Selasa, 16 Januari 2018

GAPURA


Gapura (baca: gapuro-jawa) masih
sependek ingatan yang terpanggil dalam benak adalah pintu utama sebuah rumah yang barangkali masih ada hubungannya dengan sejarah kerajaan Majapahit dalam sejarah Bumi Lamadjang. Hingga bumi yang pernah dimandegani oleh Arya Wiraraja ini beberapa bangunannya masih didominasi aneka gapura. Bisa juga disebut pintu gerbang dari sebuah rumah.
Hanya saja kali ini saya tidak sedang akan membahas arsitektur peninggalan kerajaan Majapahit beserta tetek bengeknya. Sebaliknya dengan penuh kesadaraan saya sedang mentadabburi predikat diri yang sudah terhitung sekian abad menjadi seorang muslimah. Bermuhasabah atas syahadat sebagai pintu gerbang awal masuknya seseorang ke dalam agama Islam.

Lalu pertanyaannya, sudah sempurnakah syahadat saya? Meski berIslam karena nasab tidak kemudian merasa diri sudah layak (lebih tepatnya merasa layak) menjadi penghuni surga. Sungguh tidak. Bahkan jauuh dari itu semua. Masih harus selalu mencurigai diri yang alpa lagi hina dina ini.

Syahadatain, betapa pentignya hingga menjadi sebuah 'pintu gerbang' masuknya kita ke dalam Islam. Esensinya tak hanya sebuah ikrar atas komitmen dalam berIslam semata, dianya dibersamai dengan keyakinan dalam hati dan kerja seluruh tubuh dalam bingkai amal perbuatan sebagai wujud dari keimanan. Hingga kemudian menghujam dalam diri selayaknya dalam sebait firmannya yang suci:
"walladziina hum bisyahadatihim qaaimuun"
(Dan mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada kesaksiannya)

Semoga kita termasuk satu di antaranya. Aamiin...

Wallahu a'lam bishowab...

0 komentar:

Posting Komentar