Kamis, 15 Februari 2018

Forum Lingkar Pena (FLP): Cerita Segala Rasa


The big family of FLP Lumajang

Gerakkanlah pena cintamu
Berjuang tak pernah ragu
Dengan kata kau tuliskan segala
Menerangi alam semesta

Terus langkahkanlah kakimu
Bersatu padu terus maju
Genggam erat, pegang teguh selalu
Kobarkan panji kebenaran

Sambutlah masa depan gemilang
Cahaya yang terus memancar
Dari lingkar pena sedunia
Berbakti, berkarya, berarti 

(Mars FLP)

Awal Perkenalan

Forum Lingkar Pena yang biasa disingkat FLP mulai saya kenal sejak tahun 2000-an silam. Lewat majalah remaja Annida saya mengenal FLP yang  identik dengan nama besar kakak beradik Mbak Helvi Tiana Rosa dan Asma Nadia, yang kemudian saya tahu adalah founder sebuah organisasi kepenulisan yang bervisi pencerahan ini.

Gayung bersambut, di tahun 2003 saat diri masih duduk di semester tiga sebuah Universitas Negeri di kota Malang, lewat promo seorang kawan sekampung halaman yang saat itu menjadi kepala suku di organisasi ini akhirnya saya mantap bergabung dengan FLP. Walau niat di awal hanya sekedar iseng-iseng mengisi waktu luang saat tak ada jadwal pulang kampung waktu itu. Sampai kemudian memutuskan untuk mantap bergabung dan rutin menghadiri acara belajar nulis bareng setiap dua pekanan bertempat di sebuah basement Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang.

Menyesal? Tentu. Kenapa tidak dari dulu menjadi bagian teman-teman pengasah pena ini. Hanya perasaan rendah diri masih saja menggerogoti diri yang introvert ini. Bagaimanapun, buku diary jauh lebih mengasyikkan sebagai media mencurahkan isi hati dibanding yang lainnya. Sementara di sisi lain, rasa ingin berbagi teramat besar dari sekedar penikmat sejati. Meski pena diri masih teramat tumpul. Minder minded lebih tepatnya.

FLP Ranting UM was 
Born 

"Domba yang sendirian itu akan dimangsa serigala"

Pepatah ini kemudian menjadi lecutan motivasi untuk menanggalkan ego kesendirian berkawan diary. Sampai pada suatu hari tetiba tanpa bekal apapun, di awal tahun 2005 saya berisiniatif untuk mengumpulkan teman-teman dan membuka FLP ranting di Universitas kami, Universitas Negeri Malang . Setelah berdiskusi dengan para pengurus cabang serta support dari beberapa dosen di jurusan, saya pun mengontak Mbak Azimah Rahayu selaku ketua harian FLP pusat saat itu. Setelah mendapat restu dari ketua cabang dan pusat kami pun akhirnya mulai mengkaji AD/ART dan dengan menggelar rapat singkat untuk mempersiapkan tetek bengek administrasi pendirian sebuah ranting.

Pertemuan singkat yang dihadiri kurang lebih sepuluh orang dan sudah termasuk tiga orang dosen pembina secara aklamasi menunjuk saya menjadi ketua. Tanpa bekal, tanpa pengalaman, dan tentu saja tanpa deretan prestasi karya kepenulisan. Padahal di antara yang hadir beberapa sudah memiliki beberapa prestasi kepenulisan bergengsi. Hanya berbekal semangat dan support yang luar biasa dari bapak ibu dosen beserta teman-teman yang hadir saat itu, saya pun menerima amanah ini dengan bola mata berkaca-kaca. Bismillah, semoga saya bisa. Tekad saya melangit asa.

Ketua Pertama yang Gagal

Dua tahun saya mengemban amanah ini. Sukses? Jangan ditanya. Ukuran sukses itu relatif, tetapi saya merasa saat itu sukses menjadi ketua pertama yang gagal.

Predikat ketua yang gagal memang layak disematkan pada saya kala itu. Di FLP, meski bukan merupakan kesepakatan yang diucapkan, tetapi semacam sudah menjadi sebuah indikator kelayakan bahwa seorang ketua itu 'wajib' memiliki karya (buku) single.

Sementara saya? Dua tahun mengemban amanah  menjadi ketua ranting UM, jangankan satu buku single, sebuah antologi pun belum bisa terealisasikan. Jadi, dengan penuh kesadaran saya mengakui kalau saya memang ketua yang gagal. *hemm...bangganya, sambil tutup muka pake bantal 😂

Bersama itu Terasa Lebih Indah


Foto rangkaian kegiatan launching FLP Lumajang


Dalam rangka rekruitmen anggota baru, atas masukan dari dosen pembina, kami disarankan untuk mengadakan sebuah event kepenulisan. Sebuah event yang bertajuk Gebyar Seni Islami Terkini (GESIT) se-Jatim ini pada kenyataannya tak hanya menggelar kompetisi menulis cerpen saja, tetapi bersama dengan dua lomba lain: cipta dan baca puisi serta lomba nasyid.

Suskseskah? Alhamdulillah, untuk ukuran sebuah FLP ranting yang baru lahir menggelar event besar bahkan sempat mendatangkan pembicara sekaliber Mbak Afifah Afrah kala itu menjadi prestasi tersendiri bagi kami. Heuheu...*kibasjilbab😅

Pun sepadanlah dengan resiko yang didapatkan. Kami kemudian harus menelan pil pahit kenyataan bahwa event besar yang sukses kami gelar itu menyisakan hutang jutaan rupiah kepada salah seorang dosen pembina kami. Jika disebutkan nominalnya, mungkin setara dengan empat hingga lima jutaan sekarang.

Tetapi, di sinilah kemudian kesolidan kami secara internal dalam kepengurusan FLP Ranting UM mulai diuji. Alhamdulillah, dari sini bisa dipastikan hampir semua pengurus tak ada satu pun yang 'cuci tangan'. Kami bersama-sama mulai berpikir cara mengembalikan dana hutang tersebut. Meski bu dosen memberikan pinjaman lunak, tak berarti kami kemudian berpangku tangan dan tak bertanggung jawab. Hingga ide berjualan donat, krupuk dan snack menjadi kesepakatan bersama di antara kami. Kami memasarkan donat, krupuk, dan snack bahkan juga deterjen ramah lingkungan ke seluruh kontrakan dan kos-kosan mahasiswa. Tak hanya di lingkup UM, UB dan UIN pun kita sasar. Tak terkecuali salah satu kampus teknik terkenal, yang sekarang berganti nama menjadi Polinema. Bisa dibayangkan bagaimana letihnya kami mengumpulkan keuntungan berupa receh demi receh yang tak seberapa dibandingkan beban nominal yang ada.

Tiga bulan pertama, keuntungan meski kecil sudah bisa kita gunakan untuk membayar cicilan pertama. Meski uang cicilan tersebut berakhir kita bawa pulang kembali, karena ibu dosen menginginkan uang yang kami kembalikan dalam kondisi utuh. Nah, lho? Mulai putar otak lagi, berpikir kira-kira usaha apa yang bisa meraup keuntungan lebih besar dibandingkan harus jual donat, krupuk dan snack.

Akhirnya, ide itu datang. Dari berjualan donat, krupuk dan snack kami beralih ke usaha persewaan buku cerita dan novel. Maklumlah, saat itu koleksi buku-buku kami lumayan mendukung untuk terlaksananya ide ini. Alhamdulillah, hasilnya lebih membuat kami sedikit bisa bernafas lega.

Hingga tiga bulan berikutnya kami pun mulai kewalahan. Kesibukan di kampus, dengan beberapa pengurus bebarengan sedang memprogram KKN dan skripsi membuat tim kami mulai goyah. Pun saya, KKN sekaligus mengajar di sebuah sekolah dasar Islam swasta. Akhirnya, kami pun membuat kesepakatan baru lagi.  Bagi pengurus yang yang sudah memiliki penghasilan diminta kerelaanya untuk menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka yang tak seberapa untuk membantu kembali mencicil kekurangan hutang yang ada. Bismillah, in sya Allah bisa tekad kami masih membaja meski tak sekuat awalnya.

