Rabu, 31 Januari 2018

Rumah Baca Pelangi (Rumah Berbagi Manfaat dan Inpirasi)




Assalamualaikum bunda sholihah perindu surga,

Hari ini tetiba saya ingin bercerita tentang sebuah rumah baca yang pernah saya dirikan pada awal tahun 2014 yang lalu. Rumah Baca Pelangi, begitu saja saya spontan memberi nama dan baru kemudian baru mencari makna filosofinya.
Rumah Baca Pelangi atau RBP biasa anak-anak di sekitar rumah menyebutnya.

Dari RBP ini kemudian menjadi rumah kedua bagi anak-anak menumpahkan segalanya. Bahkan keluh kesah sekalipun, seolah rumah ini tak pernah sepi dari aktifitas berbagi apa saja. Hingga dari sinilah kemudian inspirasi itu selalu berdatangan untuk kami sambut menjadi sebuah program kemanfaatan.

Cita-cita Lama yang Baru Tereksekusi 

Memiliki sebuah rumah baca sederhana di rumah sendiri adalah cita-cita saya sejak lama. Tetapi cita-cita ini kemudian menguap begitu saja tanpa eksekusi nyata. Kesibukan mengajar adalah kambing hitam untuk alasan mendasar dari tidak terealisasinya cita-cita ini. Hingga tumpukan buku-buku yang tak lagi muat dalam lemari menambah semangat saya kemudian berkobar lagi. Ditambah kondisi saya yang saat itu baru resign dari sebuah sekolah dasar swasta di Malang tersebab harus menjalani operasi pasca tragedi kecelakaan yang saya alami.


Penampakan Rumah Baca Pelangi sebelum acara pembukaan 





Meringkuk di atas kursi roda, berangsur saat mulai menjalani fisioterapi hingga kemudian diperbolehkan menggunakan kruk sebagai alat bantu untuk melatih kaki saya secara bertahap agar bisa berjalan lagi. Sugguh, masa-masa ini adalah masa-masa membosankan yang pernah saya alami dalam kehidupan saya. Terbiasa beraktifitas di luar rumah membuat saya mengalami 'stress' luar biasa saat harus mendekam di dalam rumah. Kegiatan sehari-hari hanya seputar 3K (Kamar Tidur, Kamar Mandi, dan Kamar Makan) saja, tak lebih. Tetapi saya tak pernah menyesal pernah berada pada fase ini, terus berusaha melangitkan syukur atas segala limpahan nikmat yang telah Allah beri. Energi itulah yang kemudian membuat saya bangkit dari keterpurukan dan kesedihan atas skenario Allah ini untuk kemudian bergerak memberikan kemanfaatan sebelum terlambat. Hingga kemudian, tercetuslah ide untuk membuka rumah baca untuk anak-anak di sekitar rumah orang tua saya.

Dari Tumpukan Buku Hingga Keresahan Terhadap Lingkungan Tempat Tinggal









Selama pindah dari rumah kontrakan pertama sampai pindah ke rumah sendiri saat masih berkeluarga di Malang dulu, barang yang paling dominan adalah buku.
Keberadaannya dari hari ke hari bukannya berkurang, sebaliknya terus bertambah. Pun saat harus boyongan ke rumah orang tua yang ada di Lumajang, hampir satu kendaraan sendiri isinya hanya buku. Seperti biasa orang rumah selalu mengusulkan untuk dibawa ke tukang loakan untuk dijual karena tempat tak lagi muat untuk menampung semua buku-buku koleksi saya dan almarhum suami saya itu.

Dari sini kemudian saya berpikir untuk membukan rumah baca agar kemanfaatannya bertambah. Untuk masalah tempat (rak buku) yang memang yang masih terbatas saat itu, tiba-tiba saja terbersit untuk membuat sebuah proposal pengajuan bantuan dana untuk rumah baca ini. Alhamdulillah, solusi ini pun bisa teratasi hingga beberapa  donatur dari teman-teman lama bisa saya dapatkan dengan saya menyebarnya melalui sosial media.




Lagi-lagi ide ini selain karena tumpukan buku yang saya inginkan termanfaatkan dibalik itu saya juga punya alasan kuat kenapa saya begitu semangat untuk membuka rumah baca di sekitar lingkungan rumah orang tua saya. Hanif, putra semata wayang saya yang saat itu berusia 6 tahun hari-hari berinteraksi dengan anak-anak kampung yang sangat beda dengan kondisi anak-anak di rumah tempat tinggal kami di Malang yang notabene adalah sebuah kompleks perumahan dengan latar belakang orang tuanya rata-rata berpendidikan.

Sebaliknya, di lingkungan baru ini si sholih, begitu selanjutnya saya menyebutnya tidak bisa kemudian kita sterilkan (kurung di dalam rumah) untuk tidak berinteraksi dengan anak-anak sekitar. Sementara, saat berinteraksi, banyak hal baru bahkan kosa kata baru yang tak layak diucapkan anak seusianya kemudian menjadi hal biasa yang ditiru oleh si sholih saat itu. Astaghfirullah...

'Ujug-ujug' mendatangi si anak dan menasehati untuk satu dua kali mungkin adalah cara yang bisa ditempuh meski tak bisa ampuh bertahan di benak anak-anak. Hingga dari sinilah kemudian saya sangat bersemangat untuk segera merealisasikan cita-cita lama saya agar menjadi kenyataan. Dreams come true...

Setelah mempersiapkan segala sesuaty termasuk proses perizinan ke ketua RT dan RW akhirnya rumah baca siap dibuka. Dan kami memberi nama Rumah Baca Pelangi.

Rumah Berbagi Manfaat dan Inspirasi 


Bapak Kukuh selaku seklur meresmikan pembukaan RB


Alhamdulillah, rumah baca pelangi yang diresmikan oleh bapak sekretaris kelurahan saat itu berjalan dengan lancar dan menggembirakan. Rangkaian acara baksos kesehatan, sulap sains, dan aneka games kami suguhkan tak hanya untuk anak-anak tetapi orang tua meraka pun turut kita undang.




Hingga kemudian saya tak sengaja menemukan inspirasi dari nama pelangi yang spontan saya sematkan sebagai nama rumah baca ini. Ya, pelangi berarti perbedaan dimensi warna yang kemudian menghadrikan keindahan. Begitu pula dengan rumah baca pelangi, saya berharap bahwa kelak akan menjadi rumah bagi siapa saja tak peduli tingkat sosial, suku dan agamanya. Tetapi dari sinilah kemudian kami akan melahirkan keindahan dari pribadi-pribadi anak negeri. Dan demi cita-cita ini tentu saja akan diwarnai perjuangan dan pengorbanan.

Hingga sebulan pasca RBP ini diresmikan dari hari ke hari jumlah anak-anak yang berkunjung makin berkurang. Perjuangan pun dimulai. Menjemput mereka satu-satu ke rumah masing-masing pernah saya lakukan. Hingga memberikan program bimbel mapel gratis dan acara-acara insidental yang menarik minat mereka di hari libur seperti sains club, cooking class, lomba cerdas cermat kemudian membuat anak-anak semakin merasakan manfaat dari RBP ini. Pun saya, hari-hari saya selalu penuh keceriaan membersamai mereka. Celoteh khas anak-anak begitu saya rindukan sama seperti lima tahun yang lalu saat saya masih mengabdi menjadi seorang pengajar di sebuah SD Islam swasta di Kota Malang. Dalam hati saya berdoa, semoga ke depan RBP ini semakin memberikan manfaat dan inspirasi.







Penampilan yang Memukau dari Anak-nak RBP Saat Gelaran Pentas Seni Kemerdekaan RI

Selain perjuangan, selanjutnya pengorbananpun dimulai. Hal ini berawal dari mengakomodir keinginan anak-anak yang ingin tampil di acara pentas seni tingkat RW. Miris terkadang melihat seusia mereka disuguhi pertunjukan yang tidak ramah anak. Sebenarnya ide untuk menyampaikan uneg-uneg ini sudah sejak lama saya pendam untuk kemudian saya coba sampaikan secara baik-baik ke pak RW beserta alternatif solusi pertunjukan yang juga sudah saya siapkan. Dan alhamdulillah, masukan saya diterima. Selanjutnya saya kemuduan diminta untuk mengawal panitia acara sekaligus melatih anak-anak. Masya Allah...laa haula walaa quwwata illah billah...

