Selasa, 16 Januari 2018

Hijrah 2

Foto zaman old

Dalam berhijrah sebaiknya kita harus senantiasa memperbaiki niatan kita

Endah Wahyuni. Nama lengkap dari sosok muslimah yang berfoto bersama saya itu. Wajahnya mungkin sekilas ndak asing ya, itu lho mirip ibu ketua BPKK DPD PKS Kota Jember. Benar. Karena sholihah teman saya ini adalah adik kandungnya.

Oh...Kenapa harus ukhti Endah? Kenapa juga saya rela upload foto saya yang masih culun dan ndak ada keren-kerennya blas itu?

Ya, kali ini saya hendak mendongengkan sebuah kisah bahwa dalam berhijrah sebaiknya kita harus senantiasa memperbaiki niatan kita. 

NIAT. Ingat ya lima huruf ini. N-I-A-T, lho kan saya ulang lagi, biar tambah mantap.

Ya, beliau adalah salah seorang yang berjasa dalam proses hijrah saya. Bertemu di sebuah fakultas yang sama, eh bahkan jurusan yang sama tapi beda kelas. Hingga berakhir kami saling mengikrarkan diri untuk menjalin pertemanan.

Maklmumlah,  saya ini terlahir dengan bakat populer, pun di tempat baru siapa sih yang ndak kenal saya. #astaghfirullah... eh tapi serius, karena saat itu dikenal maba yang sok 'vokalis' maka jadilah banyak yang berbondong-bondong pedekate sama saya. #ups...termasuk salah satu omek (organisasi ektrakampus) yang saat itu paling ngehits di kampus, sebut saja H** (sensor) menjadikan saya target yang mereka bidik untuk menjadi kader mereka. Hohoho....

Suatu siang...ukhti Endah ini ngajak saya menempel brosur diklat sebuah omek lain di mading fakultas. Bunyinya DM (Daurah Marhalah) 1, semacam diklat untuk menjaring anggota baru gitu. Sambil bantu nempel, iseng-isenglah baca tuh pengumuman. Eh...lumayan, batin saya. Dibanding omek yg mgehits itu diklat mereka sebut saja K***I ini lebih murah.

Hanya delapan ribu rupiah untuk tiga hari diklat. Ya sudahlah akhirnya dengan disertai promo singkat dari ukhti Endah bahwa saya akan mendapatkan satu tiket gratis kalau saya bisa mengajak minimal tiga orang teman. Siapa takuuut? Semakin bersemangatlah saya waktu itu.

Waktu diklat pun tiba. Fix. Dengan segenap tebar pesona plus rayuan akhirnya saya berhasil mengajak 4 orang teman, genap lima orang bersama saya. Dan itu artinya, saya mendapat satu tiket gratis. Lumayan, di sana bisa dapat banyak teman dan kenalan cowok-cowok keceh...*eh

Tetapi impian tak seindah kenyataan. Di hari kedua teman-teman yang saya ajak akhirnya berguguran. Ada yang pulang karena sakit perut, pun tiga lainnya sepakat menyerang saya dengan alasan yang sama: itu cowoknya keren-keren sih, tapi koq kalau ngomong pake nunduk-nunduk gitu. Trus lagi ndak mau tuh kita ajak salaman, hemm...emang kita najis gitu ya? Wots? Dan, berkahir dengan saya yang masih bertahan sambil cengar-cengir saat ditanyain mbak-mbak sholihah nan baik hati dengan jilbabnya yang berkibar.

"Dek, itu temannya yang tadi ndak sholat shubuh apa sudah pulang? Koq saya ndak kelihatan ya?"
"Eh, iya mbak merek izin sakit," jawab saya sambil menyembunyikan rasa malu yang amat sangat.

Memilih diklat dengan harga paling minimal adalah awal niatan saya kala itu, hingga kemudian di akhir sesi kami dibentuk menjadi kelompok-kelompok kecil yang selanjutnya disebut 'halaqah' untuk kemudian saya perbaharui niat saya. Jika teringat itu rasanya antara pingin nangis dan dan tertawa jadi satu campur aduk.

📸taken by: Mas-mas pemilik kios rokok di daerah jalan Gajah Mada (kalau ndak salah ingat ya) Jember, saat hujan deras mendera kota itu sehingga kami para mujahid/ah yang tergabung dalam K**M*menunda Aksi Mundur di Era Gus. Dur.

0 komentar:

Posting Komentar