Rabu, 31 Januari 2018

Sandal Jepit


Foto diambil dari google 

Aku adalah seorang petualang karena aku suka tantangan, walaupun sebenarnya hidupku penuh rintangan. Sejak aku dilahirkan, nasib baik seolah-olah enggan untuk datang pun hanya sekedar berkenalan. Hingga usiaku saat ini menjelang 20 tahunan, tak kunjung kutemukan keberuntungan.

“Nasib... nasib...", batinku diam-dian kemudian. Entahlah, aku berharap ada sebuah perubahan ya... sebuah perubahan besar dalam kehidupan.

Babak baru segera dimulai. Keberuntungan pertama, aku lolos tes masuk sebuah PTN ternama di Jawa Timur yang mungkin buat sebagian orang itu hal wajar. Tetapi, tidak buatku. Hari-hariku kumulai dengan hidup dan semangat baru di sebuah kampus biru.
Keberuntungan berikutnya, aku berjumpa dengan seseorang baik hati. Dia yang mengantarkanku hingga sampai di sini, menjadi ta’mir sebuah masjid kampus yang asri. Dia tak pernah kukenal sebelumnya, tetapi wajahnya yang teduh seolah-olah aku pernah mengenalnya.

Entahlah, mungkin itu hanya imajinasiku saja. Atau..., memang sengaja aku dipertemukan olehNya. Selanjutnya, aku lebih suka menyebutnya lelaki bermata surga.

Sejak saat itu, aku pun mulai percaya bahwa aku akan berubah dan bisa berubah menjadi orang yang dikelilingi keberuntungan. Kuhapus semua memori menyakitkan di masa lalu, tepatnya tentang semua nasibku. Kususun kembali puing-puing harapan, cita-cita, dan mimpi-mimpiku tentang masa depan yang sempat terpuruk di reruntuhan keputusasaan.

***
“Hidup Joko!...maju terus, Jok!” Sorak sorai Aremania memekik, mengharu biru menambah gegap gempita gelanggang olah raga Tambak Sari Surabaya menyambut kemenagan Arema atas Persebaya setelah sang ‘backer’ – Joko Suryanto- berhasil membobol gawang persebaya dengan perolehan skor 1-0.

Aku, Joko Suryanto, seorang ‘backer’ Arema hari ini melangkah pasti dengan kaki berbalut ‘adidas’ asli bukan tiruan yang baru kubeli sebulan lalu dari hasil royaltiku selama menjadi ‘back’ di Arema.

“ Prestasi yang sungguh mengagumkan!, lagi-lagi aku menjadi bintang lapangan”. Aku bergumam sendiri tanpa seorang pun bisa mendengar.Ada perasaan dan getar yang kurasakan di sini. Di dada ini. Tepatnya, di dalam hati ini.

“Ayo!...ayo Arema!, hari ini kita sudah menang!”. Lagi-lagi Aremania tak henti-hentinya meneriakkan yel-yel kebanggaannya. Aku pun tersadar ketika tiba-tiba kaki ini tak lagi menginjak tanah. Karena aku kini dipanggul oleh salah seorang suporter Aremania.

Baku hantam antar suporter tak lagi dapat dihindarkan. Aku pun kini berada di antara kerumunan masa.

***
“Maaf Pak, hari ini bapak ada dua agenda yang harus dikerjakan. Pertama, agenda rapat dengan dewan komisaris pagi ini sebelum ‘lunch’. Berikutnya, tepat setelah rapat berakhir, anda harus segera menuju ruang lobby hotel Hyatt, tepatnya di lantai sembilan untuk menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan interior asing dari Perancis. Cukup itu saja agenda bapak hari ini, kecuali kalau bapak berkenan mengajak saya makan malam nanti. Bagaimana, Pak? Perlu di agendakan?”. Mery, sekretarisku itu selalu saja bersikap seperti itu setiap mengingatkan agenda kerjaku. Seperti hari ini, tak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tetap genit dan selalu cari-cari perhatian dan kesempatan.

“Baiklah, tolong nanti saya di ‘calling’ lagi ya?”, aku mencoba untuk bersikap wajar kepadanya. Seperti biasa, dingin...
Sebelum rapat dengan dewan komisaris nanti, pagi ini aku ingin sekali meregangkan syarafku untuk sekedar bersantai di ‘coffeshop’. Kulangkahkan kakiku yang berbalut ‘osh cosh’ yang baru kubeli tiga bulan lalu saat aku jalan-jalan ke Jepang dengan ringan meninggalkan Mery sekretarisku yang tetap berdiri bengong di hadapanku untuk menuju ‘coffeshop’.

‘Historia De Lin Amor’ mengalun dengan syahdu. Romantis dan ekslusif. Ditambah dengan interior ‘lighting’ yang tak terlalu terang. Tak lama kemudian, syarafku sudah mulai renggang, setelah sempat tegang karena semalaman aku lembur untuk menyelesaikan proyek penanggulangan sampah kota yang mulai meresahkan masyarakat dengan membuat sebuah alternatif desain ‘real estate’ ramah lingkungan yang tentunya dengan harga terjangkau di pasaran. Selain itu, hari ini aku juga harus menghadap dewan komisaris. Lengkap sudah penderitaanku. Tapi jujur, aku sangat menikmati.

***
Awan yang sedari tadi tampak tersenyum, kini bersedih. Seketika mendung hadir menyelimuti. Pemilik siang tak kuasa menolak keinginan sang Khaliq tuk segera memenuhi kewajibannya. Titik-titik air hujan pun kemudian menari-nari, tariannya mampu membasahi pelosok negeri.

Aku yang sedari tadi duduk bersandar dan melamun di beranda masjid kampus segera tersadar. Di tengah-tengah kantuk berat yang kurasakan, teriakan seseorang yang suaranya tak asing lagi kudengar membuat aku langsung terbangun tanpa terjaga. Seseorang itu tidak lain dan tidak bukan, sahabatku lelaki bermata surga itu.

“Woiiiiiiiiiiiiiiiii!.....banjir!....banjir!, cepat selamatkan sandal-sandal dan sepatu-sepatu itu! Cepaaaaaat!”
“Joko!, Joko kamu dimana? Ayo cepat bantu aku , Jok! sebelum semuanya terbawa air”.
Tetapi, sungguh terlambat. Berpasang-pasang sepatu dan sandal ber-merk itu sudah terbawa arus air yang memang sangat deras. Hanya satu yang terselamatkan, sebuah sandal jepit usang berwarna merah yang sangat ku kenal. Ya..., sandal jepit itu milikku. Tak salah lagi, itu punyaku...
“Ya, Allah ...ya robb”. Pekikku kemudian,segera kupungut sandal jepit merah usang itu.

Aku kembali menangis, ketika lelaki bermata surga itu menghampiriku. Ia menyodorkan tiga lembar dua puluh ribuan kepadaku sebagai imbalan kerja kerasku selama sebulan menata sepatu dan sandal di masjid kampus. Seketika sekelebat bayangan bapak yang sedang mengayuh becak di kampung melintas di depanku, disusul kemudian emak. Dengan tangan keriputnya ia tetap terjaga dalam tidurnya untuk tetap bertahan menjadi seorang buruh cuci demi kelangsungan hidupnya. Sementara aku,....sudahlah aku tak mau melamun lagi.

SELESAI

*cerpen zaman old yang pernah saya tulis kala itu...




0 komentar:

Posting Komentar