Selasa, 16 Januari 2018

Gemuk

Photobooth @ayam geprek Mbok Judes, Toga-Lumajang

Gemuk. Melihat foto diri beberapa karib berceloteh: "Wah, bunda kelihatan gemuk ya." Meski harus diakui bahwa angka pada neraca timbangan masih stagnan berada di angka 41 kilogram, kisaran angka normal berat badan saya dalam satu dekade ini. Kecuali saat mengandung,  berat badan saya mencapai 47 kilogram, kenaikan yang sangat signifikan sepanjang hidup saya dan tak pernah terulang sampai sekarang.

Memang bagi para emak-emak seperti saya (kcl saya sih yg paling cuek dg masalah ini) masalah berat badan dan jerawat adalah hal yang paling seru untuk dibahas. Bahkan sampai sekarang, beberapa produk pelangsing badan dan krim pemutih disinyalir menjadi produk paling laris. Buktinya, produk-produk tersebut tak pernah sepi pembeli. Kasihannya para emak ini ya... Gemuk atau kurus? Mana yang lebih ideal? Bagi saya bukan soal gemuk atau kurusnya. Tetapi pada bahagia dan syukurnya. Suatu saat, pernah sih ingin punya berat badan ideal, yg kalau dari hasil tes kebugaran berat badan ideal itu katanya disesuaikan dengan tinggi badan.

Nah, kalau saya mah katanya terlau kurus. Dan, keinginan menggebu  punya berat ideal saat itu lebih karena pak sua 'ngebet' biar tidak dituding jadi suami yang tak bisa merawat anak istri, secara dari ketiga penghuni rumah, beliaulah yang tumbuh subur melampaui kami anak istrinya. Wkakakakkak...

Hingga karena semangatnya pak sua sempat memprogramkan istrinya ini untuk punya berat badan ideal. Targetnya: nambah timbangan berat badan. So, hampir tiap malam saya harus konsumsi makanan berkalori seperti nasgor dan sebatang coklat yang harus habis malam itu juga. Hasilnya? Saya malah tersiksa.

Bukannya nambah berat badan, pasca sepekan saya menjalankan program ini saya jatuh sakit dan berujung berkurangnya timbangan. Ealah... Makanya bersyukur sajalah dengan apa yang sudah dikaruniakan Allah pada kita ya. Gemuk atau kurus? Yang penting bahagia.

Wallahu a'lam bishowab...

0 komentar:

Posting Komentar