Rabu, 17 Januari 2018

Perempuan dalam Pesawat


Tak ada yang kebetulan dalam pertemuan, pun  sudah mengaturnya dengan detail termasuk tadzkirah di dalamnya agar kita mudah mengambil pelajaran.

Pagi itu, seorang perempuan ayu berkulit kuning langsat tampak mencari-cari nomor kursinya dalam sebuah penerbangan kami menuju kota Balikpapan. Mata kami bertatapan saat kutahu kami duduk bersebelahan. Ku sapu wajah ayunya dengan senyuman, mengangguk sejenak untuk sebuah perkenalan awal. Belum lima menit kami bercakap, diskusi mulai menghangat. Apalagi setelah ku tahu beliau seorang aktifitis advokasi khusus anak-anak.
Takjub diri ini dengan cerita pengalamannya yang mengalir tanpa jeda. Yang kemudian kusebut sebagai 'passion' yang begitu menggelora dari dalam jiwanya. Ayu, mapan, dan tampak berpendidikan. Didukung penampilan yang meyakinkan. Kutaksir usianya di atas empat puluh tahunan. Ada energi positif selama satu jam setengah membersamainya dalam sebuah perjalanan kami kali ini. Tetapi, tetiba ada yang menghangat di pipi saya saat beliau bertanya tentang perjalanan kami, hijrah cinta, dan amanah baru di pulau sebrang. Ada sesuatu yang membuatku tercekat saat harus jujur pada diri sendiri dan mengakui bahwa : "I'm single parent". 

Hal yang tak terduga kemudian mengalir dari lisannya, dengan pipi memerah dan mata berkaca-kaca beliau pun berkisah. Bagaimana kerja keras dan upayanya survive dalam membesarkan ketiga putri beliau yang saat ini sudah mulai beranjak dewasa. Sendiri. Masya Allah...tak pantas rasanya diri ini sedetik pun jika tak bersyukur menyimak kisah perjalanan beliau yang begitu dramatik dan mengharu biru. Astaghfirullah... 

"Khoirunnaas 'anfauhum linnaas"...sebait motivasi inilah yang kemudian membuat beliau bertekad untuk melakukan perniagaan dengan Allah, menginfaqkan jiwa dan hartanya di jalan dakwah, memilih dunia anak-anak dengan mengadvokasi anak-anak jalanan, human traficking, sampai masalah pelecehan seksual. Four thumb for you, Bund! 👍👍👍👍 


Memberi kemanfaatan sebanyak-banyaknya untuk masyarakat, berbuat baik hingga nafas terhenti dan semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga jannahNya, yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita, jika tidak di dunia, bisa jadi Allah kelak memberikannya di akhirat.

Closing statement yang begitu menghati, dengan genggaman tangannya yang kurasakan begitu erat, seolah dimensi waktu terkalahkan dengan sebuah perasaan bahwa kami seperti sudah sangat lama berinteraksi sebelum pertemuan ini.

Ya rabb... Tak terasa, kedua mata ini basah... buliran hangat jatuh di pipi, pun begitu juga dengan perempuan ayu itu. Mengulurkan selembar tisue kepadaku, menyebutkan nama, dan kamipun berpisah. 

*** Pada sebuah pertemuan, terkadang kita berat jika sudah ada di ujung perpisahan... Tetapi, Allah punya caranya sendiri, memisahkan kita dengan orang-orang yang sangat kita cintai, untuk kembali kepada cintaNya yang hakiki...Allahu rabbi... 

Solo, 9 Maret 2017 dalam episode ikhtiar perjalanan cinta 

0 komentar:

Posting Komentar