Rabu, 25 Juli 2018

Doa dan Rindu dalam Kecap Nikmat Model Ikan Palembang

Hampir setengah hari berkongsi untuk sebuah karya ini. Model Ikan Palembang. Masakan ini saya kenal sejak tahun 2012 yang lalu saat seorang ummahat menyuguhkan di hadapan kami pasca agenda syuro. Sepulangnya, niat dalam hati ingin eksekusi sendiri di rumah dan tentu saja akan lebih leluasa untuk nambah. Hehehehe...😆 
Dan, hari ini setelah sekian tahun lalu akhirnya berhasil mengeksekusi masakan ini lagi. Alhamdulillah, untuk sebuah cita rasa olahan ikan khas Palembang tak mengecewakanlah. Meski harus mengingat-ingat resep pemberian sang empunya bertahun lalu. Puas dengan hasilnya karena bisa dinikmati dengan sepenuh rasa syukur dari setiap kecapan nikmat yang Allah karunikan. 

Sebayang wajah ummahat nan elok tetiba hadir memenuhi benak. Barangkali inilah sebentuk cinta yang Allah hadirkan saat kebersamaan kami dulu. Atas karuniaNya, Allah masih hadirkan gemuruh rasa rindu yang menggebu saat melihat masakan itu tersaji. Hingga sebait doa dan sholawat di jumuah mubarak sejenak coba kami sisipkan di antara deretan doa-doa panjang yang masih saja ingin dikabulkan. 
Ya rabb...kuatkanlah ikatanNya...kekalkanlah cintaNya.
 "Sesunggunya kami mencintainya karena cinta kami kepadaMu"
Masya Allah...betapa kekuatan cintaMu melebihi segalanya.

"Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang tersusun. Jika saling mengenal maka akan bersatu, dan jika saling mengingatkan maka akan berpisah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sampai tepukan lembut dari seorang yang paling ribet menyiapkan bahan-bahan demi model ikan ini mampir di pundak dan berkata,
 "Sudah bisa dimakan kan? Nanti keburu dingin jadi ndak enak lho." 
Diriku...? Tepok jidat deh! 
Saking fokusnya belajar foto2 jadi lupa kalau itu tadi racikan spesial untuk ibuk tercintah...😂😂😂

Berikut resep model ikan Palembang spesial :

Bahan-bahan:

500 gram daging ikan tengiri (atau bisa ikan lain yang sejenis diambil filetnya)
100 gram tepung sagu tani
Tahu yang sudah dipotong segitiga untuk isian

5 siung bawah putih
3 siung bawang merah
lada halus secukupnya
garam secukupnya
100 grm udang segar yang ssudah dibersihkan dan dicincang halus
2 buah bengkoang (sesuai selera)

Cara membuat adonan model:

1.  Takar daging ikan tenggiri yang sudah dihaluskan ,lalu tambahkan 1/2 takar air ( boleh air es ) aduk hingga tercampur rata, tambahkan 1 butir telur, aduk lagi hingga rata, kalau mau bisa tambahkan vetsin sedikit (tergantung selera, khusus yang ini saya hilangkan), tambahkan garam secukupnya aduk lagi sampai rata, tambahkan tepung sagu sedikit demi sedikit hingga tercampur rata. 

Informasi tambahan: misal daging ikan 500 gram bisa ditambahkan sagunya kurag lebih 100 atau 150 gram.

2. Siapkan tahu yang sudah dipotong-potong segitiga.

3. Ambil bahan adonan ( besar kecilnya tergantung selera ) taruh di telapak tangan, lalu pipihkan dan kasih tahu lalu balutkan tahu dengan adonan. Setelah itu, digoreng sampai putih kekuningan lalu angkat.

Cara membuat kuah model :

1. Haluskan bawang putih 5 siung, bawang merah 3 siung, lada halus, udang segar yang sudah dikupas lalu dicincang .

2. Tumis bawang merah dan putih hingga harum, masukkan udang yang sudah dicincang, lalu tambahkan lada. Tumis hingga matang.

3. Didihkan air lalu masukkan bumbu yang sudah ditumis tadi, lalu tambahkan potongan bengkoang (bengkoang dipotong memanjang seperti korek api ), masukkan garam secukupnya dan masukkan model yang sudah digoreg ke dalam kuah, tunggu sampai model yang dimasukkan terlihat mengembang dan meresap. matikan kompor.

4. Model siap dihidangkan di mangkuk saji.

Pelengkap: potongan mentimun, daun bawang seledri, bawang goreng dan cabe.

Selamat Mencoba.

Minggu, 01 April 2018

Filateli dan Cita-cita ke Belanda

Dulu, dulu sekali saat masih berseragam merah putih, tak sengaja menemukan tumpukan album perangko tanpa nama yg ternyata milik bulek yang aktif di organisasi pramuka.

Kisah itu bermula dari sini.

Hingga saya kemudian tahu apa itu hobi filateli. Yang mungkin bagi sebagian orang adalah hobi orang yang kurang kerjaan. Sebaliknya bagi saya, filateli adalah hobi baru menjadi seorang kolektor perangko dari seluruh dunia. Asyik bukan?

Meski tidak memulai koleksi dari awal tetapi saya merasa sangat tertarik untuk melengkapi koleksi demi koleksi yang belum terisi dari album milik bulek. Bahkan saya rela tidak jajan demi membeli album perangko yang harganya lumayan, belum lagi ditambah pinset dan loop (kaca pembesar) sebagai pelengkap ala-ala filateli beneran. Hehehe...

Saya pun juga jadi rajin pergi ke kantor pos untuk 'hunting' dan bahkan hanya sekedar melihat koleksi perangko terbaru dan unik yang dijual khusus untuk para filateli. Selain biasanya kami mendapatkan perangko-perangko unik dari bertukar antar sesama filateli.

Ada beberapa perangko unik kesayangan salah satunya adalah perangko yang kesan gambarnya masih sangat terkenang sampai sekarang. Simple sih, hanya berupa foto kepala seorang wanita yang berpose dari samping. Dan baru kutahu bahwa itu adalah foto dari seorang ratu kerajaan Belanda: Juliana.

Dari sinilah cita-cita untuk pergi ke negara kincir angin ini mulai muncul di benak. Hingga saat ini, keinginan untuk menjelajah ke belahan bumi Allah yang lain ini semakin meluap. Tapi?

Untuk pertanyaan tapi itu, kemudian saya harus banyak berguru pada sang master yang tak pernah lelah bermimpi untuk menjadi penjelajah sejati. Matur nuwun Mbakyu Hiday, pagi itu ku buka chatz WA darimu berupa kiriman foto buku karyaku bersama sekawanan tulip lengkap dengan kincir anginnya. Betapa hatiku mendadak diliputi perasaan hangat, senyum mengembang bersama butir hangat yang kemudian kubiarkan menguap bersama hembusan angin dari lubang nafas. Sembari berucap di kedalaman nurani: "In sya Allah segera akan kujemput impian untuk menemukanmu di sana, tentu dengan seizinNya.

Wallahu a'lam bishowab...


