Rabu, 31 Januari 2018

Panggil Aku Yudi (Sebuah Refleksi tentang LGBT)

Gambar diambil dari mesin pencarian google 

Sudah pernah baca buku saya? Bagi yang sudah, barangkali tak asing dengan kisah ini. Bagi kalian yang belum, buruan gih beli dan baca ya.

Pada judul Panggil Aku Yudi saya bercerita tentang seorang sahabat lama saya yang tetiba saja atas takdirNya kami dipertemukan kembali di waktu dan tempat yang tak pernah kami duga. Ini adalah bagian dari sedikit cuplikan dari kisah Yudi. Next, saya terinspirasi untuk menuliskan kisahnya dalam bentuk novel. Mohon doanya ya, in sya Allah semoga cita-cita ini terijabah. Aamiin...Sekarang simak dulu ya tulisan ini, minimal sedikit menjadi pencerahan terkait isu yang sekarang sedang ramai diperbincangkan. 



Panggil Aku Yudi

Petang itu, saat bersantai di ruang tamu, tiba-tiba ada seseorang yang datang. Sosoknya yang asing dengan masker di muka membuat kami ragu untuk menghampiri sosok misterius itu. Seorang ibu-ibu. Sosok yang sudah berdiri tegak di depan pagar rumah dengan suara lembutnya yang serak-serak basah.

“Assalamu’alaikum... maaf mau numpang tanya rumah Pak S di mana, ya?”

Sontak kami yang sedang bercengkerama terhenyak dengan tanyanya yang mendadak membuat kami terpaksa harus melangkah keluar rumah. Saya yang masih enggan beranjak, hanya melihat sosoknya dari balik kaca.

Pak Lek yang menemuinya jelas saja tak mengerti karena ia pemudik yang dalam waktu singkat singgah di rumah. Sang sosok misterius masih melanjutkan tanyanya, kali ini lebih detail tentang sosok most wanted yang sedang ia cari.

Gemas dengan jawaban Pak Lek, saya pun bergegas dan beranjak menemui sosok misterius itu. Baru saja saya hendak memberikan penjelasan tentang seseorang yang ia cari, mendadak ia menyapa saya dengan ramah sambil membuka masker yang sedari tadi sukses menutup wajah tampannya. Eh, ternyata ia seorang laki-laki. Bukan ibu-ibu seperti dugaan saya di awal tadi.

“Mbak Novi, ya? Saya Yudi, Mbak? Masih ingat dengan saya, Mbak?” tanyanya dengan logat khas Melayu.
Sontak, saya melongo mencoba untuk membuka file ingatan saya tentang sosok Yudi yang ia maksud.

“Yudi?” pekik saya singkat, sambil terus mencoba mengingat-ingat.
“Iya Yudi, Mbak. Ini Yudi, bukankah kita pernah berkawan?” cerocosnya tanpa jeda sambil mencoba meyakinkan saya dengan sebuah ingatan tentangnya yang sudah mulai pudar.

“Subhanallah... Yudi? Yudi si Penari Ular itu?” serasa ada kelegaan luar biasa saat bisa teringat akan sosok Yudi yang ia maksud.

“Ya Allah Yudi, gimana kabar? Ayo, masuk dulu, Yud. Kita ngobrol di dalam saja, ya?” ajak saya untuk memecah kebekuan yang sejenak tercipta di awal perjumpaan kami tadi.

Flash Back....
Sore itu, kami bertujuh sedang disibukkan dengan latihan persiapan untuk performance di sebuah acara bergengsi zaman itu. Panggung Mustika TVRI, siapa yang tak gandrung dengan acara yang selalu ditunggu-tunggu di setiap pekannya oleh masyarakat se-Indonesia Raya, terutama anak-anak seusia saya. Hehehee...

Yudi, saya mengenal sosoknya karena ia adalah salah satu dari tujuh orang yang akan tampil itu. Kala itu, kami bertujuh. Awalnya kami berenam, tetapi kemudian Yudi masuk dalam tim kami. Waktu itu, pembina sanggar kami memasukkan Yudi karena ia mempunyai point plus.

Kemahirannya dalam kayang dan gemulai tubuhnya saat ngedance membuat tim kami tampak lebih berwarna. Tapi, yang menjadi tanda tanya besar dalam benak kami masing-masing adalah ia seorang laki-laki. Hampir semua anggota tim keberatan dengan masuknya Yudi dalam tim. Mereka kasak-kusuk di belakang pembina kami untuk melakukan aksi boikot.

Saat itu, saya yang paling tua di antara mereka mencoba untuk menggajak dialog teman-teman, termasuk Yudi. Bahkan, meskipun mereka kerap hadir latihan, Yudi masih menjadi sosok aneh yang seringkali diabaikan oleh teman-teman, hanya saya yang mencoba untuk mengajaknya bicara.
Sampai suatu hari, pertanyaan dari seorang kawan sukses membuat butiran bening dari mata redupnya mengalir deras membasahi pipi tirusnya.
Ya, Yudi menangis. Ia bersembunyi di balik tembok kokoh sebuah bangunan TK dekat toilet.

“Pak, Pak, nanti waktu tampil Yudi pakai kostum apa? Tetap jadi laki-laki atau perempuan?” tanya salah seorang di antara kita dengan lugunya.
“Ya... jadi perempuanlah. Nanti Yudi pakai rok.” Jelas pembina saya yang bernama Pak S itu disertai dengan tawa.
“Pakai rok? Yudi pakai rok? Hahahaha.... Yudi pakai rok rek!” Pekiknya dengan nada mengejek, tetapi sukses membuat semua tertawa. Lebih tepatnya menertawakan Yudi yang bergeming saat itu. Ada kesedihan di bola matanya yang sendu.

Sejak saat itu, kami mulai dekat. Entahlah, saat Yudi berlari menjauh dan memilih untuk menyembunyikan laranya, kaki saya juga seolah turut mengikuti dan ingin mengajaknya berbagi kesedihan yang ia rasakan.

Saat itu, saya mencoba belajar mengerti dan memahami posisinya. Menjadi penari ular memang bukan pilihannya, karena latar belakang keluarga yang broken home, kedua orangtuanya divorce, ia terpaksa (lebih tepatnya, maaf dipaksa) oleh keadaan untuk mencari nafkah dengan cara demikian. Hanya itu ketrampilan yang ia punya saat itu, seorang remaja usia kelas 1 SMP yang sedang berproses pencarian jati diri, kemudian krisis identitas atas eksploitasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

Cantik, bulu matanya tebal,  jari-jemarinya lentik, serta gerakan tariannya yang lemah gemulai saat musik dimainkan tak ada yang mengira bahwa ia adalah seorang pria. Laki-laki tulen.

Hingga petang, ingatan itu kembali terkuak. Yudi yang ada di hadapan saya sekarang adalah Yudi yang sudah berusaha untuk menjadi lelaki tulen, meskipun sesekali ia akui kadang-kadang kebiasaan melambainya tiba-tiba hadir secara spontan.

Sebelas tahun ia merantau ke negeri Jiran, kisah hidupnya cukup dramatik. Dari lisannya ia bercerita dengan penuh hikmah, atas segala ujian hidup yang harus ia jalani, masa lalunya yang sempat ia lalui masuk ke lembah hitam, bergaul dengan para LGBT, menjadi anggota sekaligus aktivis membuat ia sadar bahwa hidup ini hanya sebentar. Di akhir ceritanya, ia berpesan bahwa ia ikhlas atas semua ujian hidup ini, asal ia tidak di azab kelak di akhirat nanti.

Tanpa kata, saya bisa merasakan bahwa ada kesungguhan dari tatap matanya yang berenergi, dari kemantapannya menyebut nama Yudi. Doaku mengiringimu Yudi, semoga kau beristiqomah untuk meraih cinta-Nya, hingga beroleh khusnul khotimah. Amin.

Lumajang yang beku, 2 Syawal 1437 H

*Ditulis pada 10 Syawal 1437 H, setiap perjumpaan sejatinya Allah hendak memberikan hikmah di dalamnya, semoga kita semua termasuk orang-orang yang senantiasa berpikir.


0 komentar:

Posting Komentar