Rabu, 17 Januari 2018

Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu [Memaknai Hakikat Menang dan Kalah]



"Menang jadi arang, kalah jadi abu... Menang jadi arang, kalah jadi abu..."🎤🎤


Sebait potongan nada tentang arang dan abu kembali memenuhi nalar. Berpuluh tahun lalu, dalam selembar uang monopoli kalimat penuh makna itu kami temukan, kemudian kami baca keras dan lantang. Seakan menjadi 'prasasti' dalam benak kami, para petarung monopoli sejati. Tak terkecuali, saya. Masya Allah, jika ingat masa-masa itu, kami para generasi Y yang tak tersentuh era gadget di zamannya.

Berangkat dari sini, hiruk pikuk aktivitas beberapa pekan ini membuat bashirah saya tersentak. Beberapa lomba-lomba dalam rangkaian Ramadhan ceria membuat kami para cikgu harus bejibaku menelaah, memilah dan kemudian memilih para anak didik yang siap berlaga. Bagi sekolah kami yang (jarang) berpartisipasi aktif tentu saja hal ini menguras banyak energi, bahkan mungkin air mata... *eh cie mulai deh lebay mode on 😜 

Momentum yang pas, di momen bulan penuh rahmat, ditambah harus berbagi dengan sederet time schedule yang padat. UKK, ujian tahfidz quran, hadits dan doa, belum lagi agenda persiapan ramadhan camp dan pelepasan siswa kelas 6 yang sama-sama menempati ruang prioritasnya masing-masing. Semua menuntut perhatian, kerja keras dan kerja cerdas. Eits...gagal fokus nih. Lanjuuut... Fokus lagi ya! 😁

Masih ke bab arang dan abu tadi. Teringat diri saat masih bocil kala itu. Ngambek jika menjadi pihak yang harus mendapatkan bendera putih, berpasrah menelan pil pahit kekalahan dalam ajang pertarungan permainan monopoli yang sengit. Dan, berakhir pertengkaran setelahnya, bahkan sampai tak bertegur sapa. Hiks... 

Dan, sebait nada yang kita ciptakan kala itu menjadi energi tersendiri untuk kemudian bangkit dari kekalahan. Berjiwa ksatria dan mampu untuk menggangkat wajah penuh rasa ikhlas disertai seulas senyum hangat untuk para pemenang, pihak lawan. Ada hal yang menarik dari sebuah kisah dalam ajang unjuk potensi kali ini. Catatan kecil yang diam-diam saya renungi dan kemudian bergegas ingin berbagi. Terinspirasi kisah seorang gadis cilik yang mengikuti kompetisi dai cilik tingkat kabupaten. Sebelum naik panggung, panitia memberikan pengumuman bahwa peserta diberikan waktu untuk berdoa. Setelah waktu doa selesai, panitia sengaja bertanya ke beberapa peserta tentang doa yang mereka panjatkan. "Menjadi pemenang" Hampir semua jawaban para peserta demikian. Tetapi rupanya ada sesuatu yang menarik dan berbeda dari si gadis yang sedari tadi juga ikut komat-kamit memanjatkan doa. 

Jika yang lain berdoa berharap meraih kemenangan, sebaliknya yang terjadi pada gadis kecil ini. Ianya bertutur dengan santun kepada sang pemilik langit dan bumi, rabb terkasih. Memohon diberikan karunia agar ia tak bersedih jika takdirnya tak memenangi kompetisi. Tak juga bertinggi hati saat ianya menjadi juara sejati. Rendah hati. 


Subhanallah... Menang jadi arang, kalah jadi abu. Semasa itu kami terlalu 'metuek' untuk memaknai hakikat kemenangan sejati. Malam ini, teringat rangkaian kata itu, mencoba untuk berdialog dengan sisi hati. Kalah menang sama saja, begitulah sesungguhnya hakikat kehidupan. Sebagai insan beriman, upaya untuk menemukan tadzkirah dari setiap kejadian dan membaca setiap detail skenarioNya akan membuat kita senantiasa bersyukur, pun dalam posisi kalah sekalipun. 

Tanpa ada bumbu-bumbu ketidaklapangan di sana. Di akhirnya, masih ada pertanyaan menggantung, "Kalau kamu pilih yang mana? Jadi arang atau abu? " Mpliss deh...

Peringatan! : Catatan ini adalah catatan tidak penting, jika ada ketidaknyambungan makna peribahasa abaikan saja.... 😄 

Tjg Selor, 9 Juni 2017

0 komentar:

Posting Komentar