Selasa, 16 Januari 2018

Pada LautMu dan Tongkat Musa



Pantai Bambang, Lumajang

Semua apa yang ada di langit dan di bumi tercipta bukan tanpa sebab. LautMu yang membentang luas tak terbatas salah satu bukti kebesaranMu yang mutlak.


Dialog diri dengan hati menyemai tanya menjadi puncak perenungan nan syahdu. Dalam mihrab taat, segenggam iman yang masih koyak terus saja mencoba untuk mencari jawab atas ikhtiar demi ikhtiar hingga puncak tawakkal dengan 'ragu' mengganggu.

"Lima tahun lho!", bisik sisi nurani yang lain. Mencoba mengusik sisi diri yang terus bertarung hingga kemudian keduanya bersepakat: itulah ujian kesabaran. Tentu saja tak terhitung waktu pada seberapa cepat dan lamanya.

Terkisah para anbiya' di zamannya tak luput dari ujian keimanan. Bukan tanpa sebab, semua dalam rangka Allah hendak menggugurkan dosa-dosa kemudian berkenan menaikkan derajat.

Yunus mendekam dalam perut ikan paus. Perbanyak dzikrullah, merendahkan diri serendah-rendahnya dengan berdoa: "Subhanaka inni kuntu minadzholimiin...
Ayyub dengan penyakit yang parah bertambah-tambah. Dengan kesabaran sempurna, meminta sepenuh harap lewat doa2 yang terpanjat, berkhir kebahagian yang sempurna.

Dan tak ketinggalan Musa. Tak serta merta ia begitu saja menggunakan mu'jizat dariNya. Tongkat yang terkisah sanggup membelah lautan yang membentang kemudian membawa Musa dan kaumnya selamat dari kejaran musuh Allah, Fir'aun beserta bala tentaranya.

Tergambar di benak, atas kemudahan yang diperoleh Musa lewat mu'jizat pukulan tongkatnya hingga membelah lautan yang tertolak akal. Bagaimana bisa? Begitulah pertanyaan sebagian besar insan. Disebaliknya betapa Musa dikisahkan dalam kondisi pada puncak ikhtiar dan tawakkal, tak serta merta dari pukulan tongkatnya itu kemudian "bim salabim" membuat bentangan samudra yang luasnya melebihi jarak pandang terbelah begitu saja. Tentu saja tidak, Allah membiarkannya berpeluh dalam puncak ikhtiar pun dalam kisah lainnya yang menyejarah agar diperoleh tadzkirah bagi umat manusia. Termasuk saya, malu rasanya jika masih menyimpan perntanyaan: "Lima tahun lho! Koq bisa ya?"
Astaghfirullahal 'adzim...

Wallahu a'lam bishowab...





0 komentar:

Posting Komentar