Selasa, 23 Januari 2018

Meretas Jalan (Cinta) di Bumi Borneo

Di Tugu Cinta Damai, Tanjung Selor, Kab. Bulungan, Kaltara
Borneo, tak pernah terlintas sedikitpun akan menapaki langkah ke bumi paling utara dari pulau Borneo ini. Tidak juga pernah bermimpi sebelumnya akan meretas asa di bumi ini. Beberapa pertanyaan pun kerap mampir pada diri sesaat sebelum persiapan keberangkatan melintasi samudra berbatas teritori dengan negara tetangga, Malaysia. 

Jujur, rasa berat berpisah dengan keluarga serasa lebih ringan saat berpasrah sepenuh jiwa hanya kepadaNya. Berbekal sedikit ilmu yang saya punya, perjalanan pun dimulai.

Hari ini tepat hari ketiga puluh satu kami menancapkan kembali tekad untuk mengabdi. Komitmen memang harus senantiasa diperbaharui senada dengan niat yang kadang pasang surut mengikuti grafik keimanan diri yang belum stabil. Cerita segala rasa pun kembali dimulai. Hari-hari berat saat harus belajar menjadi qudwah di setiap gerak dan tutur kata. Bismillah...menjadi sebuah kekuatan tersendiri di setiap memulai aktifitas setiap hari. Perbedaan suku, budaya dan kebiasaan masyarakat daerah setempat juga menambah 'waiting list' untuk terus berupaya mentaarufi dan mentafahumi. Dayak, Tidung, Bulungan, Banjar, Bugis dan Jawa, seolah menjadi tambahan daftar panjang edisi memperkuat simpul keimanan. Terlebih anak didik di sini 'berbeda' dengan di tempat saya berasal, pun karakter para pendidiknya. Rentetan kisah kembali memenuhi buku harianku yang mulai layu. Taaliful qulub, ku perkuat rabithahku, tanpaNya aku hanya butiran jas jus.

Menerawang, sekilas nampak seperti sebuah slide ingatan yang terus tersaji dalam memory yang mulai menguap tersebab usia yang tak lagi muda. Yup, di awal era milenium silam kami pernah tinggal bersama sepupu yang atas skenario Allah selama SD hingga SMP bersekolah di pulau seberang karena program transmigrasi yang diikuti oleh kedua orang tuanya. Benar saja, saat beranjak SMA, kedua ortunya menitipkannya kepada keluarga kami. Hingga kemudian, kami mengetahui bahwa beberapa SMA di tempat kami tinggal berat menerimanya jika bukan karena keberadaan koneksi. Cerita ini terus bergulir pada sepupu-sepupu lain yang tinggal di pulau seberang. "Berprestasi di sana, belum tentu di sini", seringkali kalimat ini mampir di telinga saya kala itu. Pun beberapa kerabat juga tercatat bertitip pesan kepada si sholih seperti ini, "Di sana harus juara satu lho le, kan bukan di Jawa". Jelaslah sudah, semakin ke sini semakin memperkuat kesimpulan saya atas diskriminasi pendidikan ini. Belum lagi, data dan fakta di lapangan beberapa pendidik masih saja memberikan sekat atas pendidikan di sini dan di Jawa. Bahkan terkadang dengan nanda nyinyir mengungkapkan sebuah kalimat pamungkas, "Ini kan bukan di Jawa!" Sedih. Mindset yang seperti ini pelan-pelan yang harus diubah. 
Memang benar kita sedang menapak di bumi Borneo bukan lagi di Jawa. Tetapi apakah lalu kita akan terus pada persepsi seperti ini? Suku boleh beragam, karakter juga boleh tak seragam, tetapi dalam mendapatkan jaminan hak pendidikan tidak ada perbedaan di mana kita berpijak. Keterbatasan SDM, sarana dan prasarana seharusnya menjadi tantangan sebagai refleksi dari keimanan. Maka dari itu, jika ini adalah sebab akibat dari reflesi keimanan, sebagai pelaku pendidikan sudahkah kita bermuhasabah?

Mentadabburi keindahan ciptaanNya di tepian Sungai Kayan

"Seseorang yang ambisius tak akan rela hingga ianya berada di atas ketinggian", beginilah Ibnu Qatadah memberi perumpamaan pada hakekat spontanitas dari keimanan kita yang bermuara pada sumber kekuatan hati. Sebagai insan tentu saja kita tidak akan memiliki kekuatan mengendalikan hati kecuali Allah sebagai pemiliknya yang hakiki.

So, dengan kenikmatan dunia yang sejenak ini, masihkah kita menjadi pendidik yang biasa-biasa saja? Padahal jelas, Allah mengatakannya... 

"Apakah kamu lebih menyukai kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit". (QS. 9:38) 

Masih dengan Bismillah, semoga Allah berikan kemudahan kepada kita untuk menjadi pendidik-pendidik yang memiliki jiwa rabbaniyah, terejawantahkan dari klausal refleksi keimanan yang selalu berkobar dalam hatinya. ....dan saya pun kemudian menatap khidmat pada wall WA saya yang penuh dengan kalimat kerinduan. Mudah-mudahan jawaban ini cukup mewakili perasaanku yang berkecamuk, "Kerinduan yang sama terucap untuk saudara-saudaraku di sana, doakan aku istiqomah, menapaki jalan dakwah ini, meretas jalan (cinta) di bumi Borneo. 

Ana uhibbukumfillah...

 Waallahu a'lam bishowab... 

Tanjung Selor dalam rinai hujan, 21 Februari 2017 

#latepost#ceritasegalarasa#borneo#kaltara

0 komentar:

Posting Komentar