Harmoni malam pekat, di penghujung Maret 2018










Kamis, 15 Februari 2018

Cincin Mahar





“Pemirsa, berita viral kali ini datang dari seorang ibu rumah tangga muda yang mengunggah video curahan hati di sebuah akun youtube pribadinya. Di duga wanita tersebut merasa kesal kepada sang suami yang kerap tak menghargai jerih payahnya padahal ia sudah rela lelah demi mengurus rumah tangga. Video yang berdurasi kurang dari 1 menit tersebut memperlihatkan seorang wanita dengan air muka tampak mendung dan ocehan apa adanya tanpa balutan rasa malu membeberkan pada publik”. Dengan nada penuh dramatisasi sang host acara itu menyampaikan berita curhat ibu-ibu di social media yang menjadi viral.
Sejenak Astuti tertegun dengan berita viral dari acara pagi bertajuk morning-morning happy dari sebuah stasiun televisi tersebut. Seolah mengusik jiwanya. Bukankah saat ini apa yang dialami wanita muda pelaku video viral tersebut sama dengan yang terjadi dengan dirinya saat ini?

Helaan nafas panjang mendadak merasuki rongga alveolinya. Menatap baby Ihsan yang satu jam lalu rewel tak mau disuapi. Semalam hanya tersuplai ASI tanpa henti, badannya sumer dan BAB berkali-kali. Otomatis, hampir semalam suntuk mata Astuti tak bisa terpejam. Begadang. Hingga membuatnya nyaris sholat shubuh kesiangan. Benar saja sarapan yang harus ia siapakan untuk Mas Burhan dan si sulung Iman harus terlambat dua puluh menitan. Iman yang sudah duduk di bangku sekolah dasar tahun ini juga tak ketinggalan ikutan rewel menambah kepanikan di pagi hari yang crowded karena semua minta dilayani.

“Kaos kakiku di mana, Bund?”
“Buku Paket IPA ku kemarin tak taruh di meja belajar kenapa ndak ada ya?”
“Bundaaaaa…Iman lupa kalau hari ini bu ustadzah meminta kami membawa kain perca untuk pelajaran SBK. Gimana dong Bund? Iman takut bilang ke Ayah kalau mendadak begini. Bisa-bisa Ayah marah, Bund.”

Mendadak jarum jam seperti berhenti berputar, memilih prioritas mana yang harus dikerjakan meski wanita adalah makluk multi tasking paling sempurna, tetapi karena semalam energinya habis untuk begadang, membuat atmosfer rumah jadi berbeda. Letih. Tentu saja itu penyebabnya.

Terngiang nasehat ibunda, bahwa jadi ibu itu modalnya cuma satu: sabar. Buru-buru ia menarik nafas sambil berucap istighfar. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyuarakan nyanyian karaoke cuma-cuma kepada penghuni rumah. Keep smile and cooling down, sambil mensabar-sabari diri sembari membantu mencari peralatan si sulung Iman yang teledornya minta ampun.

Belum tuntas melayani si sulung, tangis baby Ihsan pecah terdengar dari ruang kamar sebelah. Buru-buru Astuti menujunya. Membujuk baby Ihsan untuk mau sedikit saja memakan bubur tim yang sudah disiapkan sedari tadi oleh Astuti. Sebagaimana bayi tidak bisa kita kendalikan seberapun kita memegang remote kontrolnya. Ia adalah makhluk kecil yang sedang butuh perhatian. Nempel dan nenen. Hanya dua hal itu yang mau dilakukan setelah Astuti yang sibuk membujuk dengan segala cara.

Dari arah meja makan Iman kembali menciptakan kegaduhan. Masih belum bisa mandiri dengan terus saja bertanya ini itu, di mana letak lauk dan nasi, dan lain-lain, dan lain-lain.
Kehebohannya yang tak berkesudahan memancing emosi Ayahnya yang sedari tadi terlihat berkomunikasi dengan seseorang di seberang sana. Urusan pekerjaaan barangkali. Jika menyangkut satu hal itu, Astuti pun tak berani menginterupsi sang suami. Astuti hanya menguati diri dan mensabari hati dengan memperbanyak istighfar dalam hati.
“Ndak sarapan dulu, Mas? Itu sarapannya sudah siap. Hanya mohon maaf Ihsan lagi rewel jadi ambil sendiri ya.”
“Gimana sih, kamu sih ndak bisa jaga Ihsan makanya dia sampai sakit begitu. Ya sudah aku berangkat sekarang, nanti aku sarapan di kantor saja.”
“Oh iya Mas, itu tadi Iman minta tolong di antar sebentar ke toko souvenir untuk membeli kain perca. Kemarin ada tugas dari sekolah untuk pelajaran SBK katanya. Maaf aku ndak bisa ninggal Ihsan, minta tolong ya, Mas?”
“Ini juga, selalu cari masalah. Awas, jangan diulang lagi!” , bola mata Burhan yang tak begitu besar seakan mau keluar bersama sumpah serapah yang baru daja ditumpahkan kepada sulungnya, Iman.

Burhanuddin Ahmad, seorang akuntan di sebuah perusahaan properti lulusan Universitas Negeri ternama di Jawa Timur. Sembilan tahun lalu laki-laki itu mempersunting Astuti- Astuti Kusumaningati, seorang sarjana pendidikan yang rela meninggalkan pekerjaannya sebagai guru di sebuah sekolah dasar Islam swasta demi ridho suaminya. Burhan dan Astuti menikah tanpa proses berpacaran, ia melalui proses ta’aruf lewat guru mengajinya saat masih tinggal di Malang dulu.

“Kalau masih akhwat itu amal  yaumiyah-nya harus dua ratus persen, lho Dek. Sebab, nanti kalau sudah jadi ummahat jika berkurang pun, sisanya masih seratus persen”. Terngiang kata-kata Mbak Murni, ustdzah pendamping dalam forum pengajian pekanan di kelompok Astuti. Sudah hampir lima belas tahun, tetapi kalimat itu seolah menjadi mantra sakti saat amal yaumiyah Astuti mulai kendor.

Saat ini ia juga sedang diuji. Mas Burhan tidak seperti dulu lagi. Ia tak lagi aktif hadir dalam agenda pegajian rutin pekanan. Beberapa kali Astuti mencoba untuk bertanya dengan pelan dan sabar. Akan tetapi, selalu saja berakhir dengan pertengkaran dan perang dingin tak berkesudahan. Akhirnya hingga detik ini pun Astuti lebih memilih bungkam. Mbak Ningsih guru ngaji Astuti sempat beberapa kali bertanya kepadanya. Tetapi setiap kali ditanya, Astuti tak sanggup menceritakan semuanya, sebaliknya yang tertumpah adalah air mata. Sambil mendekap baby Ihsan Astuti mencoba tegar.

Tetapi, semakin hari perubahan Mas Burhan semakin menjadi-jadi. Bahkan seringkali terdengar Mas Burhan berkata kasar tak hanya kepadanya tetapi juga kepada Iman, anak sulungnya. Astuti pun terus mencari cara bagaimana mengembalikan Mas Burhan seperti masa-masa awal pernikahannya hingga baby Ihsan lahir. Semua berubah, ditambah karirnya di kantor tempatnya bekerja juga semakin cermerlang. Sebaliknya akhlaqnya makin tak jelas arah. “Astaghfirullah…”, berkali-kali Astuti mengucap istighfar.

Uang dan Dunia. Semenatara kesimpulan Astuti mengarah ke dua hal itu. Pagi itu, Astuti habis sudah dimaki-maki lelakinya itu. Hanya karena pengeluaran rumah tangganya menurut Burhan besar pasak daripada tiang. Padahal Astuti sudah menjelaskan bahwa dana sosial dan beberapa kali Ihsan sakit membuat Astuti harus membawanya berobat ke dokter yang membuat pengeluaran tak terduga terjadi. Tetapi Burhan tak mau mendengar penjelasan Astuti, bahkan ia menuduh Astuti boros dan tidak bisa me-manage keuangan keluarga.

***



Berita tentang derita rakyat Palestina dan bombardir yang terjadi di tanah Gaza, menyusul pengumuman Donald Trump menetapkan Yerussalem sebagai ibukota Israel, membuat umat muslim seantero dunia mengucap sumpah serapah melaknat Yahudi beserta Israel dan Donald Trump tentu saja. Begitu juga Astuti, tak terasa air matanya meleleh menyaksikan berita kebiadaban itu.

Pagi itu sengaja ia siapkan semua kebutuhan Burhan, sambil beberapa kali meminta izin dengan pelan agar Astuti diperbolehkan mengikuti munasharah Palestina yang hari ini akan diadakan di silang Monas. Bersama teman-teman pengajiannya ia sudah berjanji akan hadir. Setelah menggunakan jurus rayuan mautnya, Astuti berhasil mengantongi izin dari suaminya itu dengan catatan Iman dan Ihsan tidak diperbolehkan turut serta, bagaimanapun caranya Astuti harus memikirkan solusi ini. Kediaman Bulek Lastri, tetangga rasa saudara menjadi tempat Astuti sejenak menitipkan kedua buah hatinya.

Astuti sudah sampai di silang Monas beserta rombongan teman-teman pengajiannya sesaat setelah acara dimulai. Menderas butiran hangat keluar dari kedua bola matanya yang tak tertahankan. Meski acara baru saja dibuka dengan tilawah, tetapi ia merasakan ruhnya telah terbang ke bumi para anbiya, kiblat pertama umat Islam, Palestina. Seolah turut merasakan penderitaan saudara-saudara sesama muslim di sana. Terlihat Ustadzah Wiwik salah satu tokoh muslimah berorasi. Dengan lantang ia menyuarakan pembelaannya pada bumi yang tertindas sejak lama itu.
“Saudara-saudara, ada 3 alasan kenapa kita berada di sini. Pertama, karena kita manusia. Sebagaimana manusia satu dengan yang lainnya pasti tidak akan sepakat dengan adanya penjajahan di atas muka bumi ini termasuk di bumi Palestina tercinta.
Kedua, karena kita Indonesia. Palestina adalah negara yang pertama kali mengakui dan memberikan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia kala itu.
Dan  yang ketiga, karena kita seorang Muslim. Seorang muslim itu ibarat satu tubuh, jika ada bagian tubuh yang sakit maka seluruhnya akan merasakan sakit, karena itu saudara-saudara kita di Palestina adalah muslim yang wajib kita bela dan jaga kehormatannya sampai titik darah penghabisan.”
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
“Bebaskan Al Aqsha Bebaskan Yerussalem”.
“Tolak Yerussalem menjadi ibukota Israel”.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Pekik takbir menggema memecahkan keangkuhan wajah Jakarta yang hari itu memutih. Astuti bersama dengan teman-temannya pun kemudian ikut menggalang dana. Ada yang tiba-tiba mengiris batinnya. Terbayang wajah suaminya yang kasar, sering uring-uringan dan menguji kesabaran.  Bergantian dengan wajah-wajah kusam, penuh peluh dan debu, wajah anak-anak Palestina berkelebat bergantian dengan wajah lucu dan cerdas anak-anaknya yang masih bisa merasakan makanan enak tiga kali sehari terhidang di meja makan tiap hari.

Pening kepala Astuti, remang-remang dalam pandangannya seulas senyum membersamai, meraih kotak infaq seraya melepas cincin maharnya di sana. Entahlah, saat itu ia tak lagi menggunakan logikanya. Biarlah, ia serahkan semua kepada sang penggenggam hatinya, semoga ujian ini segera berakhir, dan Burhan kembali menjadi seorang suami yang seperti di awal ia kenal.

***



Tangis baby Ihsan seolah menjadi sebuah alarm alami untuknya malam itu, mendadak terbangun dengan nafas terengah dan tubuh berlumuran peluh. Sejenak ia melirik ke jam weker di meja samping pembaringannya. Jam menunjukkah pukul 22.00 WIB, rupanya ia tadi terlelap saat menidurkan baby Ihsan sampai ia lupa belum melaksanakan sholat isya’ di awal waktu. Masih dengan langkah gontai ia berbegas mengecek kamar sebelah. Tampak guratan lelah dari wajah lelakinya yang masih berpakaian lengkap di atas pembaringan. Seketika degub jantungnya berdetak keras, saat mendapati tak ada cincin mahar bertengger di jari manisnya.

SELESAI

Bumi Lamadjang, 15 Februari 2018 

Forum Lingkar Pena (FLP): Cerita Segala Rasa


The big family of FLP Lumajang

Gerakkanlah pena cintamu
Berjuang tak pernah ragu
Dengan kata kau tuliskan segala
Menerangi alam semesta

Terus langkahkanlah kakimu
Bersatu padu terus maju
Genggam erat, pegang teguh selalu
Kobarkan panji kebenaran

Sambutlah masa depan gemilang
Cahaya yang terus memancar
Dari lingkar pena sedunia
Berbakti, berkarya, berarti 

(Mars FLP)

Awal Perkenalan

Forum Lingkar Pena yang biasa disingkat FLP mulai saya kenal sejak tahun 2000-an silam. Lewat majalah remaja Annida saya mengenal FLP yang  identik dengan nama besar kakak beradik Mbak Helvi Tiana Rosa dan Asma Nadia, yang kemudian saya tahu adalah founder sebuah organisasi kepenulisan yang bervisi pencerahan ini.

Gayung bersambut, di tahun 2003 saat diri masih duduk di semester tiga sebuah Universitas Negeri di kota Malang, lewat promo seorang kawan sekampung halaman yang saat itu menjadi kepala suku di organisasi ini akhirnya saya mantap bergabung dengan FLP. Walau niat di awal hanya sekedar iseng-iseng mengisi waktu luang saat tak ada jadwal pulang kampung waktu itu. Sampai kemudian memutuskan untuk mantap bergabung dan rutin menghadiri acara belajar nulis bareng setiap dua pekanan bertempat di sebuah basement Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang.

Menyesal? Tentu. Kenapa tidak dari dulu menjadi bagian teman-teman pengasah pena ini. Hanya perasaan rendah diri masih saja menggerogoti diri yang introvert ini. Bagaimanapun, buku diary jauh lebih mengasyikkan sebagai media mencurahkan isi hati dibanding yang lainnya. Sementara di sisi lain, rasa ingin berbagi teramat besar dari sekedar penikmat sejati. Meski pena diri masih teramat tumpul. Minder minded lebih tepatnya.

FLP Ranting UM was 
Born 

"Domba yang sendirian itu akan dimangsa serigala"

Pepatah ini kemudian menjadi lecutan motivasi untuk menanggalkan ego kesendirian berkawan diary. Sampai pada suatu hari tetiba tanpa bekal apapun, di awal tahun 2005 saya berisiniatif untuk mengumpulkan teman-teman dan membuka FLP ranting di Universitas kami, Universitas Negeri Malang . Setelah berdiskusi dengan para pengurus cabang serta support dari beberapa dosen di jurusan, saya pun mengontak Mbak Azimah Rahayu selaku ketua harian FLP pusat saat itu. Setelah mendapat restu dari ketua cabang dan pusat kami pun akhirnya mulai mengkaji AD/ART dan dengan menggelar rapat singkat untuk mempersiapkan tetek bengek administrasi pendirian sebuah ranting.

Pertemuan singkat yang dihadiri kurang lebih sepuluh orang dan sudah termasuk tiga orang dosen pembina secara aklamasi menunjuk saya menjadi ketua. Tanpa bekal, tanpa pengalaman, dan tentu saja tanpa deretan prestasi karya kepenulisan. Padahal di antara yang hadir beberapa sudah memiliki beberapa prestasi kepenulisan bergengsi. Hanya berbekal semangat dan support yang luar biasa dari bapak ibu dosen beserta teman-teman yang hadir saat itu, saya pun menerima amanah ini dengan bola mata berkaca-kaca. Bismillah, semoga saya bisa. Tekad saya melangit asa.

Ketua Pertama yang Gagal

Dua tahun saya mengemban amanah ini. Sukses? Jangan ditanya. Ukuran sukses itu relatif, tetapi saya merasa saat itu sukses menjadi ketua pertama yang gagal.

Predikat ketua yang gagal memang layak disematkan pada saya kala itu. Di FLP, meski bukan merupakan kesepakatan yang diucapkan, tetapi semacam sudah menjadi sebuah indikator kelayakan bahwa seorang ketua itu 'wajib' memiliki karya (buku) single.

Sementara saya? Dua tahun mengemban amanah  menjadi ketua ranting UM, jangankan satu buku single, sebuah antologi pun belum bisa terealisasikan. Jadi, dengan penuh kesadaran saya mengakui kalau saya memang ketua yang gagal. *hemm...bangganya, sambil tutup muka pake bantal 😂

Bersama itu Terasa Lebih Indah


Foto rangkaian kegiatan launching FLP Lumajang


Dalam rangka rekruitmen anggota baru, atas masukan dari dosen pembina, kami disarankan untuk mengadakan sebuah event kepenulisan. Sebuah event yang bertajuk Gebyar Seni Islami Terkini (GESIT) se-Jatim ini pada kenyataannya tak hanya menggelar kompetisi menulis cerpen saja, tetapi bersama dengan dua lomba lain: cipta dan baca puisi serta lomba nasyid.

Suskseskah? Alhamdulillah, untuk ukuran sebuah FLP ranting yang baru lahir menggelar event besar bahkan sempat mendatangkan pembicara sekaliber Mbak Afifah Afrah kala itu menjadi prestasi tersendiri bagi kami. Heuheu...*kibasjilbab😅

Pun sepadanlah dengan resiko yang didapatkan. Kami kemudian harus menelan pil pahit kenyataan bahwa event besar yang sukses kami gelar itu menyisakan hutang jutaan rupiah kepada salah seorang dosen pembina kami. Jika disebutkan nominalnya, mungkin setara dengan empat hingga lima jutaan sekarang.

Tetapi, di sinilah kemudian kesolidan kami secara internal dalam kepengurusan FLP Ranting UM mulai diuji. Alhamdulillah, dari sini bisa dipastikan hampir semua pengurus tak ada satu pun yang 'cuci tangan'. Kami bersama-sama mulai berpikir cara mengembalikan dana hutang tersebut. Meski bu dosen memberikan pinjaman lunak, tak berarti kami kemudian berpangku tangan dan tak bertanggung jawab. Hingga ide berjualan donat, krupuk dan snack menjadi kesepakatan bersama di antara kami. Kami memasarkan donat, krupuk, dan snack bahkan juga deterjen ramah lingkungan ke seluruh kontrakan dan kos-kosan mahasiswa. Tak hanya di lingkup UM, UB dan UIN pun kita sasar. Tak terkecuali salah satu kampus teknik terkenal, yang sekarang berganti nama menjadi Polinema. Bisa dibayangkan bagaimana letihnya kami mengumpulkan keuntungan berupa receh demi receh yang tak seberapa dibandingkan beban nominal yang ada.

Tiga bulan pertama, keuntungan meski kecil sudah bisa kita gunakan untuk membayar cicilan pertama. Meski uang cicilan tersebut berakhir kita bawa pulang kembali, karena ibu dosen menginginkan uang yang kami kembalikan dalam kondisi utuh. Nah, lho? Mulai putar otak lagi, berpikir kira-kira usaha apa yang bisa meraup keuntungan lebih besar dibandingkan harus jual donat, krupuk dan snack.

Akhirnya, ide itu datang. Dari berjualan donat, krupuk dan snack kami beralih ke usaha persewaan buku cerita dan novel. Maklumlah, saat itu koleksi buku-buku kami lumayan mendukung untuk terlaksananya ide ini. Alhamdulillah, hasilnya lebih membuat kami sedikit bisa bernafas lega.

Hingga tiga bulan berikutnya kami pun mulai kewalahan. Kesibukan di kampus, dengan beberapa pengurus bebarengan sedang memprogram KKN dan skripsi membuat tim kami mulai goyah. Pun saya, KKN sekaligus mengajar di sebuah sekolah dasar Islam swasta. Akhirnya, kami pun membuat kesepakatan baru lagi.  Bagi pengurus yang yang sudah memiliki penghasilan diminta kerelaanya untuk menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka yang tak seberapa untuk membantu kembali mencicil kekurangan hutang yang ada. Bismillah, in sya Allah bisa tekad kami masih membaja meski tak sekuat awalnya.

Yang mengejutkan, dalam waktu enam bulan kami berjibaku mengumpulkan keping demi keping rupiah untuk membayar cicilan sisanya, Allah memberikan sebuah kejutan. Bu dosen cantik nan sholihah yang sudah bergelar doktor itu dengan senyum simpul menolak dan meminta kami untuk menyalurkan dana sisa hutang tersebut ke sebuah lembaga zakat terdekat. Sementara sseparuhnya beliau minta dimasukkan kas FLP saja. Masya Allah...kalau ingat kejadian ini rasanya betapa perjuangannya sampai nangis darah menawarkan donat, krupuk dan snack dari kontrakan ke kontrakan. Menanggalkan malu dan segenap ego yang saat itu mendominasi hati. Belum lagi kondisi ini juga memicu riak-riak kecil di antara kami barisan para pengurus Tetapi, show must go on, begitulah kehidupan. Nampaknya Allah sedang memberikan pada kami ujian praktikum dalam laboratorium kehidupan. Dan saya bersyukur, di FLPlah saya pernah mendapatkannya.

Jika kita mau menghitung-hitung betapa karunia-Nya lebih besar dari ujian yang kita dapatkan. Salah satu hal yang menggembirakan, barangkali kisah ini tak hanya akan menjadi sebuah kisah untuk diceritakan kepada anak cucu FLP mendatang. Lebih dari itu Dia-Nya membonusi kami sebuah ikatan persaudaraan dengan ibu dosen itu hingga sekarang. Masya Allah...syukur yang tak terkira dan terkatakan melebihi rizki berupa materi sekalipun.

FLP Jauh di Mata Dekat di Hati

Hingga di penghujung tahun 2007 saya harus mengakhiri pengabdian saya, mengemban amanah di FLP Ranting UM tercinta. Memilih konsentrasi di dunia pendidikan membuat saya semakin 'jauh' dari FLP. Itu artinya saya pun semakin tidak produktif. Hanya sebuah karya berupa Buku Ajar Aku Cinta Bahasa Indonesia untuk Kelas 5A sukses saya garap dengan penuh perjuangan. Paling tidak lumayanlah untuk menambah informasi dalam kolom karya tulis pada CV saya selain skripsi. *hahahaha...😄

Beberapa kompetisi menulis lokal berupa lomba cerpen dan artikel pendidikan saat saya vakum dari FLP pernah saya dapatkan. Meski saat itu agak kurang serius dengan mengerjakannya pada saat-saat 'injury time'. The power of kepepet, maka jadilah naskah itu saya kirimkan dengan ragu-ragu. Saat itulah saya begitu rindu dengan FLP dan segala hiruk pikuknya saat diskusi karya. Saya pun tersadar, FLP masih menetap di hati saya.

Apalagi ditambah salah seorang ustadz sesama pengajar di sekolah, sebut saja ustadz Darwanto-novelis dan cerpenis kece yang punya nama pena Masdar Zainal ini kembali mengiming-imingi saya untuk kembali aktif di FLP. Hampir setiap ada event FLP di Malang ustadz Wawan, begitu saya biasa menyapanya akrab, selalu mengajak saya untuk hadir, minimal informasi seputar FLP Malang masih sering terdengar. Tapi, entah alasan apa yang saat itu lebih tepat saya kemukakan selain kesibukan yang tak berujung pangkal.

Diskusi Sastra: Awal Cerita FLP Lumajang Ada


Diskusi sastra


Selayaknya kekasih, ada rindu yang menggebu jika lama tak bertemu. Begitulah saya dan FLP. Kerinduan itu seolah menusuk-nusuk kalbu. 


Dapoer Boenda adalah saksi bisu. Malam itu, tepatnya tanggal 12 September 2015 kami menyelenggarakan sebuah diskusi sastra yang diambil dari salah satu novel Mbak Asma Nadia: Cinta Diujung Sajadah. Sengaja diskusi ini kami gelar untuk umum, di sebuah warung yang baru dibuka di kawasan Lumajang kota, Dapoer Boenda.
Setelah sebelumnya kami sebar undangan online lewat sosial media. Alhamdulillah, 10 orang hadir di sana. Tiga perempatnya adalah anggota pengajian yang saya kelola, sementara 3 lelaki sisanya sengaja hadir karena mengetahui undangan ini dari akun FB sahabat Lumajang Bergerak.

Kami yang hadir di sana saat itu tetiba saja ingin menggagas sebuah forum diskusi sastra dan kepenulisan yang berkelanjutan. Minimal menjadi sebuah komunitas pecinta sastra. Pucuk dicinta ulampun tiba, beberapa hari sebelum pertemuan ini berlangsung sebenarnya saya sudah sempat mengontak seorang sahabat lama, penulis juga, dan punya histori menjadi sekretaris saya di awal FLP UM didirikan, Fauziah Rachmawati-Dek Zie begitu saya biasa menyapanya yang saat itu menjadi wakil ketua FLP wilayah Jatim. Setelah disampaikan kepada pengurus wilayah, alhamdulillah tepat di hari Ahad, tanggal 15 November 2015 FLP Lumajang resmi ada secara de facto sekaligus de yure lewat SK kepengurusan yang diantar langsung oleh ketua wilayah saat itu, Rafif Amir Ahnaf. Turut hadir Dek Zie dan Mbak Noer membersamai pak ketua wilayah yang diawali dengan rangkaian turba di malam harinya bertempat di kediaman saya.
Serah terima SK 

Tumpeng FLP 

Esok harinya, bertempat di sebuah warung kembang tempat mangkal teman-teman komunitas Lumajang, Rafif Amir memberikan sambutan yang lebih layak disebut sebagai orasi penyemangat bagi kami para tunas literasi. Sebagaimana yang diberitakan, dengan prestasi yang telah ditorehkan, Lumajang akan menjadi kabupaten literasi. Karena dari rumor yang menjadi viral bahwa kabupaten ini juga dijuluki sebagai kabupaten seribu preman. Menjadi momentum awal bahwa anggapan itu akan kita geser dengan kesiapan melahirkam penulis-penulis besar dari kabupaten ini. Sehingga kelak akan dijuluki kabupaten dengan seribu bahkan sejuta penulis.

Launching FLP Lumajang yang Tak Terlupakan



Launching FLP ditandai pemukulan gong oleh Bupati Lumajang


Hari itu, Ahad, 10 April 2016, di pendopo Kabupaten Lumajang sejarah baru telah ditorehkan. Launching Forum Lingkar Pena cabang Lumajang, diharapkan mampu menjadi organisasi kepenulisan yang siap bersinergi dan bekerja sama dengan pemerintah untuk mendukung gerakan literasi sekolah menuju Lumajang menjadi kabupaten literasi.

Acara yang sebelumnya didahului dengan lomba menulis Feature bertemakan "Ayo Menduniakan Lumajang" untuk siswa SMA sederajat, mahasiswa dan umum ini dihadiri oleh sekitar 200-an orang. Baik dari kalangan pemerintah, pelajar, teman-teman pers, dan organisasi serta komunitas yang ada di Lumajang menambah semaraknya acara Launching yang ditandai dengan pemukulan gong oleh bupati Lumajang, Bapak H. As'at Malik, S. Ag. Turut hadir dalam acara ini seorang writerprenuer terkenal Bapak Dukut Imam Widodo menambah kemeriahan acara Launching FLP Lumajang yang kami gelar.


Berkah Menjadi Tuan Rumah Writing Camp 


Panitia writing camp bersama Mbak Sinta Yudisia

Saat menerima penghargaan sebagai FLP cabang Pejuang 


Gelaran Silatwil (Silaturahim Wilayah) FLP Jatim dengan konsep writing camp di tahun 2016, menunjuk FLP Cabang Lumajang menjadi tuan rumah. Suatu kehormatan dan tantangan yang luar biasa untuk bisa memberikan yang terbaik buat teman-teman FLP se-Jatim.

Memilih destinasi kebun teh gucialit bukan tanpa sebab. View dan suasana yang dihadirkan pesona gucialit sangat pas dengan kebutuhan para penulis.

Hadir pula di sana, sosok penulis nasional sekaligus ketua umum FLP sedunia, Mbak Sinta Yudisia yang juga berkesempatan memberikan asupan energi berupa motivasi buat teman-teman penulis yang hadir saat itu.

Hingga dalam puncak acara writing camp ini, FLP cabang Lumajang sekali lagi mendapatkan amanah sekaligus berkah dengan terpilih menjadi pemenang FLP
cabang pejuang dari berberapa nominator FLP cabang yang terpilih. Alhamdulillah, gerimis hati kami seolah dipenuhi bunga-bunga.



FLP : Tak Sekedar Bisa Nulis dan Buat Buku


Biar bisa jadi penulis. 
Biar bisa punya buku.
Sambil menyelam minum air, siapa tahu bisa ketemu jodoh. 
Dan lain-lain, dan lain-lain


Barangkali itulah sedikit dari begitu banyaknya alasan kenapa seseorang ingin bergabung menjadi anggota FLP. Pun di FLP Lumajang ada banyak yang 'mau' dan 'ingin' bergabung menjadi bagian dari FLP, hanya saja setelah bergabung menjadi anggota tak sedikit yang kemudian memutuskan 'menyerah'.

Banyak hal tentunya yang melatarbelakanginya. Salah satunya ada yang merasa tidak bisa menerima bahwa islam dan sastra tidak bisa disatukan, mereka masih mendikotomikan keduanya. Tak jadi soal, FLP hanya menerima anggota yang benar-benar memiliki komitmen kuat untuk mensinergikan keduanya.

Sebagai organisasi kepenulisan, tentu saja FLP bukan hanya berfungsi sebagai pabrik penghasil para penulis saja. Sebaliknya, penulis yang dihasilkan oleh FLP adalah penulis yang bervisi pencerahan. Karena kami meyakini, bahwa apa yang kami tulis kelak nanti akan dimintai pertanggungjawaban.

Menjadi Mujahid Pena Bekerja untuk 
Keabadian 


Saat karya selesai ditulis, maka itu artinya kita sedang memperpanjang usia.
(HTR)


"Bunda berarti hidup terus ya?". Hidup terus, meminjam dua kata ini dari mas sholih, anak saya yang berusia 9 tahun saat membaca tulisan itu di dinding kamar saya. Tertawa seketika. Kemudian menjelaskan masih dengan senyum dan binar penuh semangat berapi-api. Tentu saja sesuai dengan level pemahannya. 

Sejatinya benar, usia itu memiliki batas. Tetapi dengan kita menulis, seolah kita akan terus hidup. Menjadi penulis adalah bekerha untuk keabadian. Apalagi bersama FLP kami tak hanya belajar merangkai kata, menuangkan kisah ke dalam tulisan semata. Ada kebermaknaan, ada keberartiaan di sini yang kami dapatkan dari jiwa-jiwa penuh cinta atas dedikasi dengan muara tujuan yang tak hanya duniawi sebaliknya visi rabbani untuk tujuan ukhrowi senantiasa terpatri. Terbukti sampai saat ini karya kami selalu memberi sentuhan inspirasi.

Wallahu a'lam bishowab...

SELAMAT MILAD FLP KE-21, KAMI SIAP MEMBANGUN BATU BATA PERADABAN DENGAN KARYA-KARYA YANG MENCERAHKAN. TETAPLAH BERBAKTI, BERKARYA DAN BERARTI UNTUK NEGERI. 

SALAM LITERASI BERKEADABAN! 



#miladflp21#kisahinspiratifFLP






















This entry was posted in

Minggu, 11 Februari 2018

Cermin Kaca Retak (1)



"Apa yang akan kau lakukan pada cermin itu, Rosa?", bisik hatinya penuh tanda tanya.
"Retak, tak banyak yang bisa kau perbuat jika sesuatu itu telah retak", kalimat itu masih saja terngiang dengan jelas di benaknya yang lara, kala itu.
"Memperbaikinya? Itu hanya pekerjaan sia-sia, Rosa!", bisik sisi hatinya yang lain.

Malam itu, ia menjadi manusia paling nekat. Ia persembahkan nalarnya kepada hati nuraninya. Kalah. Akhirnya keputusan untuk pergi dari istana kecil itu menjadi pilihannya.

Berbalut kabut kesedihan, rintik di matanya seakan mendesak untuk segera turun. Meleleh bersama peluh rindu tentang arti kebahagiaan.

"Apakah Tuhan sedang tidur nyenyak?",ia mulai putus asa, berhenti pada sebuah tanya retoris yang membungkam sisi lain ketahuidannya selama ini pada fase perkenalannya dengan Tuhan.
Mendadak, lamunannya buyar. Terbayar dengan kekagetannya pada bunyi bising klakson bus malam yang ia tumpangi.

***

Rosdiana Kusumaningati, keluarga, tetangga dan teman-temannya sering menyebutnya, Rosa. Semasa sekolah ia bukan termasuk siswa yang populer. Biasa saja. Bahkan, mungkin tak banyak yang mengenal sosoknya.

Berbalik seratus delapan puluh derajat saat ia mulai duduk di bangku kuliah. Seolah menjelma menjadi sosok yang sangat kontras. Dengan penuh kesadaran, sosok yang sebelumnya sangat modis ini mendadak memutuskan mengenakan gamis dan jilbab lebar yang tak lagi 'up to date' di zamannya. Semua bukan tanpa sebab. Cahaya hidayah dengan susah payah ia coba raih, hingga kemudian sejenak berhenti. 'Mahabbatullah', ya satu kata itu yang kemudian menyeretnya menjadi pribadi yang hingga kini masih tertatih-tatih untuk ia gapai.

"Menggapai cintaNya yang hakiki, mengapa nampak begitu berat?", seringkali ia meracau tak jelas akan pergulatan dalam batinnya. Hanya karena persembahanNya yang ia anggap tak pernah mungkin akan terjadi di kehidupannya kini.

Retak. Ia terpenjara dengan keretakan yang tercipta. Entah apa namanya, yang ia tahu tiba-tiba beberapa opini menyebutnya demikian, pun hati nuraninya mengiyakan.
Retak. Hanya ada dua pilihan. Membawanya pada ritme gelombang teta, atau sebaliknya membiarkannya berada pada kondisi beta, menjadi kepingan yang tercecer, tercerai beraikan.

Bersambung...

Sabtu, 10 Februari 2018

Belajar Bersyukur Ala Kids Zaman Now



Pasukan majelis sholihah perindu surga bersama Kak Hadi 


Selalulah bersyukur,karena semakin bersyukur Allah akan menambah nikmatNya.

 (S. Hadi Wasito)



Sore itu, meski Lumajang di dera hujan deras tak menyurutkan langkah kami, para pasukan majelis sholihah perindu surga untuk melangkahkan kaki menuju kediaman Kak Hadi-begitu kami diminta untuk menyapa pemilik nama lengkap S. Hadi Wasito agar terdengar lebih awet muda. Harapan kami setinggi langit di angkasa, berharap jejak-jejak langkah kami menjadi wasilah kelak bisa berhimpun di surgaNya. 

Sesuai dengan rencana, bahwa agenda majelis/liqo' outdoor sebulan sekali ini akan kita ganti dengan berkunjung ke kediaman seorang tokoh inspiratif sekaligus motivator para pemuda di Lumajang ini. Bukan tanpa sebab memilih Kak Hadi Wasito menjadi tujuan kami. Seorang pemuda asli Lumajang yang dikenal penuh semangat dan pantang menyerah ini diharapkan mampu memberikan suntikan energi bagi generasi milenial yang suka mengeluh. 

Hampir pukul setengah lima sore setelah pasukan lengkap berkumpul (minus Amanda dan Helfin yang berhalangan hadir), kami berangkat berombongan menggunakan kendaraan Bunda Nadia yang dengan sukarela mengantar kami menuju kediaman Kak Hadi. Tak terkecuali para bunda yang lain, semangat mereka melebihi anak-anaknya. Terbukti sejak siang sudah pada heboh tanya bingkisan apa yang mau dibawa dan diberikan untuk Kak Hadi, bahkan ada yang ingin membersamai anak-anak mereka. Masya Allah...Dan ini terbukti bahwa support orang tua sangat mempengaruhi semangat kehadiran ananda sore itu. 

Mbak Firda nampak menyerahkan bingkisan yang sudah ia persiapkan sejak pagi kepada Kak Hadi

Hampir pukul lima kurang saat kami sampai di depan gang masuk rumah Kak Hadi. Menyusuri jalan gang sembari bercengkrama ditemani rintik hujan menambah syahdu agenda majelis sore itu. Sesekali berdoa dalam hati sembari menyebut satu persatu nama yang sudah mulai mengisi hati, agar dilimpahi keistiqomahan hingga akhir nanti. 

Alhamdulillah, setelah beruluk salam dan berjabat tangan dengan ibunda beliau kami pun dipersilakan untuk duduk di di ruang tamu beliau yang ternyata sudah disiapkan setandun pisang dan cemilan, ditambah setelahnya pohong goreng plus teh hangat semakin menambah hangat suasana. 

Saya pun kemudian memohon izin untuk membuka acara sore itu. Binar penasaran tampak dari wajah unyu-unyu para anggota majelis yang rata-rata masih duduk di kelas 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Lumajang itu. Kak Hadi memulai perkenalan singkatnya dengan menayangkan beberapa video profile singkatnya yang pernah dimuat di beberapa stasiun televisi. Wajah unyu-unyu itu dengan berbagai ekspresinya semakin takjub dengan tayangan yang baru saja mereka saksikan. Celetuk salah satunya pun kemudian membuat saya membantu memberikan jawaban. 

Kak Hadi saat memperlihatkan video profilenya 


Seorang difabel dengan vonis celebral palsy, tak menyurutkan Kak Hadi untuk terus memberi warna dalam kehidupan ini. Berbagai aktifitas seperti aktif di Mapala, Pramuka, berbagai organisasi sosial dan kepenulisan juga beliau ikuti. Sering diundang ke sekolah-sekolah, yayasan, bahkan forum pengajian tak luput membuat beliau dinobatkan menjadi seorang motivator. 

Setelah memperlihatkan beberapa tayangan tentang profil beliau, Kak Hadi memulai forum dengan sebuah pertanyaan yang membuat saya takjub. Sebuah pertanyaan tentang cita-cita mereka. Dari delapan orang yang hadir, 4 orang bercita-cita menjadi dokter dan dokter spesialis, 2 arsitek, 1 perawat dan seorang lagi bercita-cita menjadi bu camat. Masya Allah...

Yang menarik, saat Kak Hadi memberikan umpan balik sebuah pertanyaan menggelitik tentang cita-cita yang mereka ungkapkan baru saja. Apakah memang cita-cita itu benar-benar cita-cita yang ingin mereka raih? Sekedar gaya-gayaan (prestise) atau bahkan malah karena sekedar ikut-ikutan teman agar terlihat keren dan mentereng. Alhamdulillah, keraguan Kak Hadi dan tentu saja saya yang sore itu ikut deg-degan membersamai mereka menunggu-nunggu jawaban ini. 
Apalagi saat Kak Hadi bertanya, "Untuk apa sih kalian memiliki cita-cita itu?" Spontan dari wajah polos mereka pun menjawab dengan penuh keyakinan: untuk membahagiakan orang tua. Barakallahufiik...

Ekspresi ananda saat menyimak video profile Kak Hadi

Special moment kali ini memang lebih banyak diisi dengan diskusi dan tanya jawab. Di akhir sebelum sesi penutup, Kak Hadi meminta masing-masing dari adik-adik untuk menyanpaikan kesan-kesannya. Hampir semua berkomitmen akan menjadi pribadi yang lebih baik, muslimah yang pantang menyerah dan senantiasa mensyukuri nikmat yang telah Allah beri dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berusaha untuk mengoptimalkan potensi, tidak hanya belajar yang disukai tetapi sebaliknya berusaha untuk memberi ruang dengan menyukai pelajaran di sekolah yang tidak disukai. Bagaimana caranya? Memulai dengan menyukai pengajarnya (baca: guru), sambil malu-malu curi pandang ke arah saya karena hampir rata-rata mereka tak menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Heuheuheu...

Termasuk memberikan porsi utama bukan waktu sisa untuk hadir dalam forum majelis pekanan adalah upaya bersyukur itu sendiri. Sehingga ada keseimbangan antara porsi duniawi dan akhirat sebagai bekal untuk kita kembali. Begitulah closing statement yang cukup manis dan mengandung hikmah dari Kak Hadi. Kenyang kami dengan segala motivasi yang tak hanya terurai lewat lisan dan laku, tetapi juga yang tersirat dari hati sampai ke hati-hati kami agar sepulangnya dari sini akan terus melangitkan syukur atas segala nikmat yang tak terukur. 

Beginilah sore ini kami para generasi milenial kids zaman now belajar tentang sebuah arti kata syukur, belajar lewat ayat kauniyahnya yang dititipakan lewat Kak Hadi hingga kemudian kita menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah Allah beri. Doa robithoh, hamdallah, istighfar yang kemudian disempurnakan dengan doa kafaratul majelis, kami pun menutup acara sore ini diiringi orkestra gerimis yang masih tercipta. Salam penutup dibersamai dengan pamggilan adzan maghrib yang segera kira sambut. 

Narsis time di akhir acara


Wallahu a'lam bishowab...


Di Februari ke-9, masih dari bumi mahameru tercinta tulisan ini dibuat sehari setelah agenda silaturahim ini dilaksanakan dan in sya Allah masih belum terlalu terlambat. 

Kamis, 08 Februari 2018

Kopi Susu Cinta untuk Spensalu


"Belajar itu bisa dari siapa pun, termasuk dari para generasi milineal Spensalu yang memiliki semangat menggebu"
 -bundnoviquotes-

Pagi itu, 3 Januari 2018 saya diminta untuk membersamai para tunas bangsa SMPN 1 Lumajang  atau biasa disebut Spensalu- sebutan kekiniannya- dalam rangka belajar bersama. Sebagai salah satu sekolah negeri unggulan di Lumajang, saya sangat tersanjung mendapat kesempatan tersebut. Jarang-jarang ya penulis yang masih newbi dan apalah-apalah ini mendapatkan kehormatan untuk membersamai siswa-siswinya belajar bersama seperti ini. Seulas senyum dibumbui ucapan hamdallah yang mengkristal dalam dada tak lagi membersitkan tanya, tersebab hanya Allah yang tahu jawabnya.

Setelah sepekan sebelumnya dikontak salah seorang guru Bahasa Indonesianya, sebut saja Bu Okta, akhirnya kami bersepakat forum yang apapun itu namanya akan dilaksanakan di awal ananda masuk sekolah. Atas masukan Bapak Yusuf selaku kepala sekolah pun akhirnya gelaran hari itu pun terlaksana.

Disambut hangat kepala sekolah dan beberapa guru membuat hati saya mengharu biru. Sengaja saya hadir setengah jam lebih awal untuk mempersiapkan segala hal, termasuk ma'rifatul medan. Sambil menunggu show time, saya teringat bahan presentasi saya yang nampaknya membutuhkan asrot (asisten sorot). Tanpa ba bi bu, Bu Okta yang sedari tadi membersamai, saya minta untuk berkenan menjadi asrot yang saya butuhkan. Saat itu juga, segera saya ambil laptop dari dalam tas ransel, membukanya di hadapan Bu Okta dan menunjukkan sekaligus menjelaskan beberapa hal yang kira-kira saya nanti membutuhkan bantuan beliau. Saat akan menjelaskan, shock seketika saya melihat presentasi yang tadi shubuh baru selesai saya kerjakan belum ter-save dengan sempurna. So, jadilah beberapa ayat yang saya kutip kosong melompong. Oh, no!

"Tenang...tenang...", begitu saya mensugesti diri saya sambil bernafas dalam-dalam dan menghadirkan senyum terbaik kemudian bergegas melirik ke arah jarum jam di dinding ruang lobi sekolah tempat saya berada. Bismillah...kurang 5 menit lagi saya harus menuju ruangan setelah beberapa menit yang lalu bersamaan dengan utak-atik si lepi (panggilan kesayangan untuk laptop tercintah saya yang telah banyak berjasa) Pak Yusuf menyampaikan beberapa pesan sponsor terkait materi yang harus saya sampaikan beserta goal output yang ingin dicapai pihak sekolah.
"Saya ingin anak-anak termotivasi setelah mendapatkan materi panjenengan", ucap beliau singkat tetapi syarat makna.
"Kalau kemarin kami sudah adakan workshop menulis, saat ini saya ingin anak-anak mendapatkan kesan secara psikologis", imbuhnya dengan penuh kesungguhan.
Saya menatapnya utuh, berharap ada energi keyakinan saya manpu menembus dadanya. Wokee deh...mari kita kemon.

Jam 9 tepat, saya menuju ruang aula yang lebih mirip laboratorium yang sementara beralih fungsi sejenak menjadi aula. Di sama saya sudah disambut bu guru kece yang berkenan menjadi MC saat itu. Siapa lagi kalau bukan Ibu Chusnul Khotinah yang juga pengajar Bahasa Indonesia sekaligus pembina ekskul sastra. Wooow...keren. Etapi...saat awal memasuki ruangan ada sesosok wajah yang begitu saya kenal, meski kerutan di wajahnya mulai kentara ditambah kilauan putih yang nampak menghiasi beberapa bagian rambutnya, seolah gambaran sosok itu masih tersimpan dalam long term memory saya. Pak Gangsar, begitu beliau dikenal, seketika saya menyapanya penuh takzim.

Begitu juga dengan Bu Chus, panggilan akrab guru BI kece tersebut. Setelah memperkenalkan diri dan mempersilkan saya duduk, beliau pun kemudian tancap gas memulai acara. Hingga masuk ke acara inti saya membawakan ice breaking untuk memecah kebekuan. Alhamdulillah dari sekitar 50-an peserta yang hadir merupakan perwakilan dari ekskul sastra, OSIS, pengurus kelas dan sekolah semuanya begitu antusias mengikuti acara ini sampai selesai.

Saat itu saya membagi waktu saya menjadi 3 sesi:

1. Sesi Motivasi Menulis

2. Sesi Merobek Buku (baca: Bedah Buku)

3. Sesi Tanya Jawab.

Hanya ternyata dari 2 jam waktu yang disediakan buat saya saat itu serasa begitu cepat dan singkat dibandingkan semangat anak-anak yang begitu menggebu-gebu.

Bahkan saat sesi tanya jawab dan give away, ketakjuban saya semakin menjadi-jadi. Betapa jawaban mereka di luar ekspektasi saya saat itu. Hampir dari beberapa kali event bedah buku Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu (CSKSS) pertanyaan seragam selalu saya dapati. Seperti ini,
"Lho Bund, itu judulnya apa nggak kebalik?"
"Bukannya harusnya susu itu manis, kopi itu pahit ya".
Dan beragam pertanyaan serupa yang hampir seragam.

Begitu pertanyaan ini saya ajukan saat sesi give away. Empat jempol buat ananda Nabila dan Harun Al Habsyi yang menjawabnya nyaris sempurna. Goodjob, Nak! Bunda bangga kepada kalian. Seperti kalimat yang pernah dikatan oleh sahabat Umar Bin Khattab,

Ajarkan sastra kepada anak-anakmu karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.


Maka, di akhir sesi terimalah persembahan susu dan kopi cinta dari bunda dengan segala kekurangan dan kelebihannya, semoga ada manfaat yang bisa kalian ambil dan aplikasikan dalam kehidupan. 

Ku rangkai rindu sejak awal bertemu
Bahwa orang-orang baru selalu datang dan pergi dalam kehidupanmu
Bukan tanpa sebab ianya ada
Semoga tersimpan hikmah dalam tiap aksara
Meski diri tempat segala alpa dan lupa





Wallahu a'lam bishowab...

Bumi nararrya kirana dalam dekap aksara ketujuh di tahun 2018.

Meski terlambat, semoga masih up to date...

Terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh keluarga besar Spensalu, special thanks to Bapak Yusuf selaku Kepala Sekolah, "Terima kasih atas pengalaman yang sungguh teramat berharga ini, semoga dari Spensalu lahir penulis-penulis yang berbudi". Aamiin....