Senin, 05 Februari 2018

Menjadi Mentor yang Mengasyikkan, Why Not?



Roda dakwah ini akan terus berjalan, dengan atau tanpa kita. Jika kita pergi, ia akan diganti dengan orang yang lebih baik lagi. Maka, pilihanmu adalah menjadi pemain yang baik atau sekadar menonton.


Ahad, 4 Februari 2018 bertempat di Laboratorium SMPIT Ar Rahmah Tukum, Damar Club Lumajang mengelar sebuah acara menarik dan syarat ilmu, kali ini spesial buat para mentor. Selama hampir setengah hari kami melahap beragam ilmu tentang kiat menjadi seorang mentor (baca: Murabbi) yang mengasyikkan. Apa sajakah itu? Saya akan coba mengulasnya di sini. Semoga para bunda sholihah perindu surga berkenan membaca dan berbagi pengalaman akan hal ini. Mengingat penulis sendiri belum kenyang makan asam garam kehidupan.

Acara yang di buka oleh Bapak Arif Wijayanto, selaku penasehat dari Damar Club Lumajang ini berjalan khidmat. Sekitar 60-an peserta hadir memenuhi ruangan. Setelah sebelumnya sambutan dengan penuh semangat berapi-api disampaikan oleh Kapten Dam
ar, Kak Iqbal Abdul Rofiq. Jiwa mudanya begitu tampak nyata, tak hanya dari pernyataan yang disampaikan, tetapi juga dari body language yang sangat mewakili energi dari semangat yang membara. Semembara namanya: pemuda.

Kamen Bedy Cahyono yang mendadak MC juga tak kalah semangat untuk membawa suasana menjadi lebih segar dengan beberapa ice breaking yang beliau sajikan untuk para kamen (bc: kakak mentor) yang hadir.

Sampailah pada acara inti yang ditunggu-tunggu. Duet mawut trainer kece, Adri Suyanto, SH (Sarjana Humor) dan Tutus Wahyo Widagdo ini sukses menghipnotis para peserta. Terbukti di akhir acara celetuk peserta tentang keduanya pun tertangkap telinga saya.

"Baru kali ini acara sampai sore ndak ada ngantuk-ngantuknya ya. Malah saya ndak kerasa eh ternyata sudah sore saja." , tutur salah satu ustdzh R saat masih membersamai kami panitia yang masih sibuk beberes ruangan agar tampak seperti semula.

Cak Adri, barangkali begitulah panggilan yang sesuai untuk sosoknya. Seorang Sarjana Humor asli Kediri yang sekarang berdomisili di Surabaya ini benar-benar mengocok perut para peserta, tak terkecuali saya. Pada sesi pertama materi yang disampaikannya sebenarnya tentang urgensi menjadi murabbi (mentor) hanya ianya mengemas materi ini menjadi lebih 'chruncy' apalagi dari slide yang tertayang di awal tertulis judulnya besar-besar : Amanah dari Langit. Tak menyangka bahwa materi berat ini akan disajikan dengan sangat humorable. Sukses Cak Adri.

Ini dia penampakan Cak Adri Suyanto, Sarjana Humor


Ada beberapa hal yang sempat saya abadikan dalam memori saya di sesi materi beliau. Di antaranya:

1. Alasan
Alasan ini menjadi penting bagi masing-masing kita. Sebelum kita memutuskan menjadi Mentor, kita harus punya alasan paling personal yang mendasarinya. Sehingga jika dalam perjalanannya mengalami pasang surut, kita punya cara untuk mengembalikan diri kita tetap dalam kondisi pasang, tidak malah tenggelam. Ada banyak kisah yang beliau ceritakan tentang kenapa Why? Not How? dengan cukup dramatik, hingga kemudian membuat kami spontan mengangguk.

2. Defini
Masing-masing dari kita wajib memiliki definisi sendiri tentang apa itu murabbi. Sehingga ketika masing-masing kita paham akan definisi yang kita buat, hal ini kemudian akan teterjemahkan menjadi sebuah langkah awal mempersiapkan diri menjadi murabbi terbaik.

