Jumat, 26 Januari 2018

4 Kunci Agar Wanita Masuk Surga


Hamba yang fakir saat membersamai ramadhan para ibu di program SISTER DPD Salimah, Kab. Bulungan, Prov. Kaltara

Assalamualaiykum bunda sholihah perindu surga,

Adakah kerinduan akan surga masih menyala-nyala di hati kita?

Kerinduan yang mendalam akan tempat persinggahan terindah bernama : surga.
Tentunya tak cukup hanya sebatas cita yang melambung dalam angan semu.  Perlu azzam yang kuat untuk meraihnya.

Lalu, bagaimanakah agar kita-kita ini menjadi ahli surga nantinya?

Berikut empat hal untuk membantu kita menguatkan azzam sebagai upaya menggenggam kunci surga agar kita bisa memasukinya.

1. Wanita yang senantiasa menjaga sholat 5 waktu.

Menurut penelitian,  sholat 5 waktu yang terjaga akan memunculkan kecerdasan mampu untuk menahan kejahatan batin maupun fisik.

Hal ini sdh tercantum dalam ayat cinta Allah quran Al Ankabut : 45, bahwa sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Saya pernah mendengar ada sebuah kisah menarik dari pertanyaan tentang melaksanakan shalat ini dari Allahu yarham, sang ulama dan sastrawan yang melegenda, Buya HAMKA.

Suatu hari saat Buya HAMKA berada di majelis ilmu, salah seorang yang duduk bersamanya melempar tanya yang membuat sang gurunda dengan hakikat ilmu yang dimilikinya menjawab dengan diplomatis dan bijaksana.

Sang fakir ilmu berkata dalam tanya,
"Buya saya punya dua orang tetangga, yang satu sudah bergelar haji, rajin sholat ke masjid tapi astaghfirullah, dia dholim terhadap para tetangga. Sementara satu lagi tetangga saya seorang insinyur yang luhur budi baik lagi menghormati tetangga. Beliaupun ringan tangan dalam membantu para tetangga, hanya saja insinyur ini tidak pernah terlihat melaksanakan sholat. Bagaimana menurut Buya? Pilih jadi haji mardud yang rajin sholat atau insinyur luhur budi baik hati tetapi nggak sholat?

"Tentu saja jika seorang haji mardud itu tak melaksanakan sholat bagaimana tambah dholimnya ia kepada tetangga. Sebaliknya alangkah bertambah kebaikannya bahkan berlimpah pahala jikalau insinyur yang luhur budi dan baik hati itu melaksanakan sholat."

Masya Allah...indah sekali jawaban yang diberikan oleh Buya. Lalu, masihkah kita bersikap keji dan mungkar dalam bermuamalah dengan sesama? Terutama suami dan anak-anak kita? Jika masih, saatnya kita koreksi diri sudah benarkah sholat kita? Atau sebaliknya? Mengerjakannya hanya sebagai penggugur kewajiban semata lebih-lebih di sisa dan akhir waktu-waktu sholat dan terlambat. Astaghfirullah... 😢

2. Wanita yang melaksanakan puasa ramadhan

Melaksanakan puasa ramadhan akan
membentuk kecerdasan menahan hawa nafsu untuk bersifat konsumtif.  Dan hal ini adalah salah satu kunci masuk surga.

Berpuasa khususnya kewajiban menjalankan puasa ramadhan ternyata bisa membentuk kecerdasan para wanita untuk menahan hawa nafsunya dari bersifat konsumtif.

Sebuah kewajaran yang sudah di anggap umum di masyarakat kita kalau kaum wanita ity identik dengan gemar belanja. Kegemaran ini kadang dipicu karena lapar mata dan tidak bisa mengendalikan diri untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak ada dalam priotitas kebutuhan.

Apalagi di era digital seperti saat ini, wanita sungguh dimanjakan dengan beberapa aplikasi belanja online hanya dengan sekali 'klik' barang yang kita ingini pun beberapa saat kemudian sudah memenuhi rumah kita.

Lalu, apakah belanja itu dilarang dalam Islam? Tentu saja tidak demikian. Coba kita cek dalam surat Al Furqan: 67, yang artinya: Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang menginfaqkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.