Dan inilah di antara dokumentasi penampilan anak-anak kami yang bertajuk operet anak "Aku Cinta Idonesia."


Duet maut Tansah Sinawang Sakinah dan M. Nasyid membawakan puisi Tanah Surga


Performance closing diringi lagu Gebyar-gebyar karya alm. Gombloh








Dari Warung Sinau Urip Hingga Liburan Penuh Warna 

Berbagai program rumah baca alhamdulillah sangat diminati bahkan diluar anak-anak pengunjung tepat RBP pun ikut berpasrtisipasi meramaikan setiap program yang kami adakan.

WSU (Warung Sinau Urip)







WSU ini saya gagas karena melihat potensi anak-anak yang luar biasa untuk menghabiskan uang saku yang mereka dapat dari para orang tua. Karena alasan inilah saya kemudian mengajak mereka untuk melakukan gerakan mengelola uang saku dengan program WSU ini. Dengan tujuan untuk:
1. melatih anak-anak tentang arti kerja keras,
2. melatih anak-anak agar terbiasa berhemat dengan belajar mengelola uang saku,
3. melatih anak-anak belajar berwirausaha
sejak dini,
4. melatih anak-anak untuk lebih selektif untuk memilih jajanan sehat.

Dari keempat tujuan tersebut tentu saja tidak serta merta menjadikan mereka berbalik 180 derajat menjadi sesuai dengan tujuan yang ingin kita capai. Tetapi bertahap poin per poin tersebut pada akhirnya pelan-pelan bisa kita ingatkan dalam forum bimbel gratis maupun cerita berhikmah saat ada acara-acara PHBI seperti Maulid nabi dan PHBN seperti saat memperingati hari kemerdekaan RI.


Training Motivasi Sukses UN Tanpa Stress



Acara ini kami gagas untuk memfasilitasi anak-anak RBP dan beberapa anak-anak di luar RBP.  Kami waktu itu harus keliling ke sejumlah SD Negeri yang ada di sekitaran Kota Lumajang untuk menwarkan program ini. Kami berpikir sayang saja kalau program sebagus ini tidak dinikmati juga oleh adik-adik diluar anak-anak RBP yang jarang sekali di sekolab mereka mendapatkan program motivasi seperti ini.

Alhamdulillah, apresiasi terbaik dari beberapa SD Negeri seperti SDN Tompokersan 3 (SD saya dulu, hihihi), SDN Citrodiwangsan 1 dan 3. Meraka hampir menyumbangkan anak-anaknya untuk hadir sebagai peserta. Alhasil, 100 peserta yang kami targetkanpun alhamdulillah terealisasi dengan sempurna bahkan lebih.

Lagi-lagi agenda RBP disupport oleh lemsosnas  pkpu.org yang memiliki kantor cabang pembantu di Lumajang. Berkat
PKPU kegiatan-kegitan RBP berjalan dengan lancar. Terima kasih PKPU.


Liburan Penuh Warna (LPW) yang Seru










Satu lagi program RBP yang nggak kalah seru dengan program-program yang lain. Masih kerja bareng lemsosnas pkpu.org acara ini memfasilitasi kegiatan liburan adik-adik agar tidak monoton. Apalagi di era digital seperti saat ini, mayoritas anak-anak kita sudah dijajah oleh gawai. LPW memberikan alternatif solusi agar liburan anak-anak lebih bergizi.

LPW ini juga diperuntukkan bagi peserta yatim dhuafa. Mereka para anak-anak kurang beruntung tersebut bisa mengikuti LPW secara free tanpa biaya. Dan lagi-lagi support untuk anak-anak yatim dan dhuafa ini langsung dicover oleh pkpu.blogspot.com. Alhamdulillah, semakin banyak yang merasakan kemanfaatan dari program LPW ini.






Galeri Foto

1. MAULID NABI






2. GRUP PERKUSI





Selesai


Tulisan ini diselesaikan di Lumajang, 31 Januari 2018. 

Next cerita Bagaimana nasib RBP dalam satu tahun ini? 

0 komentar:

Posting Komentar