Kamis, 01 Februari 2018

Wanita yang Dirindu Surga

Reny's cake Tanjung Selor, Bulungan, Kaltara.



Tak seorang pun muslimah tak mengenal sosoknya, wanita pertama yang bersaksi bahwa tiada illah selain Allah. Dan sejak saat itulah Rasulullah tak lagi sendiri, bersama sang istri Khadijah binti Khuwailid menapaki jalan dakwah yang penuh onak dan duri hingga Alquran mencatat sebagai wanita yang pengorbanannya tak pernah diragukan lagi.

Potret Fatimah hadir dengan penuh makna dan hikmah. Allah hendak memberikan gambaran tentang syukur dan sabarnya yang luar biasa tak terukur  menjadi poin plus baginya sebagai salah satu dari keempat wanita penghuni surga lainnya.  Selama hidupnya, tak diakrabkannya putri rasulullah ini dengan materi keduniawian oleh Allah adalah bukti bahwa kelak kebahagian kekal akan di dapatkannya di surgaNya.

Wanita ketiga: dialah ibunda Maryam, sosoknya adalah gambaran dari keteladanan sebuah kesabaran yang digambarkan oleh Alquran. Semenjak dilahirkan ia sudah menjadi wanita pilihan dari keluarga Imran yang juga terpilih. Hingga Allah layak mengabadikan satu-satunya nama keluarga ini dalam Alquran.

Pun dialah Asiyah wanita teguh istri seorang raja diraja di zamannya yang terkenal kejam lagi dzolim, Fir’aun as. Kisahnya hadir meleganda di antara kisah keempat wanita penghuni surga lainnya hingga para wanita di era kekinian layak mendapatkan pelajaran berharga. Asiyah adalah sosok yang teguh dalam mempertahankan aqidahnya. Bayangan keindahan istana surga mengalahkan kepedihan atas perilaku dzolim yang dilakukan Fir’aun terhadapnya, ia bawa selalu harum bunga iman yang tercermin dari akhlaqnya hingga ia dijuluki sang mawar gurun pasir. Setangkai mawar akan tetap indah meskipun telah tiada meninggalkan kesan yang tak terlupakan.

Apalah saya, terlahir sebagai wanita akhir zaman yang mengaku ummat Muhammad Rasulullah SAW.  dengan segala kekurangannya. Hendak belajar meneladani keempatnya agar menjadi wanita yang kelak tak hanya merindu tetapi juga ‘dirindu’ surga. Meski tak pernah bertatap muka dengan keempatnya tetapi cita-cita saya menjadi wanita yang dikenal penduduk langit seolah selalu melangit asa.


Khusnudzon atas TakdirNya

“…boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah:216)

Sebait ayat kembali terngiang tatkala ego menguasai jiwa yang mengaku beriman. Protes. Meski sesaat, protes itu pernah saya kirimkan kepada sang penggenggam nyawa, Allah SWT. Kembali ayat itu seolah menampar saya. Ada kegaduhan yang tercipta antara nurani dan logika, keduanya dahsyat bertarung dalam gemigil raga yang tertatih-tatih mengumpulkan puing demi puing prasangka kepada sang pemilik nyawa.

Lima tahun lalu, Allah memanggil separuh nafas saya dalam sebuah peristiwa kecelaan. Benarlah apa yang tertulis dalam firmanNya bahwa yang hidup itu pasti akan mati-kullu nafsin dzaiqotul maut. Demikianlah kematian itu juga tak bekabar dan tak pernah kita tahu kapan ianya hadir menyapa kita. Semuanya begitu tiba-tiba tak bisa kita meminta sebentar saja menundanya. Sama. Seperti yang terjadi kala itu. Hingga kemudian pertarungan antara nurani dan logika seketika terhenti demi mendengar kata khusnudzon atas takdirNya dari seulas lisan penuh senyum saudara seiman yang terlahir dalam rahim ukhuwah di ruang serba hijau ICU sebuah RSUD setempat.

Ya rabb, memejam sembari melantunkan doa-doa terbaik untuk sang kekasih hati yang beberapa waktu lalu pergi tanpa meninggalkan pesan pengantar sedikitpun. Dengan masih menahan nyeri yang tercipta dari multiple fraktur yang menimpa diri, terus khusnudzon atas takdir ilahi.
Sebuah kekuatan tetiba hadir memenuhi aliran darah yang seolah membeku beberapa saat lalu. Kehadiran bocah berumur lima setengah tahun bermata bening di hadapan saya seolah mengubah segalanya. “Saya harus tetap bertahan,” pekik saya tak berkesudahan setelah  sesaat lalu menelan pil pahit kehilangan orang kesayangan.

Life is Must Go On

Life is must go on. Begitulah, meski tanpa ada lagi seseorang yang bisa diajak berbagi tetapi hidup harus terus berjalan. Seperti tekad saya di awal saat energi besar itu saya peroleh dari mata bening si sholih yang masih tak mengerti arti kehilangan. Cukuplah kemudian saya belajar untuk menjadi bunda yang selalu ada di setiap episode perjalanan hidupnya.

Bersyukur di awal-awal mendampinginya tanpa ayah, ia seumpama sosok guru kecil yang selalu menghadirkan tausiyah dari lisannya yang penuh hikmah. Teringat saat awal saya kembali dari rumah sakit dengan menggunakan kursi roda dan tak lagi bisa bangkit untuk mengajaknya berkejaran seperti biasanya. Tak ada gurat kesedihan dari wajah mungilnya, pun sorot kesedihan pada bening matanya. Sebaliknya, ia hadirkan canda dalam rangka usahanya menghibur saya. So sweet sekali caranya, spontanitas yang tak pernah saya duga pun tak diajarkan dalam pelajaran formal di sekolah manapun. Diusapnya butiran bening di ujung mata saya yang tak berhenti mengalir deras setelah sukses ia menggelar konser sederhananya di hadapan saya. Masih lagu keluarga beruang dari Korea kesukaannya, yang diajarkan oleh ustadzah sholihah bermana Khaeratunnisak.

Keluarga beruang ada di rumah
Bapaknya…
Ibuknya…
Anaknya…
Bapak beruang gendut
Ibuk beruang langsing
Anak beruang…lucunya-lucunya
Pararampam

Bunda Single Harus Fighter dan Anti Baper

Menyaksikan si sholih tanpa dibersamai sang ayah di beberapa momen penting sekolah kadang membuat ada sesuatu yang berdesir di dada. Selalu saja ada kesedihan mendalam menyaksikan ianya menghebat hanya dalam dekap ibunda.

Menjadi orang tua single bukanlah sebuah pilihan, bagi saya ini adalah sebuah takdir yang harus selalu disabari dan disyukuri di setiap jeda mentafakkuri.  Menyemangati diri seolah menjadi babak baru dalam hari-hari saya melanjutkan peran menjadi orang tua tunggal. Sejatinya motivator sejati itu adalah diri kita sendiri. Saya yakini kalimat itu untuk menguati diri yang kadang merapuh saat butuh partner diskusi dalam mendidik si buah hati.

Menjadi single parent juga tidak semulus yang saya bayangkan dan pikirkan saat itu. Tantangan dan ujiannya sungguh luar biasa.Ujian demi ujian seolah senantiasa tak ingin pergi jauh dari kehidupan saya dan si sholih. Di sinilah kesabaran saya mulai diuji. Dan mulai saat itulah saya ingin selalu berdekat-dekat denganNya apapun keadaan saya. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Laa haula walaa quwwata illah billah…

Pernah suatu hari saya mendapatkan perlakuan tak enak dari saudara serahim ukhuwah. Atas status saya yang masih dipandang sebelah mata oleh mayoritas masyarakat sekitar membuat ianya pantas menumpahkan kecemburuannya yang tak beralasan kepada saya, saudaranya. Pun humor tak bermutu yang dihadirkan para suami mereka yang berniat melakukan praktek poligami hanya sebuah omong kosong tanpa setitik keberanian terpancar.

Saya sempat ingin menyudahi drama kehidupan ini dengan bersegera untuk menikah lagi. Tetapi, niat yang masih belum seratus persen berbalut keragu-raguan kemudian urung saya lakukan. Tekad saya pun membulat untuk mempersembahkan sisa hidup saya hanya untuk si sholih semata.

Sebaliknya ibu saya, beliau masih berupaya membujuk saya agar mau berumah tangga lagi. Rasa cintanya yang luar biasa mendorong saya untuk segera mencari suami. Hingga celoteh dan dialog lucu ini kemudian terjadi diantara kami: saya, ibu dan si sholih.
“Le, biarlah bundamu menikah lagi. Kasihan kalau sendiri. Uti sudah tua dan menunggu giliran dipanggil sama Allah sebentar lagi.”
“Cari aja wes, tapi tak kasih waktu satu jam ya?”, usulnya tak kalah hebat membuat saya yang lagi menekuri buku sirah nabawi terusik dengan kalimanya tadi.
Uti tak mau kalah menimpali, “Mana bisa nyari suami dalam waktu satu jam? Emang bisa? Gimana caranya?”
“Halah…sana ambil HP tak ajari. Mana bunda, Nda mana HP bunda? Sini tak ajari.”ucapnya antusias.
“Hemm…apa? Maksudnya?”, masih dari arah kamar dan tak beranjak dari atas tilam.
“Iya sini tak ajari cari suami dalam waktu satu jam. Bunda buat tulisan aja DICARI SUAMI IDAMAN HUBUNGI NO WA XXXXX. Trus di share di Fb, Twitter dan IG. Paling ndak sampai sejam Bunda lak wes banyak yang menghubungi. Gmpang kan? Cobaen wes.” jelasnya panjang lebar dengan logat jawa timuran seolah semudah itu mencari suami.

Hemm…emang kids zaman now yang lahir di era digital ya begitulah, tanpa ada yang mengajari sekalipun otaknya begitu encer memberikan solusi kekinian. Saya pun kemudian hanya melongo mendapatinya mengacungkan jempol tanda kemenangan telak.

Menjadi Wanita yang Dirindu Surga

Siapa wanita yang tak merindu surga? Jika ditanya hampir mayoritasnya punya cita-cita yang sama. Tetapi menjadi wanita yang dirindu surga? Pernahkah kita membayangkannya bahkan sejak dini sudah merancangnya?

Pun saya, saya hanya wanita biasa yang begitu merindu surga tapi tak yakin akan dirindukan surga. Sebagaimana kisah keempat shahabiyah yang patut diteladani. Khadijah, Fatimah, Maryam dan Asiyah sungguh memberi banyak percikan hikmah kehidupan. Hingga sayup-sayup terdengar alunan nasyid dari masa lalu yang dibawakan oleh grup nasyid Raihan yang kemudian menjelma menjadi sebuah tekad bahwa mulai detik itu saya akan persembahkan seluruh hidup saya hanya untuk mengharap ridhoNya semata. Menjadi wanita yang dirindu surga senantiasa melangit asa dalam dekap lantunan doa-doa terbaik kepadaNya.

Tuhanku ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku maafkanlah kejahilan hambaMu
Ku sering melanggar laranganMu
Dalam sedar ataupun tidak
Ku sering meninggalkan suruhanMu
Walau sedar aku milikMu

Bilakah diri ini ‘kan kembali
Kepada fitrah sebenar
Pagi kuingat petang kualpa
Begitulah silih berganti

Oh Tuhanku,
Kau pimpinlah diri ini
Yang mendamba CintaMu
Aku lemah aku jahil
Tanpa pimpinan dariMu

Ku sering berjanji di depanMu
Sering jua ku memungkiri
Ku pernah menangis keranaMu
Kemudian ketawa semula

Kau pengasih
Kau penyayang
Kau pengampun
Kepada hamba-hambaMu

Selangkah ku kepadaMu
Seribu langkah Kau padaku
Tuhan,
Diri ini tidak layak ke surgaMu
Tapi tidak pula aku sanggup ke nerakaMu
Kutakut kepadaMu
Ku mengharap jua padaMu
Mogaku ‘kan selamat dunia akhirat
Seperti rasul dan sahabat


Wallahu a’lam bishowab…

Jogjakarta dalam kesyahduan merinduMu, 25 Desember 2017


















0 komentar:

Posting Komentar