Selasa, 16 Januari 2018

Cita-cita (Kids Zaman Old)


Adakah yang lebih keren dari menjadi dokter dan astronot? Dua cita-cita kids zaman old itu barangkali paling hits kala itu. 

Seperti youtuber dan selebgram, cita-cita yang mendadak 'booming' di kalangan kids zaman now. Tak terkecuali bocil saya yang belum genap sepuluh tahun, sudah mulai ikut-ikutan komen gaya nitijen ala jamaah micin.

Sama seperti saya saat itu. Demi sebuah harga diri menjadi anak zaman old saya rela menggadaikan diri sendiri dengan memakai topeng kepalsuan. Hingga ketika tanya demi tanya yang hadir adalah celoteh tanpa jeda bahwa bercita-cita menjadi dokter adalah cita-cita paling bermartabat. Bonus senyum dan rupa-rupa pujian di zamannya. Ah...kalau mengingat masa itu ingin rasanya kembali memutar waktu, meminta bantuan Doraemon dan mengambil pintu kemana saja dari kantong ajaibnya. Tapi, itu dulu...

Adalah saya, seorang anak pemalas yang suka berimajinasi punya cita-cita menjadi 'pembual' sejati. Hehehe... Bagaimana bukan pembual jika anak seusianya giat mengatakan dirinya calon dokter, insinyur, astronot, polisi, guru, bidan, perawat dan deretan cita-cita pada umumnya tidak dengan saya. 'Aneh' barangkali itulah  predikat yang cocok disandangkan untuk saya. Meski orang-orang dewasa kala itu tak ada yang tahu cita-cita yang saya pendam dan simpan rapat.

Buku-buku cerita, novel, pun majalah anak-anak seusinya yang saya habiskan dalam remang ruang kamar yang berdebu menjadikan saya sosok yang kutu buku (kata teman-temanku dulu). Menjadi 'asosial' dengan lingkungan sekitar, pun semut yang keinjak meringis kesakitan saja saya tak pedulikan. #ooooh....judesnya
Mengurung diri di kamar dengan buku berserakan adalah sebuah kenikmatan. Sejak saat itu, saya harus rela mengubur cita-cita saya dalam-dalam.

Namun, siang ini
Hamparan sawah...
Semilir bayu...
Pun gemericik yang tercipta
Menjadi orkestra kehidupan yang saya damba.

Cita-cita saya sederhana saja:
Menjadi teman awan dan gemintang di langit sana. Menjadikannya abadi dalam tulisan.

Hanya saja berpasang mata selalu mengatakan: "Hentikan bualanmu!"
Hingga sajak pertama tercipta saat saya menjadi mahasiswa sastra Indonesia berbalik seratus delapan puluh derajat.

Hingga kemudian tak perlu mengantongi restu untuk memiliki cita-cita bermartabat. Cukup satu: buktikan dengan banyak berbuat. Titik.

Wallahu a'lam bishowab...

Dalam episode membersamai para FLP lovers dalam writing traveller. 

0 komentar:

Posting Komentar