Dari ayat di atas jelas bahwa hakikatnya kita diminta untuk tawazun (seimbang) dalam membelanjakan harta kita di dunia dan di akhirat. Karenanya tidak baik jika kemudian sebagia wanita yang katanya terlahir 'suka belanja' menghambur-hamburkan harta dengan membeli barang-barang yang tidak dibutuhkabn hanya karena keinginan, ditambah iming-iming Big Sale yang kemudian tambah membuat klepek-klepek. Iya kan? Hayi ngaku!

Nah, sudah tahu kan? So, mulai sekarang menej pengeluaran prioritas untuk membeli barang yang dibutuhkab bukan yang diinginkan. Catat!


3. Wanita yang menjaga kemaluannya

Dalam surat Al Isra' : 32 Allah melarang kita mendekati zina.  Jangankan berbuat zina, mendekatinya saja sudah dilarang oleh Allah.

Pada poin ke-3 ini wanita yang senantiasa menjaga kemaluanya akan memiliki kecerdasan untuk menahan hawa nafsu seksualnya.  Dan ini termasuk kunci masuk surga untuk para wanita muslimah.

Masya Allah ya. Makanya kenapa menikah itu adalah salah satu cara untuk kita para wanita menjaga kemaluan. Sehingga dari pernikahan itu akan melahirkan sakinah (ketenangan) yang didasari oleh rahmah sebagai buah dari keimanan kita dari hubungan sah suami istri yang halal dan berpahala.

So, ayo para jofisa (jomblo fii sabilillah) jika dirasa sudah siap dan pantas di hadapan Allah, bersegeralah untuk menikah. Karena tak hanya bisa menjaga kemaluan dari hawa nafsu seksual saja, tetapi menikah juga terbukti ampuh bisa menjadikan pandangan kita lebih terjaga.

4. Wanita yang benar-benar taat kepada suaminya

Taat kepada suami.  Suami yang seperti apa yang wajib kita taati,  tentu saja suami yang juga taat kepada Allah dan RasulNya.

Dan wanita yang taat kepada suaminya ini akan menumbuhkan sebuah kecerdasan untuk menahan diri untuk mendebat suami dalam kondisi apapun.

Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah. Yang jika dipandang akan menambah ketentraman di hati suami, dan jika terjadi perselisihan ia senantiasa ihtiram kepada suami sebagai qawwannya. Dengan catatan tentu saja yang saya maksud di sini adalah suami yang juga memiliki ketaatan kepada Allah.

Perdebatan, pertengkaran, perselisihan terkadang menjadi bumbu dalam sebuah pernikahan. Selayaknya bumbu fungsinya menambah sedap masakan. Hanya saja jika takaran bumbunya tidak sesuai dengan resepnya, yang terjadi sebaliknya. Begitu juga dengan kehidupan rumah tangga dalam sebuah ikatan pernikahan. Ada suka, duka, sedih, senang, derita, dan bahagia. Pasangan suami istri sejak wala harus meniatkan bahwa pernikahan ini adalah sebuah ibadah untuk menggapai ridhoNya semata.

Sehingga jika dalam perjalanan menahkodai bahtera rumah tangga jika ada ledakan yang kemudian terjadi di antara suami dan istri, hendaknya istri sebagai navigator dalam rumah tangga itu berupaya untuk menahan diri tidak membalas dengan ucapan-ucapan yang keji hingga memicu ledakan yang lebih besar.

Lalu, bagaimana jika seorang wanita yang belum menikah? Lantas siapa yang harus ditaati? Jawabannya jelas dalam hal ini. Menikahlah dulu kalau gitu. Hehehehe...
Jika masih ada kedua orang tua kita, hendaklah kita taat dan bergaul dengan mereka dengan perlakuan yang baik sesuai dengan yang diajarkan Islam dan rasulnya. Dengan melaksanakan hak dan kewajibannya selama keduanya masih hidup, dan melaksakan amanahnya setelah keduanya tiada.

Sekilas,  4 hal di atas nampak mudah untuk kita jalani,  tetapi ternyata tidak ringan dalam kenyaataannya untuk memulai komitmen menjalankannya.

Tetap semangat, mari kita sama-sama berupaya untuk menjadi wanita perindu surga. In sya Allah...


Wallahu a'lam bishowab


Lumajang, 26 Januari 2018

0 komentar:

Posting Komentar