3. Menentukan Target
Setelah memiliki alasan yang benar, definisi yang tepat. Selanjutnya teropong target kita kita harus jelas ke manahendak di arahkan. Jangan sampai kita salah dalam menentukan target tersebab kita egois menggunakan sudut pandang pribadi kita bukan sudut pandang user (objek dakwah).

Selanjutnya, ketika ketiga hal itu sudah kita lakukan selanjutnya bagaimana kemudian kita berpikir tentang strategi Cara Menggairahkan sebuah perjalanan mentoring. Cak Adri punya rumus sederhana tapi mantap jiwa. Hanya dengan BE FUN in sya Allah perjalanan mentoring kita akan selalu menggairahkan. Apa itu BE FUN?

B : Benefit 
Kenali dulu objek dakwah kemudian wujudkan dengan eksekusi nyata untuk turut andil dalam kehidupannya. Jika dalam memberikan materi berikan sesekali kejutan pengetahuan sehingga membuat mereka terus ingin hadir dalam forum mentoring.

E : Engagement 
Pertama pada tahap ini yang harus kita lakukan adalah mengenali potensi mentee, selanjutnya optimalkan sosial media dengan mem-follow akun sosial media mereka dan awasi mereka dari status-status yang mereka tulis untuk memperoleh data sehingga menambah kedekatan kita dengan mereka. Sarana rihlah (tamasya) juga menjadi alternatif untuk menggairahkan perjalan mentoring pada tahap engagement ini. Tak perlu mahal, sekedar jogging, bersepeda, berenang, akan menjadi perekat seorang mentor (murabbi) dengan mentee.

FUN 
Mentoring itu tidak hanya melulu pada aktifitas diam, duduk, dengar saja. Apalagi di era generasi Z (generasi digital yang lahir di rentang tahun 1994-2010) ini cenderung mandiri dan tahu banyak dengan hanya sekali sentuh layar gawai. Karenanya, ada banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai seorang mentor untuk mewujudkan suasana FUN. Diantaranya: bisa dengan gubah lagu, olahraga, hang out, ketrampilan, nonton film, penugasan, kisah, diskusi, mengikuti seminar, bergabung dalam komunitas, dll.

Selain hal-hal di atas, perangkat lain seperti silabus pembelajaran juga harus kita siapkan sejak awal pertemuan. Ingat! Libatkan mentee di setiap program yang akan kita buat. 

Berlanjut ke sesi kedua setelah ishoma, kami pun dengan penuh semangat 45 kembali menuju ruangan. Beberapa peserta yang diawalnya bermaksud ingin hengkang sebelum acara usai, mendadak memutuskan untuk tinggal hingga acara usai. Keputusan yang tepat sekaligus membuat kami para panitia tak lagi spot jantung gegara berkurangnya peserta.

***

Mas Tutus Wahyu Widagdo. Trainer kedua ini tak kalah heboh dengan Cak Adri, trainer di sesi sebelumnya. Kalau yang ini Suroboyo bingiits, tampak dari logatnya yang kental suroboyoan, hampir saja saya mengira sedang menyaksikan presenter berita pojok kampunya JTV. Eaaa...

Ini dia penampakan Mas Tutusjesjes

Di awal sesi, beliau bercerita tentang perjalanan hijrahnya yang masya Allah sungguh inspiratif, menyihir kami untuk terus menyimaknya hingga usai.

Mas Tutus di sesi ini juga banyak memberikan kiat-kiat bagaimana teknik komunikasi dalam mentoring yang mampu menggerakkan dan berpengaruh dalam forum. Hingga kemudian dari kiat yang diberikan tersebut, kami diminta untuk mempraktekkannya di masing-masing kelompok yang sebelumnya dibentuk secara acak dari games yang diberikan.

Apa sajakah kiat agar kita bisa menggerakkan dan berpengaruh dalam forum? Simak ulasan berikut.

1. Rumus 3V

VISUAL
Meliputi penampilan, mimik wajah dan bahasa tubuh. Prof. Albert Mehrabian ahli Psikologi dari UCLA University dalam temuannya terkait pesan perasaan yang biasa disebut dengan aturan 7%-38%-55%. 7% mewakili  bahasa verbal, 38% vokal, dan 55% visual.

