Kamis, 15 Februari 2018

Cincin Mahar





“Pemirsa, berita viral kali ini datang dari seorang ibu rumah tangga muda yang mengunggah video curahan hati di sebuah akun youtube pribadinya. Di duga wanita tersebut merasa kesal kepada sang suami yang kerap tak menghargai jerih payahnya padahal ia sudah rela lelah demi mengurus rumah tangga. Video yang berdurasi kurang dari 1 menit tersebut memperlihatkan seorang wanita dengan air muka tampak mendung dan ocehan apa adanya tanpa balutan rasa malu membeberkan pada publik”. Dengan nada penuh dramatisasi sang host acara itu menyampaikan berita curhat ibu-ibu di social media yang menjadi viral.
Sejenak Astuti tertegun dengan berita viral dari acara pagi bertajuk morning-morning happy dari sebuah stasiun televisi tersebut. Seolah mengusik jiwanya. Bukankah saat ini apa yang dialami wanita muda pelaku video viral tersebut sama dengan yang terjadi dengan dirinya saat ini?

Helaan nafas panjang mendadak merasuki rongga alveolinya. Menatap baby Ihsan yang satu jam lalu rewel tak mau disuapi. Semalam hanya tersuplai ASI tanpa henti, badannya sumer dan BAB berkali-kali. Otomatis, hampir semalam suntuk mata Astuti tak bisa terpejam. Begadang. Hingga membuatnya nyaris sholat shubuh kesiangan. Benar saja sarapan yang harus ia siapakan untuk Mas Burhan dan si sulung Iman harus terlambat dua puluh menitan. Iman yang sudah duduk di bangku sekolah dasar tahun ini juga tak ketinggalan ikutan rewel menambah kepanikan di pagi hari yang crowded karena semua minta dilayani.

“Kaos kakiku di mana, Bund?”
“Buku Paket IPA ku kemarin tak taruh di meja belajar kenapa ndak ada ya?”
“Bundaaaaa…Iman lupa kalau hari ini bu ustadzah meminta kami membawa kain perca untuk pelajaran SBK. Gimana dong Bund? Iman takut bilang ke Ayah kalau mendadak begini. Bisa-bisa Ayah marah, Bund.”

Mendadak jarum jam seperti berhenti berputar, memilih prioritas mana yang harus dikerjakan meski wanita adalah makluk multi tasking paling sempurna, tetapi karena semalam energinya habis untuk begadang, membuat atmosfer rumah jadi berbeda. Letih. Tentu saja itu penyebabnya.

Terngiang nasehat ibunda, bahwa jadi ibu itu modalnya cuma satu: sabar. Buru-buru ia menarik nafas sambil berucap istighfar. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyuarakan nyanyian karaoke cuma-cuma kepada penghuni rumah. Keep smile and cooling down, sambil mensabar-sabari diri sembari membantu mencari peralatan si sulung Iman yang teledornya minta ampun.

Belum tuntas melayani si sulung, tangis baby Ihsan pecah terdengar dari ruang kamar sebelah. Buru-buru Astuti menujunya. Membujuk baby Ihsan untuk mau sedikit saja memakan bubur tim yang sudah disiapkan sedari tadi oleh Astuti. Sebagaimana bayi tidak bisa kita kendalikan seberapun kita memegang remote kontrolnya. Ia adalah makhluk kecil yang sedang butuh perhatian. Nempel dan nenen. Hanya dua hal itu yang mau dilakukan setelah Astuti yang sibuk membujuk dengan segala cara.

Dari arah meja makan Iman kembali menciptakan kegaduhan. Masih belum bisa mandiri dengan terus saja bertanya ini itu, di mana letak lauk dan nasi, dan lain-lain, dan lain-lain.
Kehebohannya yang tak berkesudahan memancing emosi Ayahnya yang sedari tadi terlihat berkomunikasi dengan seseorang di seberang sana. Urusan pekerjaaan barangkali. Jika menyangkut satu hal itu, Astuti pun tak berani menginterupsi sang suami. Astuti hanya menguati diri dan mensabari hati dengan memperbanyak istighfar dalam hati.
“Ndak sarapan dulu, Mas? Itu sarapannya sudah siap. Hanya mohon maaf Ihsan lagi rewel jadi ambil sendiri ya.”
“Gimana sih, kamu sih ndak bisa jaga Ihsan makanya dia sampai sakit begitu. Ya sudah aku berangkat sekarang, nanti aku sarapan di kantor saja.”
“Oh iya Mas, itu tadi Iman minta tolong di antar sebentar ke toko souvenir untuk membeli kain perca. Kemarin ada tugas dari sekolah untuk pelajaran SBK katanya. Maaf aku ndak bisa ninggal Ihsan, minta tolong ya, Mas?”
“Ini juga, selalu cari masalah. Awas, jangan diulang lagi!” , bola mata Burhan yang tak begitu besar seakan mau keluar bersama sumpah serapah yang baru daja ditumpahkan kepada sulungnya, Iman.

Burhanuddin Ahmad, seorang akuntan di sebuah perusahaan properti lulusan Universitas Negeri ternama di Jawa Timur. Sembilan tahun lalu laki-laki itu mempersunting Astuti- Astuti Kusumaningati, seorang sarjana pendidikan yang rela meninggalkan pekerjaannya sebagai guru di sebuah sekolah dasar Islam swasta demi ridho suaminya. Burhan dan Astuti menikah tanpa proses berpacaran, ia melalui proses ta’aruf lewat guru mengajinya saat masih tinggal di Malang dulu.

“Kalau masih akhwat itu amal  yaumiyah-nya harus dua ratus persen, lho Dek. Sebab, nanti kalau sudah jadi ummahat jika berkurang pun, sisanya masih seratus persen”. Terngiang kata-kata Mbak Murni, ustdzah pendamping dalam forum pengajian pekanan di kelompok Astuti. Sudah hampir lima belas tahun, tetapi kalimat itu seolah menjadi mantra sakti saat amal yaumiyah Astuti mulai kendor.

Saat ini ia juga sedang diuji. Mas Burhan tidak seperti dulu lagi. Ia tak lagi aktif hadir dalam agenda pegajian rutin pekanan. Beberapa kali Astuti mencoba untuk bertanya dengan pelan dan sabar. Akan tetapi, selalu saja berakhir dengan pertengkaran dan perang dingin tak berkesudahan. Akhirnya hingga detik ini pun Astuti lebih memilih bungkam. Mbak Ningsih guru ngaji Astuti sempat beberapa kali bertanya kepadanya. Tetapi setiap kali ditanya, Astuti tak sanggup menceritakan semuanya, sebaliknya yang tertumpah adalah air mata. Sambil mendekap baby Ihsan Astuti mencoba tegar.

Tetapi, semakin hari perubahan Mas Burhan semakin menjadi-jadi. Bahkan seringkali terdengar Mas Burhan berkata kasar tak hanya kepadanya tetapi juga kepada Iman, anak sulungnya. Astuti pun terus mencari cara bagaimana mengembalikan Mas Burhan seperti masa-masa awal pernikahannya hingga baby Ihsan lahir. Semua berubah, ditambah karirnya di kantor tempatnya bekerja juga semakin cermerlang. Sebaliknya akhlaqnya makin tak jelas arah. “Astaghfirullah…”, berkali-kali Astuti mengucap istighfar.

Uang dan Dunia. Semenatara kesimpulan Astuti mengarah ke dua hal itu. Pagi itu, Astuti habis sudah dimaki-maki lelakinya itu. Hanya karena pengeluaran rumah tangganya menurut Burhan besar pasak daripada tiang. Padahal Astuti sudah menjelaskan bahwa dana sosial dan beberapa kali Ihsan sakit membuat Astuti harus membawanya berobat ke dokter yang membuat pengeluaran tak terduga terjadi. Tetapi Burhan tak mau mendengar penjelasan Astuti, bahkan ia menuduh Astuti boros dan tidak bisa me-manage keuangan keluarga.

***



Berita tentang derita rakyat Palestina dan bombardir yang terjadi di tanah Gaza, menyusul pengumuman Donald Trump menetapkan Yerussalem sebagai ibukota Israel, membuat umat muslim seantero dunia mengucap sumpah serapah melaknat Yahudi beserta Israel dan Donald Trump tentu saja. Begitu juga Astuti, tak terasa air matanya meleleh menyaksikan berita kebiadaban itu.

Pagi itu sengaja ia siapkan semua kebutuhan Burhan, sambil beberapa kali meminta izin dengan pelan agar Astuti diperbolehkan mengikuti munasharah Palestina yang hari ini akan diadakan di silang Monas. Bersama teman-teman pengajiannya ia sudah berjanji akan hadir. Setelah menggunakan jurus rayuan mautnya, Astuti berhasil mengantongi izin dari suaminya itu dengan catatan Iman dan Ihsan tidak diperbolehkan turut serta, bagaimanapun caranya Astuti harus memikirkan solusi ini. Kediaman Bulek Lastri, tetangga rasa saudara menjadi tempat Astuti sejenak menitipkan kedua buah hatinya.

Astuti sudah sampai di silang Monas beserta rombongan teman-teman pengajiannya sesaat setelah acara dimulai. Menderas butiran hangat keluar dari kedua bola matanya yang tak tertahankan. Meski acara baru saja dibuka dengan tilawah, tetapi ia merasakan ruhnya telah terbang ke bumi para anbiya, kiblat pertama umat Islam, Palestina. Seolah turut merasakan penderitaan saudara-saudara sesama muslim di sana. Terlihat Ustadzah Wiwik salah satu tokoh muslimah berorasi. Dengan lantang ia menyuarakan pembelaannya pada bumi yang tertindas sejak lama itu.
“Saudara-saudara, ada 3 alasan kenapa kita berada di sini. Pertama, karena kita manusia. Sebagaimana manusia satu dengan yang lainnya pasti tidak akan sepakat dengan adanya penjajahan di atas muka bumi ini termasuk di bumi Palestina tercinta.
Kedua, karena kita Indonesia. Palestina adalah negara yang pertama kali mengakui dan memberikan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia kala itu.
Dan  yang ketiga, karena kita seorang Muslim. Seorang muslim itu ibarat satu tubuh, jika ada bagian tubuh yang sakit maka seluruhnya akan merasakan sakit, karena itu saudara-saudara kita di Palestina adalah muslim yang wajib kita bela dan jaga kehormatannya sampai titik darah penghabisan.”
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
“Bebaskan Al Aqsha Bebaskan Yerussalem”.
“Tolak Yerussalem menjadi ibukota Israel”.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Pekik takbir menggema memecahkan keangkuhan wajah Jakarta yang hari itu memutih. Astuti bersama dengan teman-temannya pun kemudian ikut menggalang dana. Ada yang tiba-tiba mengiris batinnya. Terbayang wajah suaminya yang kasar, sering uring-uringan dan menguji kesabaran.  Bergantian dengan wajah-wajah kusam, penuh peluh dan debu, wajah anak-anak Palestina berkelebat bergantian dengan wajah lucu dan cerdas anak-anaknya yang masih bisa merasakan makanan enak tiga kali sehari terhidang di meja makan tiap hari.

Pening kepala Astuti, remang-remang dalam pandangannya seulas senyum membersamai, meraih kotak infaq seraya melepas cincin maharnya di sana. Entahlah, saat itu ia tak lagi menggunakan logikanya. Biarlah, ia serahkan semua kepada sang penggenggam hatinya, semoga ujian ini segera berakhir, dan Burhan kembali menjadi seorang suami yang seperti di awal ia kenal.

***



Tangis baby Ihsan seolah menjadi sebuah alarm alami untuknya malam itu, mendadak terbangun dengan nafas terengah dan tubuh berlumuran peluh. Sejenak ia melirik ke jam weker di meja samping pembaringannya. Jam menunjukkah pukul 22.00 WIB, rupanya ia tadi terlelap saat menidurkan baby Ihsan sampai ia lupa belum melaksanakan sholat isya’ di awal waktu. Masih dengan langkah gontai ia berbegas mengecek kamar sebelah. Tampak guratan lelah dari wajah lelakinya yang masih berpakaian lengkap di atas pembaringan. Seketika degub jantungnya berdetak keras, saat mendapati tak ada cincin mahar bertengger di jari manisnya.

SELESAI

Bumi Lamadjang, 15 Februari 2018 

2 komentar: