Kamis, 08 Februari 2018

Kopi Susu Cinta untuk Spensalu


"Belajar itu bisa dari siapa pun, termasuk dari para generasi milineal Spensalu yang memiliki semangat menggebu"
 -bundnoviquotes-

Pagi itu, 3 Januari 2018 saya diminta untuk membersamai para tunas bangsa SMPN 1 Lumajang  atau biasa disebut Spensalu- sebutan kekiniannya- dalam rangka belajar bersama. Sebagai salah satu sekolah negeri unggulan di Lumajang, saya sangat tersanjung mendapat kesempatan tersebut. Jarang-jarang ya penulis yang masih newbi dan apalah-apalah ini mendapatkan kehormatan untuk membersamai siswa-siswinya belajar bersama seperti ini. Seulas senyum dibumbui ucapan hamdallah yang mengkristal dalam dada tak lagi membersitkan tanya, tersebab hanya Allah yang tahu jawabnya.

Setelah sepekan sebelumnya dikontak salah seorang guru Bahasa Indonesianya, sebut saja Bu Okta, akhirnya kami bersepakat forum yang apapun itu namanya akan dilaksanakan di awal ananda masuk sekolah. Atas masukan Bapak Yusuf selaku kepala sekolah pun akhirnya gelaran hari itu pun terlaksana.

Disambut hangat kepala sekolah dan beberapa guru membuat hati saya mengharu biru. Sengaja saya hadir setengah jam lebih awal untuk mempersiapkan segala hal, termasuk ma'rifatul medan. Sambil menunggu show time, saya teringat bahan presentasi saya yang nampaknya membutuhkan asrot (asisten sorot). Tanpa ba bi bu, Bu Okta yang sedari tadi membersamai, saya minta untuk berkenan menjadi asrot yang saya butuhkan. Saat itu juga, segera saya ambil laptop dari dalam tas ransel, membukanya di hadapan Bu Okta dan menunjukkan sekaligus menjelaskan beberapa hal yang kira-kira saya nanti membutuhkan bantuan beliau. Saat akan menjelaskan, shock seketika saya melihat presentasi yang tadi shubuh baru selesai saya kerjakan belum ter-save dengan sempurna. So, jadilah beberapa ayat yang saya kutip kosong melompong. Oh, no!

"Tenang...tenang...", begitu saya mensugesti diri saya sambil bernafas dalam-dalam dan menghadirkan senyum terbaik kemudian bergegas melirik ke arah jarum jam di dinding ruang lobi sekolah tempat saya berada. Bismillah...kurang 5 menit lagi saya harus menuju ruangan setelah beberapa menit yang lalu bersamaan dengan utak-atik si lepi (panggilan kesayangan untuk laptop tercintah saya yang telah banyak berjasa) Pak Yusuf menyampaikan beberapa pesan sponsor terkait materi yang harus saya sampaikan beserta goal output yang ingin dicapai pihak sekolah.
"Saya ingin anak-anak termotivasi setelah mendapatkan materi panjenengan", ucap beliau singkat tetapi syarat makna.
"Kalau kemarin kami sudah adakan workshop menulis, saat ini saya ingin anak-anak mendapatkan kesan secara psikologis", imbuhnya dengan penuh kesungguhan.
Saya menatapnya utuh, berharap ada energi keyakinan saya manpu menembus dadanya. Wokee deh...mari kita kemon.

Jam 9 tepat, saya menuju ruang aula yang lebih mirip laboratorium yang sementara beralih fungsi sejenak menjadi aula. Di sama saya sudah disambut bu guru kece yang berkenan menjadi MC saat itu. Siapa lagi kalau bukan Ibu Chusnul Khotinah yang juga pengajar Bahasa Indonesia sekaligus pembina ekskul sastra. Wooow...keren. Etapi...saat awal memasuki ruangan ada sesosok wajah yang begitu saya kenal, meski kerutan di wajahnya mulai kentara ditambah kilauan putih yang nampak menghiasi beberapa bagian rambutnya, seolah gambaran sosok itu masih tersimpan dalam long term memory saya. Pak Gangsar, begitu beliau dikenal, seketika saya menyapanya penuh takzim.

Begitu juga dengan Bu Chus, panggilan akrab guru BI kece tersebut. Setelah memperkenalkan diri dan mempersilkan saya duduk, beliau pun kemudian tancap gas memulai acara. Hingga masuk ke acara inti saya membawakan ice breaking untuk memecah kebekuan. Alhamdulillah dari sekitar 50-an peserta yang hadir merupakan perwakilan dari ekskul sastra, OSIS, pengurus kelas dan sekolah semuanya begitu antusias mengikuti acara ini sampai selesai.

Saat itu saya membagi waktu saya menjadi 3 sesi:

1. Sesi Motivasi Menulis

2. Sesi Merobek Buku (baca: Bedah Buku)

3. Sesi Tanya Jawab.

Hanya ternyata dari 2 jam waktu yang disediakan buat saya saat itu serasa begitu cepat dan singkat dibandingkan semangat anak-anak yang begitu menggebu-gebu.

Bahkan saat sesi tanya jawab dan give away, ketakjuban saya semakin menjadi-jadi. Betapa jawaban mereka di luar ekspektasi saya saat itu. Hampir dari beberapa kali event bedah buku Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu (CSKSS) pertanyaan seragam selalu saya dapati. Seperti ini,
"Lho Bund, itu judulnya apa nggak kebalik?"
"Bukannya harusnya susu itu manis, kopi itu pahit ya".
Dan beragam pertanyaan serupa yang hampir seragam.

Begitu pertanyaan ini saya ajukan saat sesi give away. Empat jempol buat ananda Nabila dan Harun Al Habsyi yang menjawabnya nyaris sempurna. Goodjob, Nak! Bunda bangga kepada kalian. Seperti kalimat yang pernah dikatan oleh sahabat Umar Bin Khattab,

Ajarkan sastra kepada anak-anakmu karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.


Maka, di akhir sesi terimalah persembahan susu dan kopi cinta dari bunda dengan segala kekurangan dan kelebihannya, semoga ada manfaat yang bisa kalian ambil dan aplikasikan dalam kehidupan. 

Ku rangkai rindu sejak awal bertemu
Bahwa orang-orang baru selalu datang dan pergi dalam kehidupanmu
Bukan tanpa sebab ianya ada
Semoga tersimpan hikmah dalam tiap aksara
Meski diri tempat segala alpa dan lupa





Wallahu a'lam bishowab...

Bumi nararrya kirana dalam dekap aksara ketujuh di tahun 2018.

Meski terlambat, semoga masih up to date...

Terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh keluarga besar Spensalu, special thanks to Bapak Yusuf selaku Kepala Sekolah, "Terima kasih atas pengalaman yang sungguh teramat berharga ini, semoga dari Spensalu lahir penulis-penulis yang berbudi". Aamiin....






0 komentar:

Posting Komentar