Selasa, 16 Januari 2018

Hijrah


Sejatinya tidak ada manusia itu yang benar-benar baik. Yang ada Allah sang maha baiklah yang benar-benar menutupi aib-aib kita yang tidak baik

"Bunda, menurut bunda fulanah itu baikkah?" Bukan tak sanggup diri yang lemah dan alpa ini menjawab kalimat tanya yang mendesak ianya tanyakan dalam episode mabit yang tak terduga.

Yang ada kemudian berbalas jawaban hal-hal baik yang pernah fulanah lakukan pada saya sependek yang saya pernah alami. Bagaimana pelayanannya pada saya selama sepekan saat saya sakit terkapar di kamar, hingga sanggup memaksa dan  menyeret saya menuju UGD sebuah rumah sakit daerah setempat. Hampir tanpa cela. Padahal masih belum genap empat bulan saya mengenalnya. Pun kemudian saya memaknainya sebagai sebuah ketulusan, terlepas dari masa lalunya yang saya juga tak begitu banyak me-record.

Bertemu dengan mereka para ababil (baca : abg labil) dalam sebuah lingkaran cinta memang syarat kisah.  Dengan niat HIJRAH mereka kemudian bertemu dalam sebuah halaqah pekanan. Tentu saja dari berbagai latar belakang dan niatan yang beragam.

Sesak dada saya saat kemudian niatan hijrah fulanah tersangsikan oleh salah seorang teman selingkaran. Saya kemudian hanya menghela nafas panjang berdoa untuk keduanya. Saya sadar, bahwa ini adalah tantangan. "Kalau dia bukan teman satu liqo' sih ndak masalah ya, lha masalahnya dia itu teman satu liqo'. Koq gitu sih, Bun?" *** Terkenang saat-saat awal saya hijrah hampir dua puluh tahun lalu.

Sebuah kisah yang menghati antara kaum Muhajirin dan Anshar yang di-taakhi-kan oleh Rasulullah begitu membekas dalam nurani. Tentu saja bab ini tak perlu saya ulas di sini. Tetapi akan coba kita analogikan dengan sebuah hakikat tarbiyah islamiyah yang salah satunya adalah bab persaudaraan Islam yang sejak dari awal dikenalkan dan kemudian dipupuk agar tumbuh menjadi cabang dari pohon-pohon iman dalam sebuah lingkaran cinta (baca: halaqah).

Karena keimanan yang menghujam di dada, maka pengorbanan itu hanya sebuah efek sampingnya. Begitulah kira-kira. Imam Hasan Al Banna dan para syaikhut tarbiyah pun mencontohkannya.

Maka tersebab keimananlah ketika saudara kita ada cela itu adalah cerminan dari diri kita. Seyogyanyalah saat bayang-bayang di cermin itu ada selisih dengan nyatanya, maka tak perlulah kita berburuk sangka dan menghancurkan cerminnya. Sebaliknya kitalah yang harusnya sibuk berbenah. Karena seperti sabda Rasulullah SAW, bahwa "Mukmin yang satu adalah cermin bagi mukmin yang lain."

Sayup-sayup terlantunkan sebuah syair nasyid kenangan dari grup nasyid Bijak, meski tak terucapkan, tetapi senandung itu keluar dari hati nurani terdalam.

Menempuh jalan panjang sarat kan rintangan
Bertekad menepiskan kedzoliman
Muslimin dengan iman rela berhijrah

Mereka meninggalkan kekayaan
Tuju kota Madinah penuh berkah
Demi cintanya pada Tuhannya

Langkah yang terpadu
Gerak yang bersatu
Terpatri di kalbu
Cinta Allah yang satu... yang satu

Panasnya sahara
Terik yang membara
Tak kalahkan asa
Hijrah cita mulia

Membangun kehidupan penuh kasih sayang
Jalin persaudaraaan yang terhindar
Dari segala rasa iri dan dendam

Rindu hati dipendam dalam doa
Pada yang Maha Kuasa di suatu masa
Kelak kan berjumpa anak saudara

Hijrah perjuangan
Sibak kebathilan
Sambut kebenaran
'tuk meraih ridhoNya

Hijrah pengorbanan
Rela jiwa raga
Pasrah pada Allah
'tuk menggapai cintaNya

Hijrak yuuk, dengan sebenar-benar hijrah karena sejatinya tidak ada manusia itu yang benar-benar baik. Yang ada Allah sang maha baiklah yang benar-benar menutupi aib-aib kita yang tidak baik.

Wallahu a'lam bishowab... 

Maaf jika foto tidak nyambung dengan tulisan. Foto itu diambil di tahun 2000an di sebuah studio photo yang terkenal kala itu di Lumajang. METAL photo namanya. Era masih belum ada kamera HP, dll. Masya Allah, kelewat kompak sampai zaman segitu niat banget pergi ke studio foto ya. Saking apanya coba. Yang lain kemudian berceloteh riang: "Kami kan HIMAGIPRET."  Wots? Iya itu lho   Himpunan Manusia Gila Jepret...😄😄😄


0 komentar:

Posting Komentar