Selasa, 16 Januari 2018

Cinta Ayah dan Refleksi Muwashofat Kader


Ayah senang mengarahkan kami dengan cara tidak langsung agar apa yang kami lakukan itu tumbuh dari diri kami sendiri, bukan dari perintah ataupun tekanan.

Salah satu kutipan dari sebuah buku yang paling saya nanti untuk tak hanya menghuni rak buku di rumah, tetapi sebaliknya memberikan pencerahan bagi si kepala sekaligus suplemen hati untuk merefleksi diri.

Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, betapa nama beliau tak hanya mendunia, smg juga mengakhirat. Ada kesan yang begitu mendalam pada sosoknya sebagai tokoh sekaligus pendiri jamaah ikhwanul muslimin kala itu.

Sebagai tokoh  sekaligus pucuk pimpinan organisasi pergerakan Islam tak sedikitpun mengurangi perannya sebagai seorang ayah bagi kedelapan putra-putrinya. Sang penulis kisah ini-Lili Nur Aulia pun juga sedang memaparkan sebuah fakta kehidupan keluarga Imam Asy Syahid Hasan Al Banna dari sudut yang berbeda.

Di tengah fenomena generasi kita yang sedang mengalami krisis identitas, beliau seolah mengajak kita untuk bersama-sama kembali ke rumah. Apapun kesibukan kita sebagai orang tua, terutama: Ayah.

Benar saja, meski putra-putri mereka ditinggal wafat dalam kondisi masih belia tetapi mereka semua sukses menajdi 'orang' bahkan salah satunya menjadi penerus estafet dakwah di tubuh jamaah IM. Wafa, putri sulungnya masih berusia 17th saat beliau wafat juga memberi kesan mendalam pada kepemimpinan sang ayah di dalam keluarga terutama bab keteladanan yang begitu ia bisa petik sampai sekarang.

Di beberapa sub bab juga diceritakan dengan detail bagaimana seorang Hasan Al Banna yang memikul beban berat amanah dakwah di luar sana, tetapi ia tetap memiliki komitmen untuk kembali ke rumah: memberikan pendidikan dan pengasuhan untuk putra-putrinya. Luar biasa 👍#semoga Allah melimpahkan rahmat dan karuniaNya...aamiin...

Membaca buku ini seolah saya kemudian diminta untuk melakukan refleksi terutama bab muwashofat ke-kaderan saya yang harus terus dicurigai. Tidak sedang beropini tentang sebuah kesempurnaan, hanya saja ini bagian dari muhasabah dari idealisme yang ingin jamaah ini capai.

Saya sejenak berhenti di bagian Bingkai Cinta Ayah dan Anak,khususnya pada sub bab Mau Tahu Tentang Masa Kecilku? Benar adanya. 10 Muwashofat kader yang saat ini sedang kita genggam dan kita upayakan untuk mencapainya sungguh-sungguh dicontohkan secara riil dan detail oleh beliau.

Yang paling terlihat pada sub bab ini adalah refleksi tentang muwashofat ke delapan putra-putrinya. Ya. Beliau dengan detail mencatat tanggal dan sejarah kelahiran, nomor kelahiran, jadwal pemberian obat dan makanan, surat keterangan dokter, keterangan atau catatan tentang kondisi sakit secara detail, ijazah anak-anak, dan catatan seputar prestasi anak-anak do sekolah. Semua ini dengan rapi disimpan dalam map arsip tersendiri. Masya Allah...

Lalu? Seolah telunjuk ini langsung menunjuk kepada diri yang lemah lagi berlumur dosa ini. Berdiri mengambil cermin hati, merefleksi diri, mencoba untuk memulai dari awal lagi bahwa,

Menjadi kader bukanlah sebuah puncak prestasi, tetapi sebaliknya ianya adalah karunia sekaligus amanah yang kelak dimintai pertanggungan jawab oleh ilahi rabbi, Dzat penggenggam hati.

Wallahu a'lam bishowab...

#refleksikaderzamannow#akudandakwah#muhasabah
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar