Rabu, 17 Januari 2018

Masa Kecil



Tawa kami pecah, kisah masa kecil yang ku ceritakan kepadanya semalam sukses membuat matanya berkaca-kaca, lebur dalam keceriaan kanak-kanak seusianya.

"Perutku sampai sakit, Nda", selorohnya masih dengan tawa yang masih tak tertahan.

Semalam ada yang berbeda. Tetiba permintaan dari lisan mungilnya membuat mataku terbelalak. Mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat kenangan apa yang harus ku pilih untuk sejenak membuat kesan mendalam pada sholihku menjelang tidur malamnya.

Kisah masa kecil memang tak mudah untuk diurai kembali dalam benak, apalagi harus menceritakan ulang kepada buah hatiku ini. Dan, taraaa....akhirnya meluncurlah kisahku saat masih duduk di kelas satu SD kala itu, menyebut kata 'sama' dalam bahasa Indonesia saat bu guru bertanya tentang dokumen rapor cawu yang hendak di foto copy untuk persyaratan mengajukan beasiswa dari yayasan X seketika membuat tawanya meledak, bagaimana mungkin bunda yang kali ini berbaring manis di sampingnya pernah melakukan kekonyolan ini. Saat itu bu guru bertanya pada bunda kecil dengan menggunakan bahasa Jawa Lumajangan yang sangat fenomenal.

"Lho Nduk, iki sing di foto copy podho koyok tek e Mbakmu yo?" Dengan lugunya bunda kecil yang masih imut dan unyu-unyu menjawab dengan spontan dan tanpa pikir panjang.
"Iya Bu, pada kayak Mbak Ika" Sontak bu guru di hadapan saya yang sedang sibuk menip-ex keterangan juara dalam rapor tersenyum kecut sambil berkata,
"Pada, opo pada iku? Bahasa Indonesiane podho iku 'sama', bukan 'pada'. Dieling-eling yo, mene-mene, ojok sampek kliru maneh lho" Wkwkwkwk....

Anehnya, bunda kecil baru tersadar saat keluar dari ruang pesakitan itu, karena masuk ruang guru zaman itu bisa membuat jantung berdebar dan keringat dingin bercucuran. Owalah... :D

 "Lagi, Nda ada cerita lucu lagi ndak?", tanyanya sangat antusias. Kali ini kisah menggedor kamar mandi guru yang kemudian dari dalamnya keluar sosok berkumis yang membuat bunda kecil melarikan diri dengan gaya atlit sprinter. Tentunya tak perlu aba-aba, "Bersedia, siap, yak!" ;) Keburu ketahuan.

"Lagi...lagi...lagi....", celotehnya memenuhi seisi ruang tidur kami yang menghangat malam itu. "Oh iya, ada satu lagi, Le. Masih cerita saat bunda masih SD. Saat itu bunda masih kelas tiga SD tapi sudah dipilih untuk menjadi dirijen waktu upacara bendera tiap hari Senin". Tugas pertama menjadi dirijen berjalan dengan lancar meski pak guru berkumis tipis memberi bunda kursi agar badan bunda yang kecil (baca : imyut) terlihat oleh seluruh peserta upacara hari itu saat menyanyikan lagu Nasional. Karena tetiba, saat bunda asyik mengajak seluruh peserta upacara ambil suara, eh yang terdengar celetukan,
"Yang mana dirijennya? Koq ndak kelihatan?" "Hahahaha....", tawanya meledak lagi karena untuk cerita terakhir ini bunda sukses menyajikan pertunjukan disertai dengan peragaan hingga dibuat sama persis dengan setting waktu, tempat saat terjadinya peristiwa yang menyejarah itu. Hehehehe....

"Ada lagi, Nda". Tanyanya dengan sorot mata ketidakpuasan.
"Sementara untuk malam ini cukup itu dulu ya, Le. Sekarang giliran mas Hanif yang cerita tentang kejadian lucu di sekolah. Bunda yang mendengarkan. Deal ya?", bujuk saya agar ia juga punya cerita menarik untuk saya dengar malam ini. "Wah, ya ndak seru. Hanif ceritanya ya nanti ke anaknya Hanif, anaknya Hanif ke anaknya lagi, begitu terus, Nda. Ya kalau diceritakan sekarang yo ndak serulah". Jawaban ngelesnya, selalu membuatku kehilangan kata-kata.

Entahlah...pagi ini seolah slide semalam terputar lagi dalam ingatan, sambil me-'mesut' baju-baju dan celana mungilnya yang mulai terlihat 'cingkrang' saat dikenakan, tak terasa butiran hangat lebur bersama cairan rapika yang kusemprotkan pada satu demi satu baju usang yang menemani perjalannya hingga menjelang sembilan tahun usianya. Terngiang juga pertanyaan yang tak pernah absen kudengar dari lisannya yang kadang membuatku bingung harus memilih redaksi untuk sekedar menjawabnya atau hanya senyum simpul disertai wajah (pura-pura) sumringah dan menyembunyikan kesedihan yang mendalam dibalik nurani yang lara nelangsa. Seperti malam itu, sholihku menutupnya dengan pertanyaan yang kuhafal luar kepala,
"Kapan kita kembali ke Malang?" "Masih lama ta, Nda?" "Berapa lama lagi, Nda?" "Hanif pingin sekolah di Malang, Nda".
Sementara aku, hanya bisa berbalik membelakanginya sambil mengusap peluh yang terlanjur tumpah, mengusapnya dengan ujung guling, dan berkata dengan pelan,
"In sya Allah dengan izin Allah, secepatnya kita akan kembali ke Malang sayang". :'(

Bukan aku tak mencintaimu, Lumajang. Hanya saja rindu ini begitu mendalam, untukmu Malang. Di sanalah pernah kulukis berjuta kenangan bersamamu di istana kecil kita. Pantas saja jika rindu itu membawa tanya yang selalu melangit asa dalam doa-doa panjang mengharap skenario terbaik dariNya. Aamiin...

Lumajang yang masih beku, 30 Juli 2016

0 komentar:

Posting Komentar