Rabu, 17 Januari 2018

Kekuatan Doa Seorang Mbak Murabbi



"Bun..benarnya teman-temanku banyak lho yang mau ikut majelis, tapi katanya takut", celoteh remaja berparas imut dan manis di hadapanku.

"Takuuut? Emang Bunda 'nggigit' ya mbak, koq takut?" "Bukan begitu sih, maksudnya mereka itu masih belum siap gitu, khawatir nanti ndak jadi diri sendiri, apa-apa serba ndak boleh gitu", jelas remaja satunya yang saya kenal paling keibuan di antara yang lain.

"Oh, gitu...kira-kira yang dipikirkan mereka itu tentang majelis kita yang serba ndak boleh itu yang seperti apa ya, Mbak?", kali ini ku coba pancing dengan pertanyaan umpan.

"Ya gitu deh Bun, takut ndak boleh macem-macem gitu, misalnya bergaul dengan lawan jenis, selfie, ya wes gitulah Bund pokoknya. Jadinya dia memilih untuk menunda dulu untuk ikutan majelis. Gitu Bund", timpal si manis dengan antusias.

Itulah dialog yang sempat saya rekam di kali pertama saya mendampingi mereka, para pelajar belasan tahun itu dalam sebuah forum majelis. "Bismillah, inilah tantangan saya yang sesungguhnya, menjadikan image majelis yang 'serem' menjadi menyenangkan", pekik hati saya.
"Karena Allahlah yang membuat saya yakin bisa, in sya Allah", jerit sudut hati yang lain menguatkan saya.

Memilih menjadi seorang guru bukan tanpa sebab, lima tahun malang melintang di dunia pendidikan tak lantas membuat saya 'kenyang'. Sebaliknya, masih saja diri ini merasa perlu banyak belajar. Mendampingi anak-anak memang perlu 'seni'. Ya, tak sekedar ilmu dan pengetahuan tentang 'peadagogi' semata yang kita dapatkan di bangku kuliah. Tetapi, seni dalam mengambil hati mereka itu yang perlu jam terbang tersendiri. Tak cukup dengan hanya teori. Dulu, dulu sekali saat saya masih menjadi seorang guru (bc : pendidik) di sebuah institusi pendidikan, saya selalu berkesempatan untuk mendampingi anak-anak 'istimewa' (bc : berbeda dengan anak-anak seusianya, baik dalam hal akademik maupun perilaku).

Entahlah, barangkali Allah hendak mentarbiyah saya dengan pilihanNya itu. Khusnudzon saya demikian pada waktu itu. Hingga saya pun selalu optimis menjadikan hal ini sebagai tantangan. Karena dalam kamus saya tak ada anak bodoh dan nakal, semua anak punya hak yang sama untuk saya berikan angka seratus di dahi-dahi mereka sebagai upaya bagi saya untuk tidak memberikan perlakuan yang berbeda dalam hal tertentu.
Demikian juga menjadi pendidik di lingkungan non formal, memberikan tarbiyah bagi anak-anak remaja, pelajar, mahasiswa, sampai ibu-ibu muda adalah 'amanah' yang harus saya jalani sebagai pilihan sadar hingga sekarang.

Lewat sebuah majelis, halaqah atau saya lebih suka menyebutnya dengan 'lingkaran cinta', di sinilah saya belajar banyak hal. Belajar menjadi pemimpin, belajar rendah hati, belajar mengenal berbagai karakter, dan memfirasati masing-masing karakter tersebut menjadi sebuah upaya 'bercermin' atas diri yang masih juga belum sempurna dalam ber-Islam.

Anak-anak, para pelajar dan mahasiwa, serta ibu-ibu muda itu adalah jiwa-jiwa yang punya harapan dan keinginan untuk menjadi sosok manusia yang memiliki kepribadian islami. Tidak lantas dengan mudah kita bentuk seperti membentuk sebuah adonan kue menjadi bentuk kue yang kita inginkan. Karena itu tadi, perlu seni mengambil hati. Majelis atau halaqah juga bukan tempat penghakiman apalagi penghukuman atas perilaku menyimpang dari jiwa-jiwa tadi. Bukan, bukan demikian.

Karenanya saya sangat sedih jikalau ada yang masih menganggapnya demikian. Majelis ini adalah 'lingkaran cinta' untuk para penghuninya. Ada rasa aman dan nyaman serta kerinduan yang dahsyat jika kita sejenak saja tak melingkar. Menjadi seorang murabbi adalah amanah sekaligus ujian, seni mengambil hati ini tentu saja tak terlepas dari kekuatan doa-doa kita kepada sang pemilik hati mereka. Kita hanyalah perantara bagi jiwa-jiwa tadi dalam menjemput hidayahNya. Tidak lebih.

So, rangkul mereka dengan cinta apapun masa lalu, apapun latar belakang, apapun karakter dan masalah mereka, karena kita hadir bersama mereka untuk memberikan cinta bukan sebaliknya. Sudahkah kita membayangkan wajah dan menyebut nama-nama mereka satu persatu dalam setiap doa-doa yang kita lantunkan?

*** "Bunda, ayo kita foto 'grovy' (foto selfi yang bersama-sama), Bun! Boleh kan, Bund?" "Boleh, asalkan posenya sopan dan tetap berhijab ya, Mbak". 
"Mmmuuuaaach...bunda, bunda, bunda emang bunda gaul". "Nah, loh? Trus gue harus bilang woowww gitu?", sambil tepok jidat *** 

Waallahu a'lam bishowab... 

Guru adalah seseorang yang memimpin 
Tidak ada keajaiban dlm pekerjaanku 
Aku tidak berjalan di atas air 
Aku tidak bisa membelah lautan 
Aku hanya... 
Mencintai anak-anak 
~Marva Collins dlm "Chicken Soup for The Teacher Soul"~ 

0 komentar:

Posting Komentar