Sabtu, 03 Februari 2018

Merindu Ber-Temu Kunci



Kesempatan untuk berkunjung ke beberapa daerah di tanah air kadang membuat lidah harus menahan keinginan untuk bermanja dengan selera asal. Sate padang, soto betawi, plecing kangkung, coto makasar, dan kapurung adalah sederet makanan asing yang sangat awam di lidah Jawa saya, apalagi ini jawanya jawa bagian timur alias kutho Lumajang. Nah, saat merantau seperti ini saya sudah antisipasi kegagalan saya untuk beradaptasi dengan nama-nama aneh dari jenis makanan. Setelah dapat jatah makan catering betawi, saya memutuskan untuk memasak sendiri. Selain lebih hemat di kantong, juga lebih pas di lidah saya yang bandel. Benar saja, saya jadi kegirangan saat beberapa teman bercerita tentang keberadaan sayur kelor yang selalu ngehits di lidah jawa saya dijual di sini. Pun, saat 'my ibuk' sepekan kemarin membersamai saya, beliau sempat wara-wiri ke pasar induk untuk belanja. Meski dapat jatah catering dari pihak yayasan,tetap saja tak puas jika tak sedia seperangkat bahan-bahan sambel khas Lumajang. Hehehehe... *lidah mah tak bisa bohong... Eh...

Awal dapat layanan menu rantangan khas Betawi, menu perdana tersaji sayur santan dari bahan menesa/rambusa begitu orang Lumajang menyebutnya, entah di sini. Cita rasanya... Hehehe, masih penyesuaian lidah dan selera. Mbak Lia, pemilik catering betawi yang memang asli Betawi ini tetiba memasukkan saya dalam grup WA. Terjadilah kemudian polling menu-menu makanan tiap harinya untuk para customer. Sebagai 'new comer', saya menjadi target pertanyaan beliau. Gayung bersambut, seolah mendapat kesempatan emas, saya pun kemudian 'request' menu sayur bening dan ikan laut goreng lengkap dengan sambelnya. Alhamdulillah, keesokannya Mbak Lia mengantar sendiri rantang saya, meski sebelumnya hanya sang kurir yang bertugas mengantarnya. Benar saja, sayur bening yang tersaji seolah minta untuk segera disantap. Alhamdulillah, sungguh nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Masya Allah... ketemu sayur bening yang berkolaborasi dengan ikan laut dan sambel, bak kawan lama yang bertahun-tahun tak jumpa, rindusetengah mati. *eh... cie apa nih kata dorangπŸ˜‚ --mulai belajar bahasa Bulungan

Seketika baru tersadar saat beberapa kali menyantap menu sayur bening,baik menu dari catering maupun menu di sekolah. Sempat membatin aja, seperti ada yang kurang. Hingga suatu pagi, ibu bercerita dengan penuh gairah. Ya, benar ternyata sesuatu yang kurang itu selama ini keberadaanya sempat saya abaikan. Di kampung tempat saya lahir, seolah seringkali dianggap sebelah mata, baru terasa saat terpisah samudera. Ibu dengan berurai air mata bercerita, dengan air muka masih menahan tawa yang siap meledak. *saking nggumunne

Nanti kalau ibuk pulang, kamu tak kirimi ya. Selorohnya tak berjeda. Di sini, di tanah Borneo ini aku akan merindukan ber-Temu Kunci, yang selama ini keberadaanya kuabaikan untuk menambah riang suasana sayur bening yang tercipta. Karena hanya di sini Temu Kunci dijual lengkap beserta potnya. Eaaalaaah...adaaaa saja πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Wallahu a'lam bishowab...

#hijrah cinta #hijrahdakwah

0 komentar:

Posting Komentar