Yang mengejutkan, dalam waktu enam bulan kami berjibaku mengumpulkan keping demi keping rupiah untuk membayar cicilan sisanya, Allah memberikan sebuah kejutan. Bu dosen cantik nan sholihah yang sudah bergelar doktor itu dengan senyum simpul menolak dan meminta kami untuk menyalurkan dana sisa hutang tersebut ke sebuah lembaga zakat terdekat. Sementara sseparuhnya beliau minta dimasukkan kas FLP saja. Masya Allah...kalau ingat kejadian ini rasanya betapa perjuangannya sampai nangis darah menawarkan donat, krupuk dan snack dari kontrakan ke kontrakan. Menanggalkan malu dan segenap ego yang saat itu mendominasi hati. Belum lagi kondisi ini juga memicu riak-riak kecil di antara kami barisan para pengurus Tetapi, show must go on, begitulah kehidupan. Nampaknya Allah sedang memberikan pada kami ujian praktikum dalam laboratorium kehidupan. Dan saya bersyukur, di FLPlah saya pernah mendapatkannya.

Jika kita mau menghitung-hitung betapa karunia-Nya lebih besar dari ujian yang kita dapatkan. Salah satu hal yang menggembirakan, barangkali kisah ini tak hanya akan menjadi sebuah kisah untuk diceritakan kepada anak cucu FLP mendatang. Lebih dari itu Dia-Nya membonusi kami sebuah ikatan persaudaraan dengan ibu dosen itu hingga sekarang. Masya Allah...syukur yang tak terkira dan terkatakan melebihi rizki berupa materi sekalipun.

FLP Jauh di Mata Dekat di Hati

Hingga di penghujung tahun 2007 saya harus mengakhiri pengabdian saya, mengemban amanah di FLP Ranting UM tercinta. Memilih konsentrasi di dunia pendidikan membuat saya semakin 'jauh' dari FLP. Itu artinya saya pun semakin tidak produktif. Hanya sebuah karya berupa Buku Ajar Aku Cinta Bahasa Indonesia untuk Kelas 5A sukses saya garap dengan penuh perjuangan. Paling tidak lumayanlah untuk menambah informasi dalam kolom karya tulis pada CV saya selain skripsi. *hahahaha...😄

Beberapa kompetisi menulis lokal berupa lomba cerpen dan artikel pendidikan saat saya vakum dari FLP pernah saya dapatkan. Meski saat itu agak kurang serius dengan mengerjakannya pada saat-saat 'injury time'. The power of kepepet, maka jadilah naskah itu saya kirimkan dengan ragu-ragu. Saat itulah saya begitu rindu dengan FLP dan segala hiruk pikuknya saat diskusi karya. Saya pun tersadar, FLP masih menetap di hati saya.

Apalagi ditambah salah seorang ustadz sesama pengajar di sekolah, sebut saja ustadz Darwanto-novelis dan cerpenis kece yang punya nama pena Masdar Zainal ini kembali mengiming-imingi saya untuk kembali aktif di FLP. Hampir setiap ada event FLP di Malang ustadz Wawan, begitu saya biasa menyapanya akrab, selalu mengajak saya untuk hadir, minimal informasi seputar FLP Malang masih sering terdengar. Tapi, entah alasan apa yang saat itu lebih tepat saya kemukakan selain kesibukan yang tak berujung pangkal.

Diskusi Sastra: Awal Cerita FLP Lumajang Ada


Diskusi sastra


Selayaknya kekasih, ada rindu yang menggebu jika lama tak bertemu. Begitulah saya dan FLP. Kerinduan itu seolah menusuk-nusuk kalbu. 


Dapoer Boenda adalah saksi bisu. Malam itu, tepatnya tanggal 12 September 2015 kami menyelenggarakan sebuah diskusi sastra yang diambil dari salah satu novel Mbak Asma Nadia: Cinta Diujung Sajadah. Sengaja diskusi ini kami gelar untuk umum, di sebuah warung yang baru dibuka di kawasan Lumajang kota, Dapoer Boenda.
Setelah sebelumnya kami sebar undangan online lewat sosial media. Alhamdulillah, 10 orang hadir di sana. Tiga perempatnya adalah anggota pengajian yang saya kelola, sementara 3 lelaki sisanya sengaja hadir karena mengetahui undangan ini dari akun FB sahabat Lumajang Bergerak.

Kami yang hadir di sana saat itu tetiba saja ingin menggagas sebuah forum diskusi sastra dan kepenulisan yang berkelanjutan. Minimal menjadi sebuah komunitas pecinta sastra. Pucuk dicinta ulampun tiba, beberapa hari sebelum pertemuan ini berlangsung sebenarnya saya sudah sempat mengontak seorang sahabat lama, penulis juga, dan punya histori menjadi sekretaris saya di awal FLP UM didirikan, Fauziah Rachmawati-Dek Zie begitu saya biasa menyapanya yang saat itu menjadi wakil ketua FLP wilayah Jatim. Setelah disampaikan kepada pengurus wilayah, alhamdulillah tepat di hari Ahad, tanggal 15 November 2015 FLP Lumajang resmi ada secara de facto sekaligus de yure lewat SK kepengurusan yang diantar langsung oleh ketua wilayah saat itu, Rafif Amir Ahnaf. Turut hadir Dek Zie dan Mbak Noer membersamai pak ketua wilayah yang diawali dengan rangkaian turba di malam harinya bertempat di kediaman saya.
Serah terima SK 

Tumpeng FLP 

Esok harinya, bertempat di sebuah warung kembang tempat mangkal teman-teman komunitas Lumajang, Rafif Amir memberikan sambutan yang lebih layak disebut sebagai orasi penyemangat bagi kami para tunas literasi. Sebagaimana yang diberitakan, dengan prestasi yang telah ditorehkan, Lumajang akan menjadi kabupaten literasi. Karena dari rumor yang menjadi viral bahwa kabupaten ini juga dijuluki sebagai kabupaten seribu preman. Menjadi momentum awal bahwa anggapan itu akan kita geser dengan kesiapan melahirkam penulis-penulis besar dari kabupaten ini. Sehingga kelak akan dijuluki kabupaten dengan seribu bahkan sejuta penulis.

Launching FLP Lumajang yang Tak Terlupakan



Launching FLP ditandai pemukulan gong oleh Bupati Lumajang


Hari itu, Ahad, 10 April 2016, di pendopo Kabupaten Lumajang sejarah baru telah ditorehkan. Launching Forum Lingkar Pena cabang Lumajang, diharapkan mampu menjadi organisasi kepenulisan yang siap bersinergi dan bekerja sama dengan pemerintah untuk mendukung gerakan literasi sekolah menuju Lumajang menjadi kabupaten literasi.

Acara yang sebelumnya didahului dengan lomba menulis Feature bertemakan "Ayo Menduniakan Lumajang" untuk siswa SMA sederajat, mahasiswa dan umum ini dihadiri oleh sekitar 200-an orang. Baik dari kalangan pemerintah, pelajar, teman-teman pers, dan organisasi serta komunitas yang ada di Lumajang menambah semaraknya acara Launching yang ditandai dengan pemukulan gong oleh bupati Lumajang, Bapak H. As'at Malik, S. Ag. Turut hadir dalam acara ini seorang writerprenuer terkenal Bapak Dukut Imam Widodo menambah kemeriahan acara Launching FLP Lumajang yang kami gelar.


Berkah Menjadi Tuan Rumah Writing Camp 


Panitia writing camp bersama Mbak Sinta Yudisia

Saat menerima penghargaan sebagai FLP cabang Pejuang 


Gelaran Silatwil (Silaturahim Wilayah) FLP Jatim dengan konsep writing camp di tahun 2016, menunjuk FLP Cabang Lumajang menjadi tuan rumah. Suatu kehormatan dan tantangan yang luar biasa untuk bisa memberikan yang terbaik buat teman-teman FLP se-Jatim.

Memilih destinasi kebun teh gucialit bukan tanpa sebab. View dan suasana yang dihadirkan pesona gucialit sangat pas dengan kebutuhan para penulis.

Hadir pula di sana, sosok penulis nasional sekaligus ketua umum FLP sedunia, Mbak Sinta Yudisia yang juga berkesempatan memberikan asupan energi berupa motivasi buat teman-teman penulis yang hadir saat itu.

Hingga dalam puncak acara writing camp ini, FLP cabang Lumajang sekali lagi mendapatkan amanah sekaligus berkah dengan terpilih menjadi pemenang FLP
cabang pejuang dari berberapa nominator FLP cabang yang terpilih. Alhamdulillah, gerimis hati kami seolah dipenuhi bunga-bunga.



FLP : Tak Sekedar Bisa Nulis dan Buat Buku


Biar bisa jadi penulis. 
Biar bisa punya buku.
Sambil menyelam minum air, siapa tahu bisa ketemu jodoh. 
Dan lain-lain, dan lain-lain


Barangkali itulah sedikit dari begitu banyaknya alasan kenapa seseorang ingin bergabung menjadi anggota FLP. Pun di FLP Lumajang ada banyak yang 'mau' dan 'ingin' bergabung menjadi bagian dari FLP, hanya saja setelah bergabung menjadi anggota tak sedikit yang kemudian memutuskan 'menyerah'.

Banyak hal tentunya yang melatarbelakanginya. Salah satunya ada yang merasa tidak bisa menerima bahwa islam dan sastra tidak bisa disatukan, mereka masih mendikotomikan keduanya. Tak jadi soal, FLP hanya menerima anggota yang benar-benar memiliki komitmen kuat untuk mensinergikan keduanya.

Sebagai organisasi kepenulisan, tentu saja FLP bukan hanya berfungsi sebagai pabrik penghasil para penulis saja. Sebaliknya, penulis yang dihasilkan oleh FLP adalah penulis yang bervisi pencerahan. Karena kami meyakini, bahwa apa yang kami tulis kelak nanti akan dimintai pertanggungjawaban.

Menjadi Mujahid Pena Bekerja untuk 
Keabadian 


Saat karya selesai ditulis, maka itu artinya kita sedang memperpanjang usia.
(HTR)


"Bunda berarti hidup terus ya?". Hidup terus, meminjam dua kata ini dari mas sholih, anak saya yang berusia 9 tahun saat membaca tulisan itu di dinding kamar saya. Tertawa seketika. Kemudian menjelaskan masih dengan senyum dan binar penuh semangat berapi-api. Tentu saja sesuai dengan level pemahannya. 

Sejatinya benar, usia itu memiliki batas. Tetapi dengan kita menulis, seolah kita akan terus hidup. Menjadi penulis adalah bekerha untuk keabadian. Apalagi bersama FLP kami tak hanya belajar merangkai kata, menuangkan kisah ke dalam tulisan semata. Ada kebermaknaan, ada keberartiaan di sini yang kami dapatkan dari jiwa-jiwa penuh cinta atas dedikasi dengan muara tujuan yang tak hanya duniawi sebaliknya visi rabbani untuk tujuan ukhrowi senantiasa terpatri. Terbukti sampai saat ini karya kami selalu memberi sentuhan inspirasi.

Wallahu a'lam bishowab...

SELAMAT MILAD FLP KE-21, KAMI SIAP MEMBANGUN BATU BATA PERADABAN DENGAN KARYA-KARYA YANG MENCERAHKAN. TETAPLAH BERBAKTI, BERKARYA DAN BERARTI UNTUK NEGERI. 

SALAM LITERASI BERKEADABAN! 



#miladflp21#kisahinspiratifFLP






















This entry was posted in

3 komentar:

  1. Kibas jilbab warna apa, Bund? :D

    Masya Allah waktu pembukaannya saja FLP Lumajang sudah teope begete. Sukses terus yaa..

    BalasHapus
  2. Kenapa itu kemarin ndak terpublish komennya?

    BalasHapus