Senin, 05 Februari 2018

Teaching with Heart


"Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya bermutu, tapi guru bermutu akan melahirkan ribuan orang-orang hebat." 

Tak sekedar quotes, tetapi saya yakini kebenarannya.  Mata saya layu,  menatap layar Hp saat mendapati update status para ababil (abege labil)  di sosial media. Karena mayoritasnya,  siswa saya bahkan beberapa sudah duduk di bangku kuliah.  Edisi 'gegana' masih sangat mendominasi hampir mayoritasnya.

Terkecuali malam itu,  saya dapati terpampang foto seseorang di beranda IG nampak tergambar guratan kesholihannya.
Hafidz al quran,  sebagai cita mulia yang sejak lama ia genggam. Ada haru yang menelisik kalbu.  Berharap kesholihan itu menjadi syafaat bagi kami,  tak terkecuali saya yang pernah membersamainya di usia sekolah dasar.

Berbeda cerita dari sebelumnya,  beberapa hari lalu salah seorang siswa saya dulu yang lain di sekolah dasar yang sama mampir di inbox saya.  Bertanya kabar dan berbagi link video tentang perjuangan menjaga hafalan Al Quran yang sedang ianya tempuh menembus citanya menjadi hafidz quran di sebuah pondok pesantren di daerah Jawa Tengah.
Kalau dihitung mundur, usianya mungkin saat ini berkisar di angka 16-17than Subhanallah... Kecintaannya pada Al Quran begitu menghati.

Pertanyaan saya juga masih mainstream di seputar sudah sampai juz berapa ditambah emoticon senyum simpul penuh dengan rasa malu, menghitung usia yang tak lagi muda dengan simpanan hafalan yang stagnan. Bahkan bisa jadi malah berkurang. Astaghfirullah... Dahulu,  nama anak-anak ini selalu kita firasati bakal istiqomah menggenggam cita-citanya menjadi hafidz quran.  Benar saja,  saat ini mereka sedang berproses untuk mewujudkan cita-cita memakaikan mahkota terindah untuk ayah bundanya.

Mega proyek surgawi,  saya menyebutnya demikian.  Meski sebagian mengatakan terlalu muluk-muluk atau mimpi yang ketinggian,  tidak bagi saya. Suasana penuh keceriaan bersama dengung suara ayat-ayat Al Quran seolah menambah energi tersendiri untuk terus menjadi pembelajar sejati.

Untaian doa senantiasa terpanjatkan dalam rabithah yang panjang. Membayangkan satu persatu wajah penuh 'energi' di tengadah malam.

0 komentar:

Posting Komentar