Minggu, 11 Februari 2018

Cermin Kaca Retak (1)



"Apa yang akan kau lakukan pada cermin itu, Rosa?", bisik hatinya penuh tanda tanya.
"Retak, tak banyak yang bisa kau perbuat jika sesuatu itu telah retak", kalimat itu masih saja terngiang dengan jelas di benaknya yang lara, kala itu.
"Memperbaikinya? Itu hanya pekerjaan sia-sia, Rosa!", bisik sisi hatinya yang lain.

Malam itu, ia menjadi manusia paling nekat. Ia persembahkan nalarnya kepada hati nuraninya. Kalah. Akhirnya keputusan untuk pergi dari istana kecil itu menjadi pilihannya.

Berbalut kabut kesedihan, rintik di matanya seakan mendesak untuk segera turun. Meleleh bersama peluh rindu tentang arti kebahagiaan.

"Apakah Tuhan sedang tidur nyenyak?",ia mulai putus asa, berhenti pada sebuah tanya retoris yang membungkam sisi lain ketahuidannya selama ini pada fase perkenalannya dengan Tuhan.
Mendadak, lamunannya buyar. Terbayar dengan kekagetannya pada bunyi bising klakson bus malam yang ia tumpangi.

***

Rosdiana Kusumaningati, keluarga, tetangga dan teman-temannya sering menyebutnya, Rosa. Semasa sekolah ia bukan termasuk siswa yang populer. Biasa saja. Bahkan, mungkin tak banyak yang mengenal sosoknya.

Berbalik seratus delapan puluh derajat saat ia mulai duduk di bangku kuliah. Seolah menjelma menjadi sosok yang sangat kontras. Dengan penuh kesadaran, sosok yang sebelumnya sangat modis ini mendadak memutuskan mengenakan gamis dan jilbab lebar yang tak lagi 'up to date' di zamannya. Semua bukan tanpa sebab. Cahaya hidayah dengan susah payah ia coba raih, hingga kemudian sejenak berhenti. 'Mahabbatullah', ya satu kata itu yang kemudian menyeretnya menjadi pribadi yang hingga kini masih tertatih-tatih untuk ia gapai.

"Menggapai cintaNya yang hakiki, mengapa nampak begitu berat?", seringkali ia meracau tak jelas akan pergulatan dalam batinnya. Hanya karena persembahanNya yang ia anggap tak pernah mungkin akan terjadi di kehidupannya kini.

Retak. Ia terpenjara dengan keretakan yang tercipta. Entah apa namanya, yang ia tahu tiba-tiba beberapa opini menyebutnya demikian, pun hati nuraninya mengiyakan.
Retak. Hanya ada dua pilihan. Membawanya pada ritme gelombang teta, atau sebaliknya membiarkannya berada pada kondisi beta, menjadi kepingan yang tercecer, tercerai beraikan.

Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar