


     Kita juga tidak pernah tahu sampai kapan jatah hidup kita ini diberikan Allah untuk kita. Bersyukur jika Allah mengkaruiakan umur panjang kepada kita, jika sebaliknya? Lalu, kita masih begini-begini saja? Trus? Pantaskah kita jadi salah satu penghuni surga?

     Semakin bertambah tahun, bertambah umur, artinya begitu pula dengan jatah hidup kita akan semakin berkurang dan itu artinya semakin mendekatkan kita pada kematian. Ya rabb...

      Seperti yang Imam Hasan Al Bashri katakan,
      “Wahai manusia, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari, setiap hari berkurang, berarti berkurang pula bagianmu”.

     Hayuuk ah, SaHi mumpung masih ada kesempatan segeralah bergegas untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga Allah memberikan kemudahan di setiap jalan kebaikan yang akan kita tempuh. 


     Wallahu a’lam bishowab



     dalam khusyu’ hamdalah, 6 Oktober 2018

0 komentar:

Posting Komentar