Selasa, 16 Januari 2018

Pernikahan Itu...

Duduk di pelaminan orang oada suatu masa di zaman old

Menikah itu bukan siapa cepat dia dapat, tetapi menikah itu adalah kesiapan dalam menjalankan ibadah kepadaNya, menjalankan sunnah rasulNya, yang dengan sengaja kita desain sedemikian rupa. 


"Nophe' nih nanti pasti yang akan nikah duluan di liqo' kita."
"Diem-diemnya Nophe' nih menghanyutkan. Bisa-bisa ia jadi yang pertama di antara kita."
"Mana nih undangannya? Katanya mau jadi yang 'the first' di liqo' kita?".
Berbagai celoteh dari akhwat sholihah dalam lingkaran cinta kami masih teringat sangat nyata.

Nophe' begitulah panggilan hits saya kala itu (bahkan sampai sekarang para akhwater yang sudah bertransformasi jadi emak2 sholihah tetap memanggil saya demikian), menurut teman-teman adalah makhluk paling 'woles' jika para akhwat pada heboh bahas pernikahan. Bahkan saya terlihat paling tidak berminat dengan tema ini.

Kalau yang lain pada histeris jejeritan jika ada akwat wa ikhwan pasangan selebritis...*eh pasangan aktifis*yang menikah, menurut mereka ekspresi saya paling 'cool'. Jika beberapa akhwat menggoda dengan ke-woles-an saya, pasti saya biasanya menjawabnya dengan kalimat pamungkas: "tunggu saja tanggal mainnya, paling aku yang duluan." #weeees...sok kepedean

Ledekan demi ledekan teman-teman lebih saya maknai sebagai ungkapan cinta dan doa buat saya yang mungkin agak 'aneh' di mata mereka.

Hingga suatu pagi,

Senandung nasyid ter-baper di era itu membuat saya tersenyum simpul. Bahkan, ndak sadar ikut sayup-sayup mendendangkan.

♫Apabila sudah tiba masaku
Untuk segera mengakhiri lajangku dengam segenap kemampuan Allah berikan in sya Allah azzamku segera kutunaikan

Tapi bila kuraba dalam hati timbul segenap  pertanyaan silih berganti
Akankah semua kulakukan terlalu dini
Berdegup jantung di dada kendalikan diri♬

♪Namun pernikahan begitu indah ku dengar membuat ku ingin segera melaksanakan
Namun bila kulihat aral melintang pukang
Berdebar hatiku maju mundur dibuatnya...

(Pernikahan-Nasyid SPers)

Sambil mengemas undangan yang sudah tersampul plastik, siap untuk disebarkan. Alhamdulillah, doa-doa saudara saya benar terkabulkan. Saya ternyata benar-benar menjadi  yg 'the first' di antara mereka. Saya pun kemudian melangkah, menuju tempat motor diparkir kemudian saya temukan sebait hikmah pada celoteh demi celoteh yang selalu mewarnai lingkaran kami.

Saudaraku...menikah itu bukan siapa cepat dia dapat, tetapi menikah itu adalah kesiapan dalam menjalankan ibadah kepadaNya, menjalankan sunnah rasulNya, yang dengan sengaja kita desain sedemikian rupa. Seperti secarik surat yang masih saya simpan sampai sekarang dari seorang saudara selingkaran cinta saat itu, ianya selalu mengingatkan saya agar senantiasa meluruskan niat untuk terus bercita "Menikah di Jalan Dakwah."

Meleleh air mata saya jika mengingatnya, saya mendekapnya erat dan membelai lembut sayu matanya, meminta doa terbaik darinya, sembari menaruh kaku undangan berwarna biru yang sedari tadi membeku. Semoga ianya juga akan segera dipertemukan dengan kekasih hatinya.
Inni uhibbuka fillah ya ukhti...
8
Wallahu a'lam bishowab...

Catatan hati seorang "ukhti zaman old" yang anti baper...

pict๐Ÿ“ธ with kamera kodak manual taken by: @nayaka_nee owner WO "JANUR" zaman old dengan pose 'nyuri start' duduk di pelaminan sebelum keduluan pengantinnya esok hari. Beginilah, suka dukanya jadi panitia dan bantu-bantu usaha WO. Tapi masih bisa tersenyum bahagia...๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‰

0 komentar:

Posting Komentar