Rabu, 17 Januari 2018

Terapi Cinta untuk Ananda Teristimewa



Tak ada yang lebih dahsyat dari sebuah kata yang mewakili kisah ini, dianya: CINTA.

Kembali, saya belajar mengeja makna cinta dari beberapa kisah yang Allah jumpakan dalam perjalanan ini. Tepat dua pekan yang lalu putra putri mereka harus mengikuti tahapan observasi dalam rangkaian Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Dan, hari ini adalah hari yang mereka tunggu-tunggu. Selembar kertas dengan redaksi DITERIMA membuat binar-binar bahagia di wajah para orang tua. Kekhawatiran yang semula bergelanyut seolah sirna. Menyaksikan beberapa dari mereka pada posisi duduk tidak tenang, bahkan bola mata saya sempat menangkap ada yang komat-kamit baca doa, Masya Allah...sampai segitunya ya.

 "Alhamdulillah, jadi anak saya DITERIMA ya ustadzah!", pekik barisan ibu-ibu yang begitu antusias saat membuka isi amplop dengan segepok hasil observasi yang kami lampirkan. "Jadi, saya harus menemui Kepala Sekolah ya?", nampak ada nada kekhawatiran saat salah seorang petugas yang melayani meminta beberapa orang tua harus menjumpai kepala sekolah secara khusus.
 "In sya Allah Ananda Fulan kami terima dengan bersyarat, Pak, Bu!" Dan sederet kalimat dengan redaksi terbaik sebagai ungkapan cinta bahwa Ananda akan menjadi bagian dari sekolah kami, artinya mereka juga akan menjadi amanah bersama. Tersisa dua amplop di meja saya. Dua nama yang sedang kami tunggu. ADHD salah satunya, info dari ortu saat interview diperkuat data dari guru TK yang mendampinginya. Tetiba teringat sebuah nama, mencoba untuk menerka, sepertinya kalau tidak salah hitung sekarang si empunya nama sudah kelas dua SMA. Masya Allah, si ADHD siswa saya saat masih di SD dulu, bagaimana kabar dia sekarang? Semoga Allah senatiasa menjaganya dan menjadikannya anak yang sholih. Aamiin...

Masih tentang si ADHD, ah...mata saya ikutan basah saat bercermin pada bola mata ibunda yang berkaca-kaca. Beliau berkisah, "Anak saya hampir tujuh tahun usianya, tetapi untuk sholat dengan benar dan mengaji masih belum bisa padahal dulu kakaknya seusianya sudah bisa melakukan semuanya".
"Kami memang terlambat, pengetahuan kami yang sedikit membuat kami terlambat menyadari kondisinya, hingga kami kemudian harus belajar lagi, mencari tahu dari berbagai sumber. Dan satu hal yang kemudian bisa kami simpulkan dari temuan kami. Bahwa, tak ada terapi terbaik selain TERAPI CINTA dari kami, kedua orang tuanya". Timpal sang Ayah sepenuh kejujuran membuat saya menghirup nafas dalam-dalam. Setiap anak terlahir istimewa, mereka membawa potensinya masing-masing, hanya kita sebagai orang tua berkewajiban untuk mengarahkannya. Anak berkebutuhan khusus (baca: ABK) adalah anugerah Allah, orang tua sebagai makhluk terpilih untuk mensabarinya. Yakinlah bahwa mereka punya potensi berprestasi yang sama dengan anak-anak pada umumnya. Bisa jadi dia memang belum bisa sholat dengan benar dan mengaji tetapi ada potensi lain yang terkadang kita sebagai orang tua menutup mata akan hal ini.

Benar saja, di akhir dialog kami bertiga deretan prestasi ananda teristimewa tetiba bermunculan dari lisan keduanya dengan binar optimisme yang membara. 

"Bunda kenapa, Bunda sakit ya?", kisah tentang Ananda teristimewa meluncur di akhir diskusi kami. Tentang perhatian dan kepekaannya melebihi dua saudaranya yang lain. Dan kutahu, kalimat tanya itu bukanlah kalimat biasa, tetapi sungguh luar biasa dari seorang Ananda teristimewa: anak kita. 

"...Rabbana hablanaa min azwajinaa wa dzurriyaatinaa qurrata a'yuni waja'alnaa lilmuttaqiina imaamaa... " 
Ya rabb kami, anugeragkanlah Kepada kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. Aamiin... 

Wallahu a'lam bishowab.

Tanjung selor yang beku, 17 April 2017 #catatanPPDB 2017

0 komentar:

Posting Komentar