Komponen visual ini meliputi; Penampilan, Mimik dan Bahasa Tubuh. Seorang mentor hendaknya berpenampilan menarik sesuai dengan usia audiens/ mentee. Sesedih apapun mentor, hendaknya mimik wajah terbaik dengan senyum terikhlas menjadi sesuatu yang penting saat berhadapan dengan para mentee, dan yang ketiga bahasa tubuh. Bahasa tubuh ini juga termasuk bagian yang mendukung penampilan dari mentor dalam menghadapu mentee.

VOCAL
Vocal ini menjadi penting sebagai prasyarat agar pesan yang disampaikan itu benar-benar sampai kepada mentee dengan baik dan benar.

Ada tips untuk melatih vokal kita sebagai seorang mentor. Rumusnya ANTV. Apakah itu?

A - tur Pernafasan
N - ada
T - empo
V - olume

VERBAL
Meski memberikan sumbangsih hanya 7% (masih menurut temuan dari Prof. Albert Mehrabian) tetapi verbal masih tetap menjadi bagian dari pesan.

Mengingat rumus V ini membuat saya yang saat itu menjadi peserta sekaligus panitia, selalu tak lepas dari kisah dramatik tentang proses hijrah yang beliau sampaikan di awal presentasi. Seorang Tutus dengan tampilan nyentrik berkaos V-neck warna kuning, rambut bercat, dan celana sobek-sobek menjadi peserta syuro' yang paling mustahil kala itu.

2. Rumus OPIC untuk Presentasi 
Ada tiga rumus presentasi yang terangkum dalam OPIC. Apa saja ketiga rumus tersebut?

OPENING
Ada beberapa poin yang bisa kita sampaikan saat opening, yakni:
Best quotes, salam, curi perhatian audiens dan perkenalan. 

INTI
Pada bagian ini, kita sebagai mentor diminta untuk memunculkan masalah sekaligus memberikan solusinya.

CLOSING
Pada bagian penutup, tekankan dan ulangi sekali lagi, berikan motivasi untuk melakukan, berikan alternatif solusi dan pilih metode closing yang berkesan.

Setelah memberikan kiat-kiat tersebut selanjutnya adalah sesi Show Time. Masing-masing kelompok ada salah satu peserta yang ditunjuk untuk melakukan peer teaching, sementara peserta lain memberikan penilaian.

Suasana peer teaching di Kelompok Emak-Emak Sosialihah
Di akhir presentasi kedua trainer ini senantiasa mengingatkan kepada kami para peserta bahwa yang pertama dan paling utama dari segala metode, teknik dan strategi terbaik apapun, tidak ada yang lebih baik selain kedekatan kita kepadaNya. Serahkan semua kepada pemilik hati para mentee kita. Bahkan Cak Adri mengisahkan sebuah cerita inspiratif tentang seorang Murabbi yang senantiasa berdoa di waktu sholat terakhirnya sebelum melaksanakan amanah menjadi seorang murabbi dengan menyebut satu persatu binaannya tanpa mendoaakan yang lain selain binaannya termasuk doa untuk anak, istri bahkan orang tuanya sekalipun. Beliau berharap dari pengorbanan ini, Allah menggantinya dengan kebaikan yang sempurna untuk seluruh anggota keluarganya.

Lalu, masihkah kita punya alasan untuk tidak membina dari sekarang? Tak tahu cara menjadi murabbi? Atau alasan-alasan lain yang diada-adakan? Padahal, menjadi murabbi mengasyikkan itu tak sesulit dan serempong yang kita bayangkan. Mengganti atau digantikan? Let's to be the best teacher (murabbi) sebelum tergantikan dengan generasi yang lebih baik dari kita sekarang.


Para peserta berpose bersama kedua trainer setelah acara usai
Panitia kece tak mau ketinggalan 

Wallahu a'lam bishowab...

Bumi mahameru, 5 Februari 2018

2 komentar: