Kamis, 18 Januari 2018

Cinta Sang Pejuang Pena

Serah terima SK Ketua FLP Cab. Lumajang oleh Ketua FLP Wil. Jatim

Menatap beku SK (baca: Surat Keputusan) yang meringkuk pasrah di meja kamar saya yang kaku. Malam itu, mata saya tak sanggup terpejam, betambah lagi amanah, berarti bertambah pula tanggung jawab yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapanNya. Dalam episode yang sama peristiwa ini terjadi sepuluh tahun silam, saat diri ini harus memikul amanah menjadi kepala suku organisasi kepenulisan yang bervisi pencerahan, Forum Lingkar Pena (FLP).

SK kepengurusan itu seolah mengajak saya untuk membuka lembaran kisah lama yang barangkali saat itu 'gagal' saya maknai dengan hati nurani terdalam. Bergabung dalam Forum Lingkar Pena, bagi saya, seorang mahasiswa jurusan Sastra Indonesia semester tiga waktu itu adalah sebuah puncak pencapaian idealisme yang sempurna. Setelah dua tahun menjadi anggota FLP Cabang Malang, meski tergolong anggota yang jarang hadir, di tahun 2005, entah bagaimana awalnya hingga kemudian saya didaulat menjadi pucuk pimpinannya. Dengan sangat 'terpaksa', akhirnya saya harus mengemban amanah sebagai ketua umum pertama FLP Ranting Universitas Negeri Malang (UM).

Ketua yang 'gagal' begitu berulang-ulang saya katakan jika saya kebetulan diundang di acara-acara FLP setahun setelah saya lengser dari kepengurusan. Bukan tanpa sebab, karena hingga di akhir kepengurusan saya tak juga punya karya untuk dibukukan. Ah, malunya tak terkatakan

"Ketua FLP ndak punya buku? Kasihan deh lu!",

ratap saya dalam hati pada diri sendiri. Meski saat itu mendapat 'back up' langsung dari dosen jurusan sebagai pembina, tak begitu signifikan mempengaruhi ritme goresan demi goresan pena saya untuk menjadi seorang penulis produktif, dengan karya layak jual. Sungguh menyedihkan, balada ketua FLP UM yang gagal. Hingga kemudian kata itu seolah menguap menjadi katarsis atas cita yang melangit harap menjadi seorang penulis terkenal.

Namun, setelah satu dasawarsa saya lewati, entah mengapa Allah skenariokan lagi untuk berada dalam barisan para pejuang pena ini. Bermula dari ide untuk menggagas sebuah komunitas pecinta sastra di kota Pisang, Lumajang. Ide ini kemudian kami (saya yang pernah punya pengalaman di FLP dan beberapa teman yang aktif dalam forum majelis pekanan) realisasikan dalam bentuk kegiatan diskusi sastra bertajuk bincang sastra dengan memilih satu di antara sekian novel 'best seller' milik mbak Asma Nadia yang diharapkan dapat menarik kehadiran para pecinta sastra di Lumajang. Jadilah, novel Cinta di Ujung Sajadah menjadi bahan bincang sastra kami malam itu. Seru, lucu, sekaligus menjadi awal perkenalan kami dengan para peserta yang hadir saat itu yang otomatis juga didaulat menjadi pengurus dari keluarga besar FLP Cabang Lumajang.

Dari pertemuan itu, berkumpul sepuluh orang yang mayoritas perempuan. Kami beharap pertemuan ini tak hanya menjadi ajang silaturahim saja, tetapi lebih dari itu, akan menjadi sebuah 'embrio' terbentuknya Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Lumajang. Dan, alhamdulillah harapan itu terwujud, hingga di penghujung bulan September yang lalu FLP Cabang Lumajang lahir. Dan, lagi-lagi Allah skenariokan saya menahkodahi bahtera organisasi ini lewat 'penunjukan' secara aklamasi bersama sepuluh awak pengurus yang terbagi dalam bidang-bidang, alasannya sederhana hanya karena saya punya 'sedikit' bekal, yakni pernah menjadi ketua yang 'gagal'. Hahahaha...

Membersamai FLP membuat saya semakin bersyukur atas skenario Allah yang maha indah. Bahkan, hingga saat ini lidah saya seakan masih kelu, tak sanggup mengeja makna demi makna atas limpahan nikmat berupa kesempatan berada dalam barisan pejuang pena di sisa usia saya yang tak lagi muda. Berharap beroleh kemanfaatan yang barokah untuk bekal pulang nanti.

FLP yang saya kenal memang beda. Beda, karena di sini saya tak hanya dibekali untuk sekedar menjadi penulis yang produktif, terkenal, dan penghasil karya-karya besar. Tetapi juga dibekali banyak nilai plus yang yang lain.

Plus dakwah, plus kerja sama, plus saudara, dan plus-plus yang lain, hingga kadang FLP diplesetkan menjadi singkatan dari Forum Lingkar Plus.


Heheheh, serunya ini nih yang bikin selalu rindu menggebu tak ada duanya.

Aktifitas menulis dan berdakwah di FLP tak bisa dipisahkan, keduanya seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Menulis, bagi saya bukan hanya kegiatan menuangkan ide, tetapi keselarasan antara pikir dan hati yang saling menerjemahkan. Karenanya, di antara keduanya dibutuhkan harmoni. Sementara harmoni ini tercipta dari pena-pena mujahid/ah sebagai wujud ekspresi kejujuran jiwa hingga menghasilkan goresan bermakna dari tinta-tinta cinta yang mengejawantahkannya. Hanya di sini, di Forum Lingkar Pena inilah saya temukan definisi tentang menulis yang berbeda. Lewat tinta cinta yang harmonis ternyata akan menghasilkan tulisan yang tak hanya mencerahkan tetapi akan menjadi perantara bagi jiwa-jiwa yang haus akan pencarian pada cintaNya yang sempurna. Tak berlebihan jika kemudian untuk kesekian kalinya saya harus jujur pada hati nurani saya, dan saya katakan kepadanya (FLP) bahwa ah... "Saya sunguh jatuh cinta".

Cerpen ini dimuat pada Antologi Kisah Inspiratif FLP Jawa Timur: Istana Yang Dibangun Dari Kata-Kata (2016. Sidoarjo: Syams Media